SuaraPantura.com - Tegal memiliki sejarah panjang perlawanan Rakyat. Orang-orang Tegal terkenal tegas, lugas dan apa adanya. Sehingga ketika terjadi ketidak sesuaian keadaan maupun ketidak adilan, orang Tegal tak segan memberi peringatan bahkan melakukan perlawanan.
Rupa rupanya mentalitas melawan ini tidak hadir begitu saja. Membaca sejarah Tegal adalah membaca perlawanan. Sejarah panjang mencatat mentalitas melawan ini sudah ada dari jaman dulu. Dari jejak sejarah yang kami telusuri, kami menemukan jejak perlawan pada tiga zaman. Zaman kerajaan Mataram, zaman Pasca kemerdekaan, dan zaman Pasca Reformasi.
Tiga zaman dan peristiwa itu sedikit banyak mampu mewakili potret mentalitas sejati orang-orang Tegal.
1. Tumenggung Martoloyo Melawan Raja Yang Bekerjasama Dengan Kompeni
Tumenggung Martoloyo Menjadi adipati Tegal pada masa kepemimpinan : 1625 s/d 1678. Itu artinya ia sudah mengalami masa transisi kepemimpinan dari Sultan Agung, Amangkuran I dan Amangkurat II.
Saat mengabdi kepada Sultan Agung Haryokrokusumo, Adipati martoloyo memegang peranan penting dalam rangka ekspedisi penyerangan Mataram ke Batavia.
Tegal menjadi bagian dari pusat pengadaan lumbung pangan guna suksesi penyerangan ke Batavia.
Adipati Martoloyo sebenarnya sangat setia kepada Rajanya. Termasuk kepemimpinan raja keriga, Amangkurat II. Namun Martoloyo tidak senang jika Amangkurat II menjalin kerjasama dengan Kompeni Belanda.
Kerjasama Amangkurat II berawal saat ingin memadamkan pemberontakan Trunojoyo. Amangkurat II meminta bantuan kepada pihak belanda.
Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Trunojoyo, Sri Susuhunan Amangkurat II yang pada waktu itu bekerjasama dengan belanda melakukan perjanjian.
Di dalam perjanjian tersebut Belanda meminta wilayah pesisir utara Jawa untuk dijadikan kompensasi karena Belanda sudah membantu menumpas pemberontakan Trunojoyo.
Pertemuan yang dinamakan pertemuan Agung itu digagas Laksamana Cornelis Speelman utusan Gubernur Jenderal VOC Mr. Maetsuyke melibatkan semua adipati se-tanah Jawa yang kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Jepara tahun 1676. Hasil pertemuan tersebut adalah ditanda tanganinya kesepakatan bahwa Mataram harus menyerahkan pesisir jawa kepada Belanda.
Tumenggung Martoloyo sendiri tak sudi mendengarkan basa basi dan ocehan Belanda dalam pertemuan tersebut. Tumenggung Martoloyo dari Tegal itu lantas melakukan walk-out (keluar dari pertemuan) sebelum pertemuan selesai, langkah tersebut pada waktu itu adalah langkah yang sangat berani mengingat utusan yang lain sangat sendika dawuh baik kepada Raja maupun Belanda.
Perilaku berani Adipati Tegal Tumenggung Martoloyo inilah yang membuat Sri Susuhunan Amangkurat II Marah kemudian memberi titah kepada Tumenggung Martopuro, Adipati Jepara pada waktu itu. Raja Amangkurat II itu memerintahkan Adipati Jepara Martopuro untuk membawa Tumenggung Martoloyo Tegal, Hidup atau Mati.
Perintah Raja tak boleh ditolak, sebab titah Raja adalah Hukum itu sendiri. Dengan langkah gontai dan terpaksa, adipati Jepara itu pun terpaksa harus melaksanakan perintah Rajanya.
Kompeni Belanda mengetahui kalau Tumenggung Martoloyo sejak awal sangat menentang perjanjian tersebut. Belanda jugalah yang turut menjadi kompor kepada Raja agar mengeluarkan titah dalam rangka melenyapkan Adipati Tegal Tumenggung Martoloyo tanpa susah payah untuk memuluskan jalannya menguasai pesisir tanah jawa tersebut.
