Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

John Herdman Bangun Identitas Agresif Timnas Indonesia

M teguh•

Suarapantura.com - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memaparkan arah permainan yang ingin dibangun bersama skuad Garuda. Dalam wawancara eksklusif bersama KOMPAS.com di Jakarta pada Jumat (16/10/2026), pelatih asal Kanada tersebut menjelaskan bahwa identitas permainan harus lahir dari pemahaman terhadap pemain, rancangan taktik, serta persiapan fisik yang berjalan beriringan.

Herdman membagi pendekatannya ke dalam tiga konsep. Pertama, whyness atau mengapa, yang berarti memahami manusia di balik tim. Kedua, whatness atau apa, yang berkaitan dengan model permainan dan kemampuan teknis. Ketiga, howness atau bagaimana, yang menyangkut periodisasi taktis dan periodisasi fisik. Menurutnya, pelatih harus berada pada titik temu yang tepat di antara ketiga unsur tersebut.

Alih-alih terus meniru pelatih lain, Herdman menegaskan keinginannya membangun identitas sendiri. Ia mengaku pernah mengamati banyak pelatih, mempelajari pendekatan mereka, lalu mengambil berbagai gagasan untuk mengembangkan konsep kepelatihannya. Pada usia 32 atau 33 tahun, ia memutuskan tidak lagi menjadi pelatih peniru dan mulai merumuskan gaya permainan yang benar-benar mencerminkan pemikirannya.

Gaya tersebut dikenal dengan rumus ADD + A, yaitu agresif, dinamis, langsung atau direct, dan adaptabel atau mudah beradaptasi. Prinsip itu dirancang agar tim mampu menyesuaikan pendekatan selama pertandingan maupun dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Herdman menekankan bahwa konsep tersebut berlaku saat menguasai bola maupun tidak menguasai bola.

Taisei Marukawa Dikabarkan Segera Jadi WNI, Timnas Indonesia Bisa Punya Pemain Baru dalam Dua Pekan
Baca Juga · Olah Raga
Taisei Marukawa Dikabarkan Segera Jadi WNI, Timnas Indonesia Bisa Punya Pemain Baru dalam Dua Pekan

Menurut Herdman, tidak ada istilah bertahan dalam kerangka tersebut. Tim selalu berusaha agresif, memasang jebakan, dan menekan lawan, bahkan ketika bola berada dalam penguasaan lawan. Tujuannya adalah menanamkan pola pikir proaktif kepada para pemain sehingga inisiatif permainan tidak hilang dalam situasi apa pun.

Penerapan gaya agresif itu menghadapi tantangan tersendiri. Herdman menyebut kondisi di Jakarta dapat menyulitkan pemain yang berbasis di Eropa untuk menjaga intensitas. Bersama Cesar Meylan selaku kepala performa tim, ia tengah memeriksa data pertandingan Timnas Indonesia, termasuk penurunan performa yang terlihat sekitar menit ke-25. Temuan tersebut menjadi perhatian agar gaya agresif, dinamis, dan langsung dapat dipertahankan selama 90 menit lebih.

Herdman ingin Timnas Indonesia bergerak keluar dari gaya bertahan dan serangan balik menuju tingkat proaktivitas yang lebih tinggi. Namun, ia menegaskan proaktivitas itu bukan tiki-taka atau gaya permainan Spanyol. Alasannya, pemain yang dibesarkan di Belanda serta pemain yang lahir dan besar di Indonesia tidak dibesarkan dalam budaya permainan tersebut.

Baca Juga · Olah Raga
Timnas U-15 Kalah 1-5 dari Prancis, Garuda Muda Lanjutkan Laga Klasifikasi Piala Dunia U-15

Perbedaan latar belakang pembinaan menjadi bahan evaluasi. Herdman menilai pemain yang berkembang di Eropa memiliki pemahaman taktis yang tinggi, sedangkan pemain yang dibentuk di Indonesia mempunyai kebebasan berekspresi yang kuat. Pemahaman atas kedua karakter itu diperlukan untuk menyusun gaya bermain yang sesuai dengan komposisi skuad Garuda.

Strategi juga harus berubah sesuai kekuatan lawan. Melawan Jepang atau Korea Selatan, misalnya, membutuhkan pertimbangan berbeda dibandingkan menghadapi tim dengan kekuatan yang lebih seimbang. Ketika kualitas lawan lebih unggul, Herdman ingin mencari pendekatan yang dapat mengganggu pola permainan lawan, termasuk melalui situasi yang ia gambarkan sebagai chaos atau kekacauan, mirip gaya perang gerilya.

Ia menggunakan perumpamaan bahwa tim yang bukan singa tidak dapat melawan singa dengan cara singa. Tim harus menemukan gaya berbeda. Meski demikian, ia berjanji tidak akan membuat Timnas Indonesia hanya bertahan di sekitar kotak penalti sendiri selama 90 menit sambil berharap pada situasi bola mati.

Baca Juga · Olah Raga
Pekan 8 Super League Dibuka Dua Laga: Java United vs Bhayangkara, Persebaya vs Persijap

Menurut Herdman, identitas permainan yang stabil tetap bisa dibangun, tetapi penerapannya harus fleksibel. Perpindahan dari laga melawan Jepang, lalu Qatar, kemudian Thailand, menuntut tiga pendekatan yang berbeda karena karakter lawan tidak sama. Itulah, menurutnya, tantangan sepak bola internasional: membangun identitas yang jelas sekaligus memastikan gaya tersebut dapat diterapkan secara efektif sesuai karakter pemain, kondisi fisik, dan tingkat kekuatan lawan.

Sumber: KOMPAS.com dan SuaraGarut.id.

Tags:
#timnas indonesia#john herdman#sepak bola#pssi
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…