SuaraPantura.com - Ada satu perusahaan yang berdiri dari masa kolonial yang dulu sangat bonafid dan bertahan hingga era 70an.
Adalah pabrik Texin, perusahaan yang dianggap mentereng di Tegal dan sekitarnya kala itu.
Bahkan menurut kisah orang tua jaman dulu, jika ada seorang pria yang menjadi karyawan pabrix texin era itu maka jika Ia ingin memilih pasangan tinggal tunjuk saja, jarang sekali ada yang menolak.
Bagi masyarakat Tegal dan sekitarnya, tentu tidak asing dengan nama Pabrik Texin. Sebuah pabrik besar dijamannya itu salah satu pabrik peninggalan Kolonial Belanda di tahun 1930an.
Bangunan Pabrik Texin sampai sekarang masih bisa dilihat jika melewati daerah Mejasem ke arah utara.
Pabrik Texin terlebih dahulu bernama NV Java Textielmaatschappij didirikan pada tahun 1936 oleh sejumlah besar perusahaan tekstil yg sebagian besar berlokasi di Twente (Belanda).
Pada tahun 1937 pabrik mulai berproduksi dan berlangsung terus sampai dengan pemerintah Jepang menguasai Indonesia serta mengambil alih pabrik dari pemerintah Belanda pada tahun 1942.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, pabrik diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia dan kemudian ditempatkan di bawah asuhan Badan Tekstil Negara.
Adapun nama pabrik diubah dari sebutan pabrik Textil Indonesia (TEXIN) Tegal. Sebagai pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1964 tentang Pendaerahan Perusahaan Industri Negara.
Dan berdasarkan surat keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 21 tahun 1965 tanggal 3 Juli 1965 lahirlah Perusahaan Industri Daerah “Sandang” Jawa Tengah dengan sebutan Pinda “Sandang” Jateng Pabrik Textil Indonesia (TEXIN) Tegal.
Yang dalam perkembangan selanjutnya Industri Sandang Nusantara II (Persero) menjadi Pabrik Tekstil (Pabriteks) Tegal.
Pabrik ini terletak di jalan Pala No. 1 Desa Dampyak Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal yang dibangun di atas tanah seluas ± 50 hektar.***