Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Dari Anak yang Dibuang Hingga Menjadi Bos Apple, Ini Dia Kisah Hidup Steve Jobs yang Penuh Inspirasi

Adi Purnomo Attsani•
Sejarah

SuaraPantura.com - Siapa yang tidak mengenal seorang Steve Jobs, pria yang kerap kali memakai kemeja hitam dan kacamata ini adalah CEO perusahaan Apple.

Steve Jobs dilahirkan pada tanggal 24 Februari 1955, dari seorang ibu yang masih gadis belia bernama Joanne Schieble. Ibunya yang masih muda dan belum menikah tidak siap memiliki anak, akhirnya menyerahkan Steve Jobs kecil untuk diadopsi oleh seorang pengacara dan istrinya. Berharap Steve Jobs bisa dirawat dengan baik oleh keluarga barunya itu.

Namun, ternyata sang pengacara berubah pikiran, mereka ingin mengadopsi anak perempuan. Ibu kandung Steve Jobs yang kebingungan, akhirnya menelepon calon orangtua asuh yang masih dalam daftar tunggu adopsi anak.

Ibu kandung Steve Jobs menelepon tengah malam, katanya: "Kami memiliki bayi laki-laki yang tidak diharapkan. Apakah anda menginginkannya?"

Kata mereka: "Tentu saja". Akhirnya Steve Jobs yang masih bayi diserahkan kepada keluarga yang sekarang menjadi orangtuanya.

Dikemudian hari, Ibu kandung Steve Jobs baru mengetahui kalau ternyata orangtua asuh anaknya itu bukan dari kalangan terpelajar seperti yang diharapkan.

Ayah angkatnya tidak lulus SMA dan Ibunya juga tidak lulus kuliah. Karena itu, Ibu kandungnya menolak untuk menandatangani Surat Adopsi anak.

Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta
Baca Juga · Sejarah
Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta

Namun karena orangtua asuhnya meyakinkan akan membiayai pendidikannya ketika besar nanti, akhirnya Ibu kandungnya mau menyerahkannya.

Steve Jobs yang berusia 17 tahun masuk kuliah di Reed Collage yang hampir semahal Stanford University, sehingga orangtuanya menggunakan seluruh tabungan untuk membayar uang kuliah.

Setelah enam bulan kuliah, Steve Jobs malah merasa tidak nyaman berkuliah, ia merasa tidak ada gunanya kuliah dan memustuskan berhenti.

Inilah masa-masa sulit dalam hidupnya, karena sudah berhenti kuliah ia tidak lagi memiliki kamar di asrama. Untuk tidur, ia menumpang pada kamar temannya dan tidur di lantai.

Untuk membeli makan, ia mendapat upah dari mengembalikan botol minuman. Jika menginginkan makanan yang enak, maka ia pergi ke Kuli Hare Khrisna yang jaraknya sejauh tujuh mil berjalan kaki untuk dapat makan gratis.

Ketika Reed College menawarkan cara membuat kaligrafi, ia mengikuti kelas itu. Karena ia sudah berhenti kuliah, maka ia tidak berkewajiban mengikuti kelas reguler, dan memutuskan mengambil kelas kaligrafi tersebut.

Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo
Baca Juga · Sejarah
Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo

Di kelas itu, ia belajar tulisan serif dan sanserif, belajar memvariasikan jumlah spasi antara kombinasi huruf yang berbeda, belajar membuat tipografi yang bagus.

Siapa yang menyangka, dari kelas kaligrafinya yang di ikutinya itu akan mengubah hidupnya.

Sepuluh tahun kemudian, ketika ia telah bekerja dan mulai merancang desain pertama komputer Macintosh, ia terinspirasi dari pelajaran kaligrafinya dulu, dan merancang komputer Mac pertama dengan tipografi yang indah.

Dalam sebuah tulisan, ia pernah mengatakan: "Jika saya tidak mengikuti kelas kaligrafi di kampus, Mac tidak akan memiliki banyak tipografi atau huruf-huruf dengan spasi yang proporsional.

Dan karena Windows pada dasarnya hanya meng copy paste Mac, maka tidak akan ada personal computer yang memilikinya.." tulisnya.

Dari situ, usaha yang dikerjakannya mengalami kesuksesan, hingga kita bisa mengenal perusahaan Apple dengan berbagai produk canggihnya saat ini.

Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru
Baca Juga · Sejarah
Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru

Steve Jobs dikenal sebagai seorang yang inovatif, pekerja keras dan tangguh. Ia banyak melakukan gebrakan ketika menjabat sebagai CEO Apple hingga membuat perusahaan itu menjadi pemimpin di bidangnya.

Namun, di akhir hidupnya Steve Jobs mengalami sakit, ia divonis kanker dan banyak menjalani terapi pengobatan. Hari-harinya banyak dilalui dengan menulis, dan memberikan ceramah-ceramah.

Pada saat sebelum kematiannya, ia memberikan pesan: "Waktu kalian terbatas, jadi jangan menyia-nyiakannya dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terjebak dogma.

Artinya adalah hidup dengan hasil pikiran orang lain. Jangan biarkan pendapat oranglain menenggelamkan kata hatimu. Dan hal yang paling penting adalah memiliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu. Entah bagaimana mereka sudah mengetahui apa yang kamu inginkan. Yang lain menjadi kurang penting.."

Dari kisah hidup Steve Jobs, kita bisa mengambil pelajaran bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, jangan pernah disesali, mungkin saja hal itu merupakan jembatan menuju kesuksesan yang tidak pernah kita tahu dimasa yang akan datang. Hal yang paling penting adalah tetap optimis dan melakukan yang terbaik, mengikuti kata hati dan keyakinan.***

Dikutip dari buku "Steve Jobs: Stay Hungry, Stay Foolish in Memoriam Sang Inovator Visioner" dengan sedikit penyesuaian.

Tags:
#bisnis#bos#apple#kisah#raksasa#steve jobs
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…