Mengenal DeIslamisasi Sejarah Indonesia dalam Dunia Pendidikan
Adi Purnomo Attsani•
Sejarah
SuaraPantura.com - Generasi muda Islam saat ini mengalami Herolessnes yaitu suatu kondisi dimana mereka merasa tidak memiliki pahlawannya.
Penyebabnya adalah salah satunya disumbang oleh pendidikan kita dimasa lalu, beberapa dekade kebelakang.
Generasi muda kita belajar sejarah dari sejarah Indonesia yang terdistorsi. Penulisan pelajaran sejarah Indonesia dituliskan bertolak dari dasar pemikiran de-Islamisasi. Peran ulama dan santri dalam bela negara bangsa dan agama dipinggirkan dan ditiadakan.
Digantikan pelaku sejarahnya oleh yang lain yang realitas sejarahnya pada zaman itu menolak bersama ulama dan santri membangun kesatuan dan persatuan nasional dalam melawan penjajah.
Selain de'Islamisasi dalam penulisan sejarah Indonesia, ketika masa orde lama dan orde baru juga lebih mengutamakan Hinduisasi dan Budhaisasi dimana mereka menonjolkan kejayaan Kerajaan Hindu-Budha sebelum Islam masuk.
Dalam sejarah tersebut diasumsikan bahwa ketika sebelum Islam masuk dan menyebar di nusantara, telah berdiri peradaban Hindu-Budha yang agung dan maju, terbukti dari beberapa dongeng tentang majapahit dan Gadjah Mada misalnya.
Selain itu pula, dikisahkan bahwa Islam masuk melalui perang yang kemudian meruntuhkan bangunan peradaban Hindu-Budha di nusantara. Padahal dalam faktanya justru Kerajaan Hindu-Budha telah runtuh jauh sebelum berdirinya kesultanan-kesultanan Islam.
Hal tersebut diperkuat dengan asumsi bahwa penulisan sejarah masuknya Islam di nusantara ketika abad ke-13 M, padahal dalam faktanya jauh sebelum itu, Islam telah masuk dan menyebar melalui jalur perniagaan yang dibawa oleh para ulama yang mayoritas adalah saudagar antar negara.
Sehingga para pakar sejarah Islam menyatakan bahwa Islam masuk ke nusantara pada abad ke-7 M atau pada masa Khulafaur Rasyidin.
De-Islamisasi juga meminggirkan peran ulama dan santri sebagai pelaku sejarah perintis kemerdekaan. Digantikan dengan tokoh-tokoh yang menolak ulama dan santri yang perjuangan mereka dijiwai oleh ruh jihad Islam.
Salah satu faktornya menurut Bung Karno, dalam buku "Dibawah Bendera Revolusi" ia menyampaikan bahwa ulama dan santri kurang feelingnya terhadap penulisan sejarah. Ulama hanya menangkap Abu sejarahnya, bukan Api sejarahnya.
Diantara contoh upaya de'Islamisasi sejarah adalah penentuan HARDIKNAS atau Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei.
Jika kita telusuri pentapan tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan nasional, konon diambil dari hari lahirnya Ki Hadjar Dewantara pendiri Taman Siswa. Beliau dianggap sebagai tokoh pahlawan perintis pendidikan era kemerdekaan.
Kemudian, pertanyaan yang mucul kenapa sosok beliau yang dipilih? Ki Hadjar Dewantara.
Jika menelisik sejarah, jauh sebelum itu sekitar 10 tahun sebelum Taman Siswa lahir, tepatnya tahun 1912 KH. Ahmad Dahlan telah merintis perjuangan pendidikan melalui Muhammadiyah yang beliau dirikan.
Beliau mendirikan sekolah bagi yatim piatu di Kauman, Jogjakarta. Bahkan gerakan ini dilakukan hingga meluas ke seluruh nusantara, seiring dengan tumbuhnya cabang-cabang Muhammadiyah.
Pun jauh sebelum itu, beliau KH. Ahmad Dahlan telah melakukan gerakan pencerdasan kehidupan masyarakat, melalui dakwahnya.
Berbanding terbalik dengan Taman Siswa yang hanya sekupnya lokal di Jogjakarta saja dan bersifat eksklusif untuk kalangan para priyayi jawa. Konon, Taman Siswa ini awalnya adalah perkumpulan kebatinan Seloso Kliwon.
Kalau mau dikritisi lebih jauh, bukankah para Ulama dan Kyai telah jauh lebih dulu menjadi pilar pendidikan melalui pesantren? melalui masjid dan mushola yang mereka dirikan. Bahkan puluhan tahun hingga ratusan tahun sebelum Taman Siswa lahir.
Kemudian, contoh de'Islamisasi yang lainnya misal penetapan HARKITNAS atau Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 1908. Penetapan Harkitnas diambil dari lahirnya Boedi Oetomo, salah satu ormas pergerakan yang dianggap sebagai peletak pondasi pergerakan nasional. Lalu pertanyaan yang muncul, kenapa hal itu bisa terjadi?
Kalau kita telusuri catatan sejarah, ada banyak organisasi pergerakan atau partai yang lebih awal berdiri dari Boedi Oetomo, misalnya Syarikat Islam yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto, atau Hadji Oemar Said.
HOS Cokroaminoto melalui Syarikat Islam bahkan beliau berhasil mengadakan kongres Islam pertama di Bandung pada tanggal 17 Juni 1916 yang berhasil menghimpun umat dan menyampaikan serta memperkenalkan pertama kali gagasan tentang nasionalisme.
Pertanyaan selanjutnya, kenapa bukan Syarikat Islam yang dipilih?
Lagi-lagi itulah upaya de-Islamisasi. upaya untuk meminggirkan realitas sejarah Islam dan pejuangnya, yang tujuannya tidak lain adalah Hegemoni penjajah pada saat itu untuk kepentingan mereka.
Sebab dalam fakta sejarahnya tokoh-tokoh Islam, Ulama dan santri yang kerap kali mereka susah untuk ditundukan dan selalu membakar api perlawanan rakyat terhadap kepentingan penjajah.
Untuk itulah pentingnya generasi muda kita memahami sejarahnya dan memiliki idolanya sendiri. Sebab generasi muda adalah TUNAS BANGSA, ditangan merekalah peradaban Islam akan bangkit memimpin dunia kembali.
Maka dari itu pentingnya para generasi muda belajar sejarah dan menuliskan sejarah yang benar serta mengajarkannya. Bahkan Allah SWT dalam Al-Qur'an mengingatkan :
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.." (Q.S. al-Hasyr : 18)
Ayat tersebut menjadi peringatan bagi umat Islam untuk memperhatikan sejarahnya sebagai bekal dimasa depan.