SuaraPantura.com - Sejarah Tuhan merupakan buku yang musti dibaca bagi kaum pemikir yang rindu akan kebenaran.
Buku srjarah Tuhan ini adalah kajian lengkap yang paling populer sejak publikasi pertamanya pada dekade abad ke-20.
Mau tau apa saja isinya? Berikut kami sajikan resensi bukunya yang dilansir dari Jurnal Sosiologi edisi 24 tahun 2011 oleh Atsarina Larasati Anindya
Sejarah Tuhan merupakan buku yang menarik untuk ditambahkan dalam koleksi buku semua orang karena topiknya yang universal.
Buku ini memberi pengetahuan menarik
tentang perkembangan konsep Tuhan
dalam pemikiran berbagai kebudayaan sepanjang sejarah. Penggambaran sejarah Tuhan didukung oleh berbagai fakta, mitos, dan legenda dalam sejarah manusia sehingga topik yang terlihat berat ini menjadi menarik untuk dibaca.
Pemaparan tentang sejarah Tuhan ini akan membuat pembaca merenungkan cara-cara manusia, termasuk pembaca sendiri, dalam memandang suatu entitas yang disebut Tuhan. Penulis buku ini, Karen Armstrong, memberi contoh dari
berbagai kebudayaan di dunia dan
mengaitkannya dalam satu tema besar,
yaitu pencarian manusia akan Tuhan
yang ideal dan sesuai kebutuhan masing-masing zaman.
Sejarah Tuhan menyajikan berbagai peristiwa dalam sejarah kehidupan manusia sebagai bagian dari evolusi pandangan manusia terhadap suatu kekuasaan tertinggi yang disebut Tuhan.
Misalnya, pergantian kepercayaan akan satu Tuhan pada masa purba awal ke kepercayaan pagan yang memiliki
banyak Tuhan menyerupai manusia
dijelaskan sebagai keinginan untuk
menjangkau Tuhan-Tuhan baru yang
lebih dekat dengan manusia
dibandingkan satu Tuhan Mahakuasa,
tetapi berada jauh di luar jangkauan
manusia.
Buku ini menjelaskan bagaimana manusia sebenarnya memiliki naluri alamiah untuk
berdekatan dengan yang gaib; entitas
tertinggi dari yang gaib bagi manusia
adalah Tuhan.
Hal ini diceritakan secara kronologis sejak berkembangnya monoteisme purba menjadi politeisme pagan di seluruh
dunia. Ada pula pendapat menarik
tentang bagaimana Tuhan tiga agama
monoteisme besar (Yahudi, Kristen,
Islam) diimplementasikan oleh bangsa
India menjadi dewa-dewa Hindu dan
Budha, juga kaitannya dengan
kepercayaan akan nirwana pada agama
Budha. Di samping itu, juga
diceritakan bagaimana perkembangan
kebudayaan pagan yang penuh mitos dan ritual akhirnya membawa manusia kembali pada monoteisme yang dipandang lebih rasional. Lebih jauh lagi, perkembangan akal manusia saat ini justru memunculkan keraguan akan eksistensi Tuhan dan peranannya dalam kehidupan masyarakat modern, Armstrong banyak mencantumkan naskah-naskah kuno, seperti Enuma Elish yang merupakan kitab bagi kepercayaan Babilonia Kuno sampai Al Quran, untuk
menggambarkan dasar pemikiran
manusia mengenai Tuhan pada setiap
kepercayaan.
Kutipan-kutipan ini menunjukkan bahwa dasar pemikiran penulis didukung oleh bukti-bukti yang dapat dipercaya, di samping memberi pengetahuan lebih bagi para pembaca. Buku ini dilengkapi dengan
lampiran sumber masing-masing kutipan yang digunakan dalam buku dan juga daftar buku yang disarankan untuk dibaca selanjutnya bagi pembaca yang ingin mendalami lebih lanjut tentang sejarah agama dan kaitannya dengan perkembangan budaya manusia.
Kelebihan lain buku ini adalah jika umunmnya buku tentang ketuhanan rentan terhadap bias keyakinan si penulis, buku ini terbilang netral dan objektif dalam
membicarakan setiap agama dan
kepercayaan yang pernah ada.
Hal ini menjadi nilai tambah mengingat
Armstrong besar dalam lingkungan
Katolik Roma dan pernah menjadi
biarawati. Dalam menuliskan pandangan-pandangannya, Karen
Armstrong, berusaha tidak mengeluarkan pendapat pribadinya mengenai kepercayaan tertentu secara langsung. Penulis hanya mengeluarkan pendapatnya mengenai anggapan manusia mengenai Tuhan dari zaman ke zaman.
Sayangnya, buku ini banyak memakai istilah-istilah yang jarang diketahui masyarakat awam, terutama istilah keagamaan. Meskipun buku ini
dilengkapi glosarium, pembaca yang
umumnya tidak akrab dengan istilah-
istilah dari berbagai agama dan tidak
memiliki dasar pengetahuan mengenai
sejarah akan mengalami sedikit
kesulitan dalam mengikuti isi buku.
Pada akhirnya, buku ini dapat menjadi awal yang baik dalam mempelajari perkembangan agama dan keyakinan di dunia meskipun dalam membacanya perlu perhatian dan usaha lebih untuk memahaminya.
Dengan mempelajari sejarah tentang
Tuhan, kita dapat menarik beberapa
pelajaran untuk menjawab kebutuhan
masyarakat modern akan Tuhan seperti yang ditekankan oleh Armstrong. Hal ini mungkin merupakan satu-satunya pendapat pribadi Armstrong yang tersamar dalam seluruh isi buku, bahwa
kebutuhan akan Tuhan merupakan
naluri alamiah bagi tiap manusia dan
dengan-Nyalah manusia dapat menjadi
manusia seutuhnya.
***
( Atsarina Larasati Anindya-Jurnal Sosiologi)