SuaraPantura.com - Padaharja merupakan salah satu Desa di kawasan pantura yang masuk di Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal.
Desa ini mempunyai tiga pedukuhan yakni Dukuh Kedawung, Dukuh Kedondong dan Dukuh Padamurah.
Padaharja memiliki keunikan corak ragam budaya, serta ideologi yang sangat dinamis.
Jejak keanekaragaman kaum Abangan, kejawen dan agamis kini bisa membaur menjadi persaudaraan erat dalam bingkai persaudaraan warga desa Padaharja.
Seperti namanya, Padaharja secara harfiah terdisi dari dua kata yakni 'pada' dan 'harja'.
"Pada" merupakan kata depan yang menunjukan tempat/kondisi, sedangkan "Harja" bermakna Selamat. Padaharja berarti pada kondisi selamat.
Pemberian nama ini menurut beberapa sejarah tutur yang beredar di masyarakat tak lepas dari latar belakang kondisi desa sebelum terbentuk.
Konon wilayah yang kini menjadi Desa Padaharja awalnya adalah wilayah konflik yang tak lepas dari krisis moral, atau orang jawa dulu menyebutnya dengan istilah jaman Kalabendu.
Beberapa kelompok saling bertikai dan menunjukan keunggulannya masing-masing. Tak jarang konflik ini berakhir dengan pertumpahan darah.
Kaum kejawen menunjukkan kedigdayaannya, kaum abangan menunjukkan solidaritasnya sementara kaum agamis menonjolkan dalil-dalil agamanya.
Walhasil, konflik tersebut berlangsung secara berkepanjangan dan terus melahirkan banyak korban dan pertumpahan darah.
Konflik tersebut membuat tatanan masyarakat kacau balau. Moralitas porak poranda. Sulit membedakan antara yang benar dan salah. Kondisi inilah yang kemudian disebut zaman Kalabendu.
Kemudian datanglah murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga bernama Syekh Hasan Munadi atau dikenal juga dengan Mbah pelabuhan ke tanah konflik tersebut.
Menurut salah satu sumber yang kami temui, Syekh Hasan Munadi diutus secara khusus oleh Kanjeng Sunan Kalijaga untuk memperbaiki kondisi di wilayah tersebut.
Syekh Hasan Munadi atau Mbah Pelabuhan tersebut dibekali dengan titah membangun peradaban madani. Yakni peradaban yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
Karena masuk ke daerah konflik tersebut, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga Syeikh Hasan Munadi selain dibekali dengan ajaran Islam mumpuni, secara khusus beliau juga diberikan ilmu khusus yakni Ajian Pupuh Bayu.
Ajian Pupuh Bayu dalam kepercayaan kadigdayaan tanah jawa merupakan ajian tingkat tinggi yang mampu melumpuhkan sekaligus menyerap tenaga atau ilmu lawan.
Ajian Pupuh Bayu dari Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut berupa lantunan Adzan yang kemudian dimanifestasikan Syeikh Hasan Munadi untuk menancapkan pondasi keyakinan yang utuh bagi masyarakat untuk mengenal Tuhannya.
Ajian Pupuh Bayu dimanifestasikan Syeikh Hasan Munadi dalam konteks Mengagungkan Nama Tuhan dan merendahkan diri sebagai makhluk dikala Takbir.
Meluruhkan segala pemahaman keliru dan menancapkan pemahaman yang benar dan menumbuhkan kecintaan yang utuh kepada Allah dan Rasul Nya melalui Persyahadatan.
Dengan kecerdasan dan kecakapan serta karakter welas asihnya, Syeikh Hasan Munadi berhasil meredam konflik di daerah tersebut.
Syeikh Hasan Munadi mampu melunturkan dan meluruskan kadigdayaan masyarakat kelompok Kejawen di wilayah tersebut dengan pemahaman bertuhan yang utuh.
Serta menancapkan visi kemenangan sebagai bagian daripada pencapaian pearaban Madaniah.
Beliau juga berhasil memberikan pemaknaah welas asih bagi kaum abangan, dan memperdalam ajaran kaum agamis setempat sehingga bisa dibangunkan harmoni perdamaian ketiga kelompok tersebut.
Sang Syeikh kemudian memberikan nama Padaharja pada daerah tersebut yang maknanya adalah penuh atau diliputi keselamatan.
Selanjutnya karena kecintaan beliau terhadap masyarakat Padaharja, hingga akhir hayatnya Syeikh Hasan memilih menetap di padaharja dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Tak hanya itu, Syeikh Hasan Munadi juga menaruh perhatian khusus bagi anak-anak di daerah tersebut. Beliau dengan telaten memberikan pelajaran pengenalan agama kepada anak-anak di Padaharja.
***