Kisah Bung Karno Menikahi Ibu Kost Tercinta, Inggit Garnasih, Hingga Pintu Gerbang Kemerdekaan
Tim Suara Pantura 01•
Sejarah
SuaraPantura.com - Rupanya kisah cinta antara anak kost dan ibu kostnya bukan hari ini saja terjadi.
Di masa lalu, sang proklamator, Bung Karno pun melakukan hal yang demikian.
Bung Karno menikahi Inggih Garnasih yang merupakan ibu kostnya semasa kuliah di Bandung.
Pertemuan antara Inggit Garnasih dan Soekarno bermula ketika Soekarno mengenyam pendidikan di Technische Hoge School (THS) Bandung yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung.
Selama masa studi tersebut Soekarno dan istri pertamanya yang ia nikahi di tahun 1921, yakni Oetari, menumpang di rumah milik Haji Sanusi yang merupakan seorang pengusaha dan anggota aktif dari Organisasi Sarekat Islam, Sanusi juga merupakan salah satu teman dari H.O.S Tjokroaminoto.
Di rumah milik Sanusi tersebut Soekarno dan Inggit pertama kali bertemu. Kala itu Inggit masih berstatus sebagai istri sah Haji Sanusi. Sebelum bersuamikan Sanusi, Inggit sempat dipersunting oleh Nata Atmaja, yakni seorang patih di Kantor Residen Priangan.
Sayangnya pernikahan Inggit dengan laki-laki itu tidak bertahan lama hingga ia menikah lagi dengan cinta pertamanya, Sanusi.
Selama menumpang di rumah Haji Sanusi, Inggit Garnasih berperan sebagai ibu kost Soekarno. Soekarno sangat menghargai Inggit, sebab wanita itu selalu menyiapkan makanan, pakaian, dan keperluan-keperluan Soekarno.
Selain itu, Inggit juga ia jadikan sebagai tempat untuk mencurahkan pikiran-pikirannya, dan sekaligus mampu membuat Soekarno tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.
Seiring berjalannya waktu, mereka berdua semakin dekat, hingga mereka menjadi sepasang kekasih.
Kedekatan antara Soekarno dan Inggit semakin terpupuk, ketika mereka sama-sama menceritakan masalah rumah tangga masing-masing.
Inggit berkeluh kesah mengenai rumah tangganya yang menurutnya tidak bahagia, ia menilai Haji Sanusi kurang mampu membahagiakannya karena Sanusi terlalu sibuk serta sering keluar rumah.
Sedangkan Soekarno berkeluk kesah mengenai Oetari, istri pertamanya sekaligus anak sulung dari H.O.S Tjokroaminoto. Soekarno menilai bahwa Oetari masih memiliki sifat kekanak-kanakan dan tidak mampu memahami jalan pikirannya.
Tidak hanya itu, terdapat perbedaan dunia antara Soekarno dan Oetari menyebabkan pernikahan mereka terasa hambar, Soekarno lebih sibuk dengan buku-buku dan aktivitas politiknya sedangkan Oetari lebih sibuk bermain permainan anak-anak pada zamannya. Hal itu membuat Soekarno merasa mencintai Oetari sebagai seorang adik, bukan istri.
Meski begitu, Inggit sempat menyarankan agar Soekarno memperbaiki hubungannya dengan Oetari.
Soekarno mengalami kegelisahan terhadap pernikahannya yang tidak kunjung bahagia dengan Oetari, hingga pada akhirnya ia memilih untuk menceraikan Oetari dan menikahi Inggit.
Pada 1923 Soekarno menceraikan Oetari dan memulangkannya ke Surabaya. Keputusannya untuk menceraikan Oetari awalnya tidak disetujui oleh orang tua Soekarno, sebab mereka merasa malu dengan H.O.S Tjokroaminoto.
Akan tetapi, Soekarno beralasan kepada orang tuanya bahwa perceraian antara dirinya dan Oetari bukan disebabkan oleh cinta belaka, melainkan karena terjadi perbedaan garis politik antara dirinya dan Tjokro.
