Apa Itu Thudong? Tradisi Biksu Jalan Kaki Sambut Waisak
Isabella Aluna Zahira•
Sejarah
Menjelang Hari Raya Waisak, masyarakat Indonesia sering melihat rombongan biksu berjalan kaki melintasi berbagai daerah menuju Candi Borobudur. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Thudong, sebuah praktik spiritual dalam ajaran Buddha yang mengandung nilai kesederhanaan, disiplin, dan pengendalian diri.
Dalam beberapa tahun terakhir, ritual ini semakin mendapat perhatian publik karena para biksu rela menempuh perjalanan ribuan kilometer demi menyambut perayaan Waisak. Tidak hanya umat Buddha, masyarakat lintas agama pun ikut menyambut perjalanan mereka dengan penuh penghormatan.
Lalu, sebenarnya apa itu Thudong dan mengapa tradisi ini begitu penting dalam ajaran Buddha?
Pengertian Thudong dalam Tradisi Buddha
Thudong merupakan praktik perjalanan spiritual yang dilakukan para biksu atau bhikkhu dengan berjalan kaki dalam jarak jauh. Tradisi ini berasal dari praktik asketisme dalam ajaran Buddha Theravada yang menekankan hidup sederhana dan menjauh dari kemewahan duniawi.
Istilah “Thudong” berasal dari bahasa Thailand yang merujuk pada praktik pertapaan atau latihan spiritual. Dalam pelaksanaannya, para biksu biasanya membawa perlengkapan sederhana seperti:
Jubah biksu
Mangkuk pindapata untuk menerima makanan
Payung atau tenda sederhana
Perlengkapan secukupnya
Tradisi ini sudah berlangsung selama lebih dari 2.500 tahun sejak masa Buddha Gautama. Menurut sumber Access to Insight dan sejumlah penjelasan dari Kementerian Agama RI, Thudong menjadi bagian dari latihan spiritual untuk membentuk ketahanan batin dan melatih kesabaran.
Tujuan Ritual Thudong
Thudong bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga bentuk latihan mental dan spiritual. Para biksu menjalani perjalanan dengan penuh disiplin sambil mengurangi keterikatan terhadap kenyamanan duniawi.
Melatih Kesederhanaan
Selama perjalanan, para biksu hidup dengan fasilitas terbatas. Mereka makan secukupnya dan beristirahat di tempat sederhana seperti vihara atau lokasi persinggahan yang disediakan masyarakat.
Perjalanan jauh dengan berjalan kaki membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Kondisi cuaca, rasa lelah, hingga keterbatasan fasilitas menjadi bagian dari latihan pengendalian diri.
Mendekatkan Diri pada Nilai Dharma
Dalam ajaran Buddha, hidup sederhana dianggap sebagai cara untuk memahami nilai dharma dan mencapai ketenangan batin.
Menyambut Hari Raya Waisak
Di Indonesia, ritual Thudong biasanya dilakukan menjelang perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur, Magelang.
Perjalanan Thudong ke Borobudur
Tradisi Thudong di Indonesia beberapa kali menarik perhatian publik karena para biksu berjalan kaki dari luar negeri menuju Borobudur.
Pada pelaksanaan Waisak 2025, puluhan biksu dari Thailand, Malaysia, Singapura, Kamboja, Amerika Serikat, dan Indonesia melakukan perjalanan panjang menuju Magelang. Sebagian peserta bahkan berjalan dari Bangkok sejauh ribuan kilometer.
Sepanjang perjalanan, masyarakat dari berbagai daerah memberikan dukungan berupa:
Minuman
Buah-buahan
Obat-obatan
Tempat beristirahat
Fenomena ini menunjukkan tingginya toleransi dan rasa hormat antarumat beragama di Indonesia.
Meski tetap mempertahankan nilai spiritualnya, pelaksanaan Thudong saat ini mengalami beberapa penyesuaian.
Dahulu
Pada masa awal ajaran Buddha, para biksu biasanya:
Tinggal di hutan atau gua
Berjalan dari desa ke desa
Tidak memiliki tempat tinggal tetap
Menghindari keramaian
Sekarang
Saat ini, para biksu yang menjalankan Thudong dapat:
Singgah di vihara
Mendapat pengawalan keamanan
Beristirahat di lokasi yang telah disiapkan
Memanfaatkan bantuan medis bila diperlukan
Meski begitu, esensi kesederhanaan dan disiplin spiritual tetap dipertahankan.
Nilai Kehidupan dari Tradisi Thudong
Tradisi Thudong tidak hanya memiliki makna religius bagi umat Buddha, tetapi juga menyimpan pelajaran universal yang relevan bagi kehidupan sehari-hari.
1. Hidup Sederhana
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, Thudong mengajarkan pentingnya hidup secukupnya dan tidak berlebihan.
2. Ketekunan dan Konsistensi
Perjalanan ribuan kilometer membutuhkan komitmen tinggi. Nilai ini bisa diterapkan dalam pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan pribadi.
Masyarakat Indonesia yang ikut membantu para biksu menunjukkan bahwa toleransi dapat tumbuh melalui tindakan sederhana.
4. Pengendalian Diri
Tradisi ini juga mengingatkan pentingnya mengelola emosi, keinginan, dan ego dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Thudong Menjadi Sorotan Publik?
Dalam beberapa tahun terakhir, ritual Thudong sering viral di media sosial. Banyak masyarakat tertarik karena perjalanan para biksu dianggap unik dan penuh inspirasi.
Diskusi di media sosial dan forum online menunjukkan meningkatnya rasa ingin tahu masyarakat terhadap tradisi Buddha, terutama menjelang Waisak. Beberapa pengguna internet menilai Thudong membawa pesan damai, toleransi, dan spiritualitas yang kuat di tengah kehidupan modern.
Selain itu, momen Waisak di Borobudur juga menjadi daya tarik budaya dan religi yang mendunia.
Kesimpulan
Thudong merupakan tradisi spiritual dalam ajaran Buddha yang dilakukan dengan berjalan kaki sebagai bentuk latihan kesederhanaan, kesabaran, dan pengendalian diri. Tradisi ini telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu dan masih dijalankan hingga sekarang, terutama menjelang Hari Raya Waisak.
Perjalanan para biksu menuju Borobudur bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga simbol perdamaian dan ketekunan. Di balik langkah panjang mereka, terdapat pesan tentang hidup sederhana, toleransi, dan keteguhan hati yang relevan untuk semua kalangan.