Suarapantura.com - Kontingen Indonesia menutup kiprahnya di Asian Para Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang, dengan finis di peringkat kedelapan klasemen akhir. Merah Putih membawa pulang 73 medali yang terdiri atas 15 emas, 21 perak, dan 37 perunggu, setelah ajang tersebut resmi berakhir pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Capaian itu jauh melampaui target yang dipatok sebelum keberangkatan. Kontingen yang berkekuatan 103 atlet di 12 cabang olahraga itu hanya ditarget meraih tujuh emas, delapan perak, dan 17 perunggu. Realisasi di Nagoya berarti jumlah emas lebih dari dua kali lipat target, sementara total medali mencapai lebih dari dua kali lipat dari 32 medali yang direncanakan.
Perolehan Indonesia sejatinya sudah melampaui target sejak sebelum penutupan. Hingga Jumat malam, 23 Oktober 2026, kontingen sudah mengoleksi 14 emas, 20 perak, dan 37 perunggu. Pada hari terakhir, satu emas dan satu perak tambahan menggenapkan torehan akhir menjadi 15 emas dan 21 perak, dengan jumlah perunggu tetap 37 keping.
Sejumlah atlet muda menjadi sorotan dalam keberhasilan tersebut. I Kadek Dwi Purwana Yasa yang baru berusia 18 tahun meraih emas lempar cakram F57 dengan lemparan 49,75 meter, sekaligus mempertajam rekor dunianya sendiri di kelas tersebut. Di kolam renang, perenang muda Abdil Majid Rahman yang berusia 17 tahun turut menyumbang emas, bersama Maulana Rifky Yavianda. Perenang senior Jendi Pangabean yang meraih perak di Nagoya menilai kemunculan para perenang muda itu sebagai tanda regenerasi yang berjalan baik.
Setiba di Tanah Air bersama kontingen di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Boyolali, Chef de Mission Reda Manthovani menyebut keberhasilan 15 emas Indonesia sejalan dengan misi keempat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yakni meningkatkan prestasi olahraga dan memperkuat peran penyandang disabilitas. Ia menyampaikan capaian tersebut berkat kolaborasi yang solid antara NPC Indonesia, atlet, pelatih, dan seluruh pendukung.
Reda juga menegaskan bahwa capaian di Nagoya diraih di tengah keterbatasan, karena cabang para catur yang menjadi salah satu lumbung emas pada edisi Hangzhou 2022 tidak dipertandingkan di Nagoya. Meski demikian, para atlet muda dan debutan tetap mampu tampil hingga level Asia, bahkan dunia, di berbagai cabang.
Ke depan, fokus kontingen beralih ke dua agenda besar berikutnya, yakni ASEAN Para Games 2027 di Kuala Lumpur, Malaysia, dan Paralimpiade 2028 di Los Angeles, Amerika Serikat. Reda mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga, memperpanjang program pemusatan latihan nasional. Menurutnya, pelatnas tiga bulan menuju Nagoya belum cukup, dan dibutuhkan setidaknya enam bulan persiapan untuk menjaga konsistensi prestasi.
Sumber: Nabamart, Jawawa/ANTARA.