Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Memetik Pelajaran dari Al-Kindi: Kesuksesan Diperjuangkan, Bukan Ditunggu

Tim Suara Pantura 02•
Rahmah

 

SuaraPantura.com - Di tengah riuhnya peradaban Islam abad ke-9, muncul sosok cerdas bernama Abu Yusuf Ya'qub bin Ishaq Al-Kindi.

Lahir dari keluarga bangsawan Arab dari suku Kindah, Al-Kindi tumbuh sebagai pemuda yang tidak hanya mencintai ilmu, tetapi juga membawa angin perubahan bagi dunia intelektual Islam.

Jabal Al-Rahmah dan Maknanya bagi Jemaah Haji
Baca Juga · Rahmah
Jabal Al-Rahmah dan Maknanya bagi Jemaah Haji

Al-Kindi, dikenang sebagai filsuf Muslim pertama yang berhasil menjembatani pemikiran Yunani dan Islam. Yang membuatnya istimewa bukan hanya kecerdasan, tetapi juga keberaniannya dalam berpikir terbuka.

Pada masa ketika filsafat asing dianggap asing atau bahkan berbahaya, ia justru mempelajari dan menerjemahkan karya-karya para filsuf Yunani seperti Aristoteles dan Plotinos ke dalam bahasa Arab. Tidak sekadar menerjemahkan, tetapi juga menyesuaikannya dengan nilai-nilai Islam.

Masjid Agung Tegal Gelar Program Tahfidz Gratis untuk 500 Santri
Baca Juga · Rahmah
Masjid Agung Tegal Gelar Program Tahfidz Gratis untuk 500 Santri

Al-Kindi tertarik pada ilmu jiwa manusia. Ia membagi kekuatan jiwa menjadi tiga: nafsu, amarah, dan akal. Dalam pandangannya, akal seharusnya menjadi pengendali utama. Tanpa kendali akal, manusia akan jatuh dalam amarah dan nafsu atau berarti hidup tak ubahnya seperti binatang.

Salah satu kutipan terkenal yang dapat dipetik dari gagasan Al-Kindi berbunyi: "Setiap keberhasilan adalah hasil dari kerja keras dan ketekunan,"

Baznas Brebes Salurkan Bantuan untuk 3.000 Keluarga Prasejahtera
Baca Juga · Rahmah
Baznas Brebes Salurkan Bantuan untuk 3.000 Keluarga Prasejahtera

Hal itu mencerminkan pandangannya, tentang tak adanya jalan pintas menuju kesuksesan. Kejayaan, dalam pandangannya, bukanlah warisan atau keberuntungan, melainkan buah dari kerja keras dengan keikhlasan hati dalam menjalaninya.

Kutipan tersebut juga menunjukkan sisi humanis seorang Al-Kindi. Di balik pikirannya yang brilian, ia tetap percaya pada nilai-nilai yang sederhana. Pada masa kini tetap relevan, bahkan lebih dari seribu tahun setelah Al-Kindi menuliskannya.

Hari ini, nama Al-Kindi mungkin tidak selalu disebut di ruang-ruang kelas. Padahal, bila dunia mengenang tokoh-tokoh filsuf muslim sebagai pelopor kemajuan ilmu, maka Al-Kindi sudah lebih dulu merintis jalan itu dalam dunia Islam.***

Tags:
#abu yusuf#kerja keras#filsuf muslim#abu yusuf al kindi
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…