Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Kisah Desa Legetang, Cerita Desa yang Hilang Dalam Semalam Azab dari Penduduk yang Suka Maksiat

Tim Suara Pantura 03•
Sejarah

SuaraPantura.com - Baru ini pengguna media sosial TikTok mengangkat sebuah cerita kisah hilangnya sebuah desa di kawasan Dieng. Wilayah tersebut berada di Dusun Legetang, Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Cerita mengenai kisah tragis hilangnya Dusun Legetang tersebut hilang akibat tertimbun longsor secara tiba-tiba yang terjadi pada 16 April 1955.

Cerita tersebut sampai sekarang masih terdengar di masyarakat sekitar. Bahkan, untuk mencari bekas Dusun Legetang yang hilang dalam waktu semalam sangat mudah. Masih terdapat satu tugu yang tingginya sekitar 10 meter dan menjadi tanda letak lokasi dukuh tersebut.

Inilah kisah tentang Dusun Legetang, yang masuk dalam wilayah Banjarnegara, Jawa Tengah. Kejadiannya di tahun 1955.

Dukuh Legetang (Dusun Legetang) adalah sebuah dukuh makmur yang lokasinya tidak jauh dari dataran tinggi Dieng-Banjarnegara, sekira 2 kilometer di sebelah utaranya. Dusun Legetang terletak di desa Pekasiran, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, masih berada di wilayah pegunungan Dieng – Petarangan. Secara astronomis terletak pada 7.19416667S, 109.8652778E.

Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta
Baca Juga · Sejarah
Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta

Penduduknya cukup makmur dan kebanyakan para petani yang cukup sukses. Mereka bertani sayuran, kentang, wortel, kubis, dan sebagainya.

Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi Dusun Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah dan sayur yang dihasilkan juga lebih baik dari yang lain.

Namun bukannya mereka bersyukur, dengan segala kenikmatan ini mereka malah banyak melakukan kemaksiatan. Barangkali ini yang dinamakan “istidraj” atau disesatkan Allah dengan cara diberi rezeki yang banyak namun orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan.

Masyarakat Dusun Legetang umumnya suka bermaksiat. Perjudian di dukuh ini merajalela, begitu pula minum-minuman keras. Setiap malam mereka mengadakan pentas Lengger, sebuah kesenian tradisional yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinahan, dimana para penari pentas Lengger bisa diajak berbuat mesuk bersama laki-laki Dukuh Lagetang. Bahkan ada juga anak yang malah melakukan kemaksiatan bersama ibunya sendiri. Beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh ini.

Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo
Baca Juga · Sejarah
Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo

Pada suatu malam, 17 April 1955, turun hujan yang sangat lebat di dukuh itu. Tapi masyarakat Dusun Legetang masih saja tenggelam dalam kemaksiatan. Barulah pada tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara keras seperti sebuah bom besar dijatuhkan di sana, atau seperti suara benda yang teramat berat jatuh.

Suara itu terdengar sampai ke desa-desa tetangganya. Namun malam itu tidak ada satu pun yang berani keluar karena selain suasana teramat gelap, jalanan pun sangat licin.

Pada pagi harinya, masyarakat yang ada di sekitar Dusun Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu barulah keluar rumah dan ingin memeriksa bunyi apakah itu yang terdengar amat memekakkan telinga tadi malam.

Mereka sangat kaget ketika di kejauhan terlihat puncak Gunung Pengamun amun sudah terbelah, rompal. Dan mereka lebih kaget bukan kepalang ketika melihat Dusun Legetang sudah tertimbun tanah dari irisan puncak gunung tersebut.

Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru
Baca Juga · Sejarah
Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru

Bukan saja tertimbun tapi sudah berubah menjadi sebuah bukit, dengan mengubur seluruh dukuh beserta warganya. Dusun Legetang yang tadinya berupa lembah, kini sudah menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan Dieng...

Para masyarakat sekitar terheran-heran. Seandainya Gunung Pengamun amun sekedar longsor, maka longsoran itu pasti hanya akan menimpa lokasi di bawahnya. Akan tetapi kejadian ini jelas bukan longsornya gunung.

Antara Dusun Legetang dan Gunung Pengamun amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Namun sungai dan jurang itu sama sekali tidak terkena longsoran. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu malam tadi terangkat dan jatuh menimpa Dusun Legetang.

Siapa yang mampu mengangkat separuh gunung itu kalau bukan Allah Yang Maha Kuasa?

Untuk memperingati kejadian itu, pemerintah setempat mendirikan sebuah tugu yang hari ini masih bisa dilihat siapa pun.***

Tags:
#masyarakat#cerita#hilang#dieng#tertimbun longsor#kisah tragis#dusun legetang#gunung pengamun amun#kisah hilangnya dusun legetang#cerita dusun legetang
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…