Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Legenda Desa Kejene Dalam Perspektif Seorang Indigo..

Desky Danuaji•
Sejarah

SuaraPantura.com - Desa Kejene merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang.

Desa ini terletak di sisi utara Kecamatan Randudongkal dan terdisri dari 4 dusun yakni Dusun Kejene, Dusun Cereme, Dusun Beber dan Dusun Pucangsari.

Ada banyak legenda terkait perjalanan dan sejarah desa ini. Tak lepas pula dari legenda turun-temurun yang disampaikan secara tutur dari orang tua atau leluhur kepada anak cucunya.

Berikut ini penulis mencoba membedah legenda desa Kejene dari perspektif seorang Indigo yang memang memiliki kemampuan dengan validitas yang cukup mumpuni karena telah membedah sejarah dan legenda di beberapa tempat lainnya.

Penulis berkesempatan bertemu dan berdiskusi dengan beliau tentang sebuah desa di kecamatan Randudongkal ini.

Seorang Indigo ini kita sebut saja AS, ia merupakan seorang dengan kemampuan istimewa yang juga diakui secara metafisik maupun ilmiah.

Kisah dalam perspektif Indigo ini bisa menjadi khasanah dan kekayaan budaya tutur di masyarakat.

Filosofis Nama

Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta
Baca Juga · Sejarah
Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta

Kejene menurutnya berasal dari dua kosa kata yakni "kedah diajeni", di kemudian hari bergeser penyebutannya menjadi Kejene.

Ungkapan kedah diajeni dimaknai sebagai suatu wilayah yang pada masa lampau meskipun terletak di tengah hutan dan pinggir wilayah namun sangat dihormati.

Penghormatan terhadap wilayah ini dilatar belakangi oleh para Bangsawan Kerajaan, para Ksatria dan saudagar yang menempatkan wilayah ini sebagai tempat transit atau persinggahan.

Menurut AS, jalur kesejarahan Desa Kejene berkaitan dengan Desa Longkeyang di masa lampau.

Keduanya menjadi wilayah transit yang penting di masa lalu.

Itu kenapa di daerah Kejene terdapat banyak jejak peninggalan masa lalu seperti ditemukannya benda-benda kuno, arca, uang kuno, bahkan pusaka.

Hal ini ditegaskan pula oleh Sisworo, pegiat Arkeologi dari Museum besar Semedo. Menurutnya, Kejene termasuk jalur penjelajahan koleksi di Museum Semedo. Bahkan sebagian temuan purba maupun koleksi museum lainnya juga ditemukan di jalur yang masuk wilayah Desa Kejene ini.

Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo
Baca Juga · Sejarah
Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo

Bahkan ia hapal betul lokasi-lokasi era Megalitikum di Desa Kejene, sebab dulu Ia dan beberapa arkeolog dari Museum Geologi Bandung pernah meneliti di Desa Kejene Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang.

Bangkong Reang & Karakteristik Penduduk

Menurut AG (seorang Indigo), Lantaran terbiasa hidup berdampingan dengan para Bangsawan kerajaan maupun para kesatria di masa lampau, masyarakat desa Kejene terbiasa hidup "Sendika Dawuh".

Militansi terhadap pemimpin sangat tinggi dan penurut. Kalaupun ada beda pendapat biasanya tidak berani ditonjolkan secara langsung dalam musyawarah maupun forum, namun lebih memilih disimpan dan disampaikan di luar forum.

Inilah yang dikemudian hari diabadikan dalam filosofis "Bangkong Reang".

Bangkong reang menurutnya adalah simbol karakteristik warga desa sekitar wilayah tersebut.

Bangkong Reang (Katak Berteriak) merupakan suatu kondisi ketika katak mendapati lingkungannya tergenang air. Katak saling bersahutan keras namun ketika didatangi katak akan diam seribu bahasa.

Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru
Baca Juga · Sejarah
Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru

Itulah konon yang sedikit menggambarkan karakteristik Warga di wilayah tersebut.

Dalam fakta kekinian pun mungkin ada benarnya juga. Masyarakat jarang melakukan penolakan kebijakan pemerintah baik desa, Kabupaten maupun Nasional secara langsung.

Namun lebih memilih berteriak (Reang) di Media Sosial maupun di obrolan warung kopi. Namun ketika di forum musyawarah resmi, jarang sekali ada pergolakan maupun dialektika pertentangan yang berarti.

Bahkan di Era Demokrasi ini mungkin Desa Kejene menjadi satu-satunya Desa yang warganya hampir tidak pernah berdemo menentang kebijakan, meskipun batinnya bergolak dan menolak.

Mereka memilih patuh, dan mengembalikan persoalan dengan kepasrahan dan memilih menyibukkan diri di ladang ataupun persawahan.

Ini yang akan jadi bahan perenungan bersama. Apakah sikap ini menimbulkan perubahan yang berarti atau malah menghambat dinamika perubahan itu sendiri.

Kisah legenda dalam perspektif seorang Indigo ini kami sajikan untuk memperkaya khasanah kita semua agar bisa mengambil pelajaran.

Kitapun akhirnya harus mampu memilah milah, Mana yang harus dipertahankan, dan mana yang harus dirubah ke depan agar menjadi lebih baik.

Salam Hangat.
***

Tags:
#randudongkal pemalang jawa tengah#kejene
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…