Suarapantura.com – Jenazah Surakman alias Sukarman (60), anak buah kapal (ABK) KM Arupadhatu I asal Carita, Pandeglang, Banten, yang sebelumnya dilaporkan hilang saat mengantar lima jurnalis untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, telah ditemukan di pesisir Desa Kahyapu, perairan Pulau Enggano, Bengkulu.
Kepastian identitas Surakman diperoleh melalui hasil pencocokan DNA. Informasi tersebut diumumkan pada Rabu, 23 September 2026.
Jenazah Surakman pertama kali ditemukan warga pada Sabtu sore, 12 September 2026. Saat ditemukan, jasad tersebut tidak dilengkapi identitas.
Lokasi penemuan berada sangat jauh dari titik terakhir kapal KM Arupadhatu I dilaporkan hilang kontak. Jasad diduga terbawa arus laut dari kawasan Selat Sunda hingga mencapai perairan Bengkulu.
Seorang sumber kepolisian yang enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa hasil pemeriksaan DNA menunjukkan kesesuaian dengan Surakman.
“Dari DNA, bang. Persamaan dengan korban ABK Sukarman,” sebut sumber kepolisian tersebut, Rabu, 22 September 2026.
Menurut sumber tersebut, jenazah saat ini masih berada di Bengkulu. Tim Polairud direncanakan menjemput jenazah untuk kemudian dipulangkan kepada pihak keluarga.
“Jenazah di Bengkulu, rencana diambil Polair,” katanya.
Hilang Saat Antar Lima Jurnalis Meliput Erupsi Anak Krakatau
Surakman dilaporkan hilang kontak bersama rombongan KM Arupadhatu I pada Senin, 7 September 2026. Kapal tersebut saat itu membawa lima jurnalis yang hendak melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
Dalam peristiwa tersebut, terdapat delapan orang yang berada dalam kapal, terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal.
Lima jurnalis tersebut yakni M Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus atau Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Sementara tiga kru kapal terdiri dari Warta atau Surahman selaku kapten kapal, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Ratusan Kali Berlayar ke Anak Krakatau
Surakman dikenal telah lama menjalani kehidupan di wilayah laut. Ia disebut telah menjadi nelayan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sebagai kru KM Arupadhatu I, Surakman juga telah ratusan kali melakukan pelayaran menuju kawasan Gunung Anak Krakatau maupun Ujung Kulon.
Penemuan jenazah Surakman di perairan Pulau Enggano menambah informasi dalam proses pencarian korban KM Arupadhatu I yang hingga kini masih berlangsung.
Hingga saat ini, aparat gabungan bersama pihak terkait masih memantau keberadaan tujuh korban lainnya yang belum ditemukan, terdiri dari lima jurnalis dan dua kru kapal.