Sikap blak-blakan khas orang Tegal dari Tumenggung Martoloyo yang dengan terang-terangan meninggalkan pertemuan tersebut membuat Kanjeng Sinuhun Amangkurat II murka. Sabda raja adalah mutlak, tidak ada satupun kawula yang boleh membantah apalagi menentangnya karena raja adalah Wenang wisesa ing sanagari.
Nabok nyilih tangan. Amangkurat II sangat mengetahui kedigdayaan Martoloyo. Sebagai senopati Mataram yang pilih tanding dan punya pengalaman bertempur diberbagai wilayah jawa sejak zaman Sultan agung, Martoloyo tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka siasat dijalankan, Tumenggung Martopuro (adipati jepara) sebagai saudara seperguruan, satu ilmu satu guru diutus untuk melenyapkan Martoloyo (adipati Tegal).
Seperti yang pernah dituliskan oleh Ali Sodikin seorang pemerhati sosial Tegal, Martopuro lantas segera menyusul Martoloyo ke Tegal. Sebagai kawula yang mengabdikan dirinya pada Sri Sinuhun Amangkurat II, ia tidak punya pilihan lain, bagai makan buah simalakama, dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati. Titah raja adalah sabda pandito ratu, tidak boleh dibantah dan tak terbantahkan.
" Raja yang gung binathara, bahu dendha nyakrawati. Namun Martoloyo juga bukan hanya sekedar saudara seperguruan, perjalanan panjang bahu membahu malang melintang dalam pelbagai pertempuran menengakkan panji-panji Mataram membuat hubungan kedua Tumenggung tersebut sangat dekat melebihi saudara. Maka, meski dengan berat hati Martopuro menemui Martoloyo." Tulis Ali.
Ali menjelaskan, Martoloyo seorang keturunan bangsawan yang berbudi luhur, tidak suka dengan kekuasaan yang menindas pada akhirnya ingin melepas jabatan adipati yang disandangnya.
Baginya seorang raja seharusnya berbudi bawa laksana, ambeg adil marta dan anjaga tata tentreming praja. Tidak seperti Amangkurat II yang justru menindas rakyat dan menghamba kepada kompeni Belanda demi kehidupan yang mewah diatas penderitaan rakyatnya sendiri. Namun belum sempat niatnya terlaksana, Martopuro sudah mendatanginya.
Ali sodikin mengilustrasikan pertempuran kedua adipati ini terjafi di sebuah pertigaan di tengah kota Tegal, keduanya berhadapan, saling menatap, masing-masing membisu, segurat keraguan terlihat di wajah kedua kesatria tersebut. setelah sejenak menghela nafas Tumenggung Martoloyo berucap lirih “silahkan adi Martopuro”. Hanya itu yang terucap dari bibir Martoloyo sambil menghunus keris Kyai Sepuh. Martopuro hanya mengangguk kepala sedikit seolah memberi hormat dan tanpa ragu mencabut keris andalanya Kyai Kasur. Maka Perang tanding pun tak terelakkan antara dua saudara seperguruan atas nama membela keyakinannya. Perkelahian yang sangat luar biasa, gerakan lincah dan mantap diperagakan oleh dua saudara seperguruan itu. Duel yang berlangsung seimbang, dan kedua senopati pilih tanding Mataram tersebut akhirnya menemui ajal bersama, mati sempyuh bermandikan darah oleh tusukan keris masing-masing.
Martoloyo dimakamkan jauh dari tlatah Tegal. Di lereng Gunung Sindoro, jasad sang “pemberontak” bersemayam dengan damai. Tepatnya di Dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto Wonosobo. Warga Dusun Giyanti sangat menghormati dan menjaga makam tersebut dengan melakukan upacara Suran Giyanti. Ritual yang dilakukan untuk membersihkan makam Tumenggung Martoloyo dilaksanakan setiap malam Jum’at Kliwon di bulan Syuro.