Setelah perceraian tersebut terjadi, ia memberanikan diri menemui Haji Sanusi untuk meminta izin menikahi Inggit.
Haji Sanusi mengizinkannya sebab Sanusi seolah tahu bahwa Soekarno butuh perempuan seperti Inggit, yang mampu menjadikan Soekarno lebih matang dalam menempuh perjalanan menuju Indonesia merdeka, lalu Sanusi menceraikan Inggit.
Akan tetapi Sanusi tidak serta merta memberikan Inggit begitu saja, ada perjanjian yang ia buat bersama Soekarno. Soekarno harus mengembalikan Inggit kepada Sanusi apabila dalam kurun 10 bulan Soekarno menyakiti dan menelantarkan Inggit.
Maret 1923 pada hari yang ke-24, Soekarno dan Inggit resmi menikah di Jalan Javaveem, Bandung, tepatnya di rumah orang tua Inggit.
Pernikahan tersebut tetap berlangsung meski perbedaan usia antara keduanya sangatlah jauh, Inggit lebih tua 12 tahun dari Soekarno.
Pernikahan tersebut dikukuhkan dengan surat keterangan kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, berbahasa Sunda dan bermaterai 15 sen.
Selama menjadi istri Soekarno, Inggit setia mendampinginya dan rela mengantarkannya sampai gerbang kemerdekaan. Banyak pengorbanan yang ia lakukan, mulai dari membiayai pendidikan dan aktivitas politik Soekarno
Melalui Inggit, Soekarno tetap bisa mengetahui berbagai permasalahan bangsa yang sedang terjadi dan tetap bisa berkomunikasi dengan para aktivis pergerakan nasional lainnya meski ia telah dijebloskan ke Penjara Banceuy di Bandung oleh Belanda setelah ia tertangkap pada 19 Desember 1929 di Yogyakarta.
Istri Soekarno tersebut kerap kali menyelipkan buku-buku yang dibutuhkan Soekarno ke dalam perutnya saat ia menjenguk Soekarno. Tidak hanya buku yang ia susupkan, ia juga menyelipkan uang ke dalam makanan yang ia antarkan saat menjenguk suaminya itu, hingga Soekarno mampu membujuk penjaga untuk membelikannya surat kabar melalui uang tersebut.
Inggit juga bertugas menyelipkan pesan Soekarno ke dalam lintingan rokok yang dililit benang merah untuk disebarkan ke beberapa relasi suaminya.
Pengorbanan dan kesetiaan Inggit tersebut dilakukannya selama hampir 20 tahun.
Seiring berjalannya waktu, pernikahan Inggit dan Soekarno mengalami keretakan, tepatnya dua tahun sebelum Indonesia merdeka. Hal ini terjadi ketika Soekarno diasingkan ke Bengkulu oleh Belanda pada 1937.
Di tempat pengasingan tersebut Soekarno menjadi seorang guru dan bertemu dengan gadis remaja, putih dari seorang tokoh Muhammadiyah, namanya Fatimah, yang kini dikenal sebagai fatmawati.
Soekarno jatuh cinta kepada Fatmawati dan berniat menikahinya. Ia berharap pernikahannya dengan Fatmawati mampu memberikannya keturunan, sebab ia belum mendapatkan anak selama menikahi Inggit.
Soekarno tidak bermaksud menceraikan Inggit sebab ia tetap menyayanginya. Maka dari itu ia memberikan opsi, yakni memadunya bersama Fatmawati dan berjanji menjadikan Inggit sebagai Ibu Negara atau “First Lady” saat Indonesia merdeka.
Akan tertapi Inggit lebih memilih untuk bercerai dengan Soekarno daripada harus dimadu bersama Fatmawati dan meminta untuk dipulangkan ke Bandung.
Januari 1943 pada hari ke 29, Inggit dan Soekarno resmi bercerai. ***