SuaraPantura.com - Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) bersama Promedia Teknologi Network menyelenggarakan pelatihan bagi jaringan konten kreatornya pada Senin , 10 Januari 2021. Pelatihan tersebut sendiri diagendakan berlangsung selama satu minggu. Sebanyak 186 peserta mengikuti pelatihan tersebut dengan sangat antusias.
Setelah pembukaan, dilanjutkan dalam pelatihan season pertama dengan tema materi ekosistem media digital, alat ukur digital, dan persona pembaca yang disampaikan oleh mentor PRMN, Yusuf Wijanarko.
Materi disampaikan dengan sangat baik dan banyak mengandung ilmu yang sangat bermanfaat bagi para calon konten kreator PRMN dan Promedia Teknologi Network.
Ada beberapa hal yang menarik dalam panyampaian materi pertama pelatihan PRMN dan Promedia Teknologi Network pada pagi hari itu.
Pertama tentang sejarah media masa Pikiran Rakyat Bandung. Ternyata Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno pernah membuat media masa dengan nama serupa saat di Bandung. Yakni ketika beliau masih melakukan perjuangan pra kemerdekaan.
“Bung Karno pernah membuat media masa bernama Fikiran Rakjat (dengan ejaan lama), namun media Pikiran Rakyat yang sekarang berbeda dan tidak berhubungan dengan Pikiran Rakyat yang dibuat Bung Karno pada waktu itu,’ Terang pemateri.
Yusuf menjelaskan, bahwa Pikiran Rakyat Media Network ini tidak ada hubunganya dengan kelompok apapun dan tidak berafiliasi dengan partai maupun haluan politik manapun.
“Pikiran Rakyat Media Network tidak punya hubungan dengan Pikiran Rakyat bikinan Bung Karno, kita murni media masa yang tidak berafilliasi dengan kelompok, partai maupun haluan politik manapun” jelas Yusuf.
Selain itu, dalam pembahasan tentang minat baca dan literasi di Indonesia juga cukup menarik.
Yusuf menjelaskan pada realitanya, konten receh justru sangat diminati daripada konten yang berisi literasi dan edukasi.
“Konten receh lebih banyak diminati pembaca di Indoensia daripada konten yang bersifat literasi dan edukasi, ini sedikit memprihatinkan” jelas pemateri.
Yusuf menegaskan meskipun minat baca terhadap konten receh sangat diminati pembaca di Indonesia, namun bukan berarti para penulis harus selalu mengikuti dan melacurkan diri dalam konten-konten receh tersebut. Penulis musti tetap memperhatikan unsur literasi dan edukasi dalam membuat artikel untuk masyarakat.
“Meski knten receh sangat diminati pembaca Indonesia, namun kita tak boleh melacurkan diri untuk membuat konten receh semua. Tetap bikin konten yang berisi literasi dan edukasi untuk pembaca.” Tegas Yusuf.
Para konten kreator juga bisa menuliskan keresahannya tentang kondisi sosial, lingkungan dan idealismenya.
“Kita bisa menuliskan konten tentang keresahan sosial, lingkungan dan idealisme kita. Misalkan ada korupsi, pelayanan publik yang buruk dan kondisi sosial lainnya tulis saja, untuk perubahan,” tambah Yusuf.
***