Hilangnya Pohon Salam dan Datangnya 'Bencana' di Desa Kejene Pemalang
Desky Danuaji•
Sejarah
SuaraPantura.com - Baru-baru ini ada berbagai peristiwa yang terjadi di Desa kejene Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang dianggap merupakan bagian dari 'bencana' yang menimpa desa.
Pasalnya peristiwa itu datang silih berganti seolah-olah menguji kesabaran warga desa terutama yang berprofesi sebagai petani.
Kejadian tersebut seperti kekeringan, gagal panen dan ancaman petir yang sewatu-waktu mengancam nyawa warga terutama para petani, bahkan beberapa kejadian petani yang tersambar petir hingga meninggal pun beberapa kali terjadi.
Ini merupakan persoalan serius yang mesti dicarikan solusinya.
Kali ini redaksi suarapantura.com berhasil menggali informasi sejarah yang ada di Desa Kejene berkaitan dengan berbagai persoalan yang ada melalui seorang warga yang secara turun temurun diwarisi sejarah tutur dari leluhurnya.
Basis informasi ini berasal dari apa yang dikisahkan oleh warga bernama Uskur, yang merupakan keturunan salah satu leluhur Bekel atau Kepala Desa di Kejene.
Dari sumber yang dapat dipercaya ini karena memenuhi unsur penggalian sejarah melalui metode budaya tutur, dikisahkan konon pada saat itu peristiwa bencana seperti yang disebutkan di muka pernah terjadi dan menimpa Desa kejene tempo dulu.
Digambarkan kondisi saat itu tidak jauh beda dengan kondisi saat ini yaitu bencana demi bencana melanda silih berganti seperti gagal panen, kekeringan irigasi, dan tersambar petirnya para petani di sawah.
Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, saat itu seorang ulu-ulu bernama Mbah Samija'i melakukan tirakat untuk mendapatkan petunjuk atau solusi dari berbagai persoalan yang terjadi itu.
Didapatilah sebuah wangsit atau petunjuk kepada Mbah Samija'i untuk pergi menemui seseorang yang ada di Demak pada saat itu.
Berangkatlah ulu-ulu Desa kejene bernama Mbah samija'i tersebut ke Demak untuk menemui seseorang yang waskita dan mengkonsultasikan berkaitan dengan kondisi persoalan yang ada di desa kejene.
Belum diketahui secara pasti Siapa yang ditemui Mbah samijai di Demak tersebut.
Namun menurut informasi sejarah tutur yang beredar, orang yang ditemui oleh Mbah samija'i itu bukanlah orang sembarangan.
Saat di Demak tersebut Mbah Samija'i diperintah untuk menanam pohon salam di sepanjang saluran irigasi di Desa Kejene.
Namun penanaman pohon salam itu dengan syarat yang menanam adalah seorang perempuan yang masih perawan.
Bermodalkan ilmu dan petuah serta petunjuk tersebut Mbah Samija'i pun pulang ke Desa Kejene kemudian mempersiapkan penanaman daun salam di sepanjang saluran irigasi tersebut.
Sekembalinya Mbah Samija'i di Desa Kejene, Ia pun kemudian kembali melakukan tirakat untuk memperoleh petunjuk guna menemukan pohon bibit salam terbaik yang akan Ia tanam di sepanjang saluran irigasi.
Singkat cerita Mbah Sami'jai pun kemudian menemukan bibit-bibit daun salam terbaik yang ia persiapkan untuk ditanam di sepanjang Sungai irigasi.
Dengan pertimbangan yang matang usai menemukan bibit-bibit daun salam tersebut ditemukan dan disiapkan, Mbah Samija'i kemudian memilih seorang gadis asli Desa Kejene yang masih perawan bernama Mawah untuk menanam bibit pohon Salam di sepanjang saluran irigasi Desa Kejene.
Singkat kisah setelah penanaman pohon pohon salam di sepanjang Sungai irigasi kemudian pohon itu semakin rimbun dan besar.
Ternyata perlahan-lahan bencana yang tadinya silih berganti seperti kekeringan, gagal panen, dan petani yang tersambar petir tersebut berangsur-angsur mulai hilang.
Bukan tanpa sebab, ternyata pohon salam itu memili fungsi sebagai pengikat dan menyimpan air tanah serta dapat menangkal petir.
Berkaitan dengan pohon sebagai penangkal petir, Peneliti Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM) pun sudah menelitinya dan terbukti cara tradisonal ini teruji dan efektif.
Walau tradisional, tetapi cara ini terbilang ampuh untuk menanggulangi bahaya petir.
Pohon salam disebut efektifitasnya cukup tinggi dan yang tak kalah hebatnya dengan penangkal petir modern.
Secara alamiah, energi yang dikeluarkan oleh pohon tersebut sifat menyerap muatan listrik yang berlebihan. Saat daya listrik tinggi yang dimunculkan oleh petir dapat diredam.
Pohon Salam ini bisa ditanam di areal yang menjadi target atau langganan serangan petir.
Daya kekuatan listrik akan langsung terserap dan dihantarkan ke tanah, sehingga sambarannya tidak akan sampai ke tanah ataupun rumah apalagi mengenai manusia.
Selain itu, Pohon salam juga memiliki fungsi memperkokoh tanah dan mengikat air sehingga bisa menghindari longsoran tanah di sekitar saluran air serta menjaga debit air dikala kemarau.
Namun hari ini pohon salam yang tadinya tumbuh Rindang di sekitar sungai irigasi yang ada di desa Kejene kini semakin berkurang bahkan hampir punah.
Pohon salam yang memiliki fungsi menjaga kekohan tanah di sekitar irigasi dan mencegah timbulnya longsoran tanah di sekitar tanah irigasi ini pun kini sudah tidak nampak lagi.
Hal ini disebut-sebut menjadi penyebab bencana masa lalu terulang kembali.
Dibutuhkan langkah jangka panjang yang menjadi solusi agar kembali ke masa lalu di mana gagasan Cipta Karsa para leluhur untuk dilestarikan kembali dengan melakukan penanaman pohon salam dan menjaganya hingga anak cucu kita selanjutnya terjaga dan terhindar dari bencana.
Nah sampai sini dulu ya ulasan sejarah kali ini, semoga tulisan sejarah ini bermanfaat dan menjadi spirit untuk melestarikan lingkungan demi masa depan anak cucu kita. Salam Hangat. ***