SuaraPantura.com - Brug Abang atau jembatan merah terletak di desa Pesayang Kecamatan Talang Kabupaten Tegal.
Jembatan ini membelah sungai Gung (Kali Gung) yang membentang di desa Pesayangan, menjadi saksi bisu Peristiwa Tiga Daerah atau yang biasa disebut Pemberontakan Kutil yang terjadi tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, tepatnya pada bulan november 1945.
Menurut salah satu literasi, Pemberontakan ini dipelopori oleh Partosuktino yang menghasut Sakyani (Kutil) seorang tukang cukur karena dendam kepada para pamong praja dan kepolisian negara bekas pemerintahan penjajahan negara Jepang .
Kutil merupakan ketua dari Persatuan Tukang Gunting Republik Indonesia (PERTUGRI) pada saat itu.
Kutil melakukan operasi gerakannya mulai dari sekitar kecamatan Talang kemudian meluas hingga ke daerah Tegal dan sekitarnya.
Jembatan ini sendiri tidak bercat warna merah, namun karena sejarahnya yang kelam, jembatan ini dinamakan Brug Abang.
Tidak ada yang istimewa dengan jembatan ini namun yang membuatnya istimewa adalah dahulu di jembatan ini dijadikan tempat eksekusi para pamong praja dan orang-orang yang dianggap menetang. Dengan tetabuhan khas “tombreng-tombreng”, para korban diarak oleh warga menuju ke jembatan tersebut.
Darah para korban pembantaian mengalir ke sungai sehingga sungai menjadi berwarna merah, sehingga jembatan itu sekarang disebut Brug Abang (Jembatan Merah).
Jembatan itu menjadi bagian tertorehkannya luka yang perih bagi masyarakat, sebab dalam peristiwa tersebut banyak pula putera-puera daerah terbaik yang menjadi korban keganasan Kutil.
Bahlan secara khusus saat berkunjung ke daerah Tegal, Presiden Republik Indonesia pertama Bung Karno menyebut peristiwa Pemberontakan Tiga Daerah itu dengan sebutan pemberontakan "Negara Talang".
Di bawah Brug Abang, terdapat tempat Bendung Pesayangan yang dibangun pada tahun 1918 – 1921. Cukup tua memang, namun hingga sekarang masih berfungsi dengan baik. Kita pun masih bisa melihat kemudi besar untuk membuka pintu air. Sebagai informasi, Bendung Pesayangan ini berguna untuk membendung Sungai Gung yang berhulu dari Gunung Slamet.
Di areal sekitar ini biasa dijadikan tempat kumpul warga sekitar, selain suasananya sejuk juga di sekitaran kawasan ini banyak sekali penjaja makanan di samping kanan dan kiri jalan seperti rujak kangkung yang sangat khas. Terlebih jika hari menjelang senja, tempat ini menjadi tujuan bersantai dan ngabuburit saat Ramadhan.
Sekarang ini Brug Abang masih difungsikan oleh warga, namun kendaraan besar seperti mobil dan sebagainya dilarang melintas karena usia jembatan ini yg sudah tua.
Karena bangunan ini bersejarah dan berusia tua, maka bangunan jembatan ini tidak dihancurkan, namun dibangunkan jembatan lagi tepat di sebelah selatan Brug Abang ini untuk akses mobilitas jalan besar.
**