Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Jejak Revolusioner Tegal Bag. 2 : Revolusi Kutil

Desky Danuaji•
Sejarah

Lanjutan dari Bagian 1 ;

2. Kutil Melawan Pejabat Antek Penjajah Yang Kembali Menjabat Pasca Kemerdekaan

Revolusi 3 Daerah atau sering juga disebut Revolusi Kutil, adalah gerakan masyarakat akar rumput untuk melakukan pembersihan terhadap antek penjajah yang kembali menjadi praja atau pejabat daerah pasca kemerdekaan RI.

Rakyat Tegal sudah muak dengan para pegawai korup era penjajahan yang kembali dipercaya menjadi pegawai setelah kemerdekaan RI. Yang diinginkan Rakyat waktu itu adalah Kemerdekaan yang totalitas, merdeka sepenuhnya dengan mengganti semua praja dengan irang orang baru yang bukan kolaborator penjajah.

Gerakan Tiga Daerah ini sering dikaitkan dengan nama Kutil atau pemilik nama asli sakhyani sebagai pemimpin gerakan ini.

Nama asli Kutil adalah Sakhyani. Ia hanya sekolah sampai kelas dua sekolah rakyat. Sebelum 1945, profesinya sebagai tukang pangkas rambut.

Kutil merupakan ketua dari Persatuan Tukang Gunting Republik Indonesia (PERTUGRI) pada saat itu.

Selain itu, Kutil juga dikenal sebagai seorang guru agama yang punya banyak pengikut. Bulan Oktober 1945, Kutil membentuk Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di Bank Rakyat Talang.

Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta
Baca Juga · Sejarah
Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta

Gerakan ini pula yang mempelopori budaya "Tombreng-tombreng", yakni mengarak pejabat korup dan kolaborator penjajah untuk dihilanan keliling kampung, dilucuti pakaian kebesarannya dan diganti dengan pakaian karung goni.

Menurut Anton E. Lucas dalam Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi (1989), dombreng merupakan istilah lokal yang artinya adalah tindakan membuat malu para pejabat yang (dianggap) korup di depan umum. Dombreng juga diartikan sebagai ritual tentang majikan yang diusir (disepak keluar) oleh abdinya. Korbannya tak hanya si pejabat, namun keluarganya pun bisa ikut kena dombreng.

Para korban tombreng akan diarak menggunakan kain goni keliling kampung dan dijadikan layaknya topeng monyet yang menjadi tontonan warga kampung.

Korban tombreng tidak hanya diarak keliling kampung, beberapa ada yang berakhir dieksekusi di jembatan merah Talang Tegal atau yang sering dikenal dengan Brug Abang Talang.

Menurut data anton Lucas, salah seorang yang dibunuh dalam budaya tombreng-tombreng itu adalah petugas pengumpul romusha yang bernama Raden Mas Abu Bakar. Ia dituduh menyelewengkan separuh tunjangan romusha yang mustinya diserahkan kepada Rakyat namun dikorupsi.

Sasaran gerakan pembersihan Kutil adalah para aparat-aparat Kepala Desa, Camat, bupati, residen dan jajarannya yang dulu pada saat jaman penjajahan ikut menindas Rakyat namun setelah kemerdekaan dipercaya pemerintah untuk menjabat kembali.

Dalam catatannya, seorak aktivis mahasiswa Soe Hok Gie yang berjudul "Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan", menyebutkan penggerak Peristiwa Tiga Daerah adalah “tenaga-tenaga yang paling anti kolonial dan feodal.” Mereka ingin membersihkan masyarakat dari para priayi kolaborator Jepang.

Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo
Baca Juga · Sejarah
Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo

Atas dasar latar belakang yang sama dalam waktu singkat, gerakan ini membesar menjadi meluas ke tiga wilayah keresidenan, meliputi Brebes, Tegal dan Pemalang dalam kurun waktu yang sangat pendek, antara bulan Oktober sampai Desember 1945.

Namun Gerakan yang tadinya murni pembersihan kolaborator penjajah, kmudian membesar dan ditumpangi kepentingan-kepentingan lain. Gerakan ini dianggap oleh pemerintah pusat sebagai gerakan mendirikan negara sendiri.

Pendekatan Pemerintah Pusat mengedepankan prasangka bahwa gerakan ini adalah "Pemberontakan". Padahal dilatar belakangi pengalaman sejarah yang diwarnai dengan tekanan, penindasan, kesengsaraan dan kemelaratan telah membangkitkan rasa benci dan dendam terhadap sistem dan struktur yang telah menyebabkan kesengsaraan itu.

Gerakan Kutil yang tadinya murni itu meluar dan dianggap ditumpangi kepentingan Komunisme untuk mendirikan naegara baru.

Menurut mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso dalam buku "Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan" , menyebutkan bahwa gerakan Kutil yang terafiliasi dengan komunis hendak mendirikan pemerintah revolusioner.

Sedangkan Menurut Bung Karno saat berkunjung ke daerah Tegal, Presiden Republik Indonesia pertama itu menyebut peristiwa Gerakan Tiga Daerah itu dengan sebutan pemberontakan "Negara Talang".

Anton Lucas juga menyebutkan bahwa bila dilihat dari bentuk dan karakteristik aksi yang dilakukan. Apa yang disebut dengan “kegaduhan sibernetik” juga terlihat dari aksi rakyat di tiga daerah ini.

Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru
Baca Juga · Sejarah
Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru

Menurut Lucas, Dibanding dengan revolusi-revolusi sosial yang terjadi di Indonesia dalam waktu yang bersamaan, maka peristiwa tiga daerah ini terdapat perbedaan mendasar.

Revolusi sosial yang terjadi di tiga daerah ini lebih bernuansa kiri (didalangi komunisme). Hal ini dapat dilihat dari pola kepemimpinan serta ideologi yang dianut serta peranan penting yang dimainkan oleh Front Rakyat (komunis) dalam memobilisasi rakyat dalam revolusi sosial ini.

Karena akhirnya dianggap pemberontakan, belakangan Kutil dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di Pekalongan. Ini sekaligus menjadi catatan Bangsa Indonesia bahwa Kutil adalah terpidana mati pertama setelah Indonesia merdeka.

Kutil di mata Rakyat adalah Pahlawan,
Kutil di mata Pejabat Korup adalah Musuh,
Dan Kutil di mata Pemerintah adalah Pemberontak...

Bersambung ke bagian 3 :
Reformis Tegal : Pertama Kali Tumbangnya antek Orde Baru Daerah Pasca Reformasi 98

 

Tags:
#tegal#kutil#sejarah tegal
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…