Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Dimakamkan di Tegal, Berikut Kisah Amangkurat I, Membunuh 6000 Ulama dalam 30 Menit

Desky Danuaji•
Sejarah

SuaraPantura.com - Kabupaten Tegal memiliki kompleks makam bersejarah tempat disemayamkannya Raja Amangkurat I, yakni komoleks pemakaman Tegal Arum yang terletak di Dusun Pakuncen, Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal Propinsi Jawa Tengah.

Komplek Makam Tegal Arum kabupaten Tegal merupakan makam Amangkurat I atau Sri Susuhunan Amangkurat Agung yang merupakan raja Kesultanan Mataram yang memerintah tahun 1646-1677.

Ia adalah anak dari Sultan Agung Hanyokrokusumo. Ibunya bergelar Ratu Wetan, yaitu putri Tumenggung Upasanta bupati Batang (keturunan Ki Juru Martani). Amangkurat I memiliki dua orang permaisuri.

Putri Pangeran Pekik dari Surabaya menjadi Ratu Kulon yang melahirkan Raden Mas Rahmat, kelak menjadi Amangkurat II. Sedangkan putri keluarga Kajoran menjadi Ratu Wetan yang melahirkan Raden Mas Drajat, kelak menjadi Pakubuwana I.

Pada masa pemerintahannya, Amangkurat I menjalin hubungan dengan VOC yang berpusat di Batavia.

Hal ini sangat tidak sejalan dengan ayahnya, Sultan Agung dimana sangat memusuhi dan mengobarkan perang dengan VOC.

Selain itu, Kisah kekejaman Raja Amangkurat I yang membunuh tidak kurang dari 6.000 ulama dan keluarga mereka, menjadi satu-satunya periode sejarah kerajaan modern paling kelam dan tidak beradab. Bahkan atas nama kekuasaan, Amangkurat I tega membunuh adik dan ayah mertuanya sendiri.

Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta
Baca Juga · Sejarah
Fakta Pertempuran Thermopylae 300 Sparta

Sayangnya, tidak ada sumber sejarah lokal yang merinci peristiwa tersebut. Babad-Babad Jawa pun tidak. Satu-satunya sumber yang bisa diandalkan adalah catatan Rijkloff van Goens, pejabat VOC yang saat itu bertugas di Mataram.

Dalam catatan tersebut, disebutkan bahwa pembantaian berlangsung sangat cepat. Dalam waktu kurang dari 30 menit, sebanyak 6.000 ulama tewas dibantai. Peristiwa pembantaian terjadi, di bawah terik matahari, pada 1648.

Pada 1647, sehubungan dengan skandal yang terjadi pada tahun 1637 silam, Amangkurat I yang merupakan raja baru mengirim Wiraguna ke Daerah Tapal Kuda dengan kedok mengusir Kerajaan Blambangan dari Jawa.

Tujuan sebenarnya adalah untuk membunuh Wiraguna selagi jauh dari keluarga dan pendukungnya. Kemudian, Amangkurat I memerintahkan keluarganya dan yang terlibat dalam skandal dibunuh.

Pangeran Alit yang melihat rekannya dibunuh kemudian memberontak dengan menyerang keraton Plered.

Serangan itu dapat ditumpas dan Pangeran Alit sendiri terbunuh dalam serangan itu. Takut akan ancaman lebih lanjut dari para ulama yang mendukung Pangeran Alit, Amangkurat I memerintahkan pembantaian terhadap para ulama beserta keluarganya.

Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo
Baca Juga · Sejarah
Catacombe dei Cappuccini: Fakta Pemakaman Palermo

Menurut laporan Rijcklof van Goens, sekitar 5.000 hingga 6.000 orang yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak dibantai. Banyak rekan-rekan lama Sultan Agung yang pernah mengabdinya juga ikut dibunuh.

Keluarga dekatnya juga turut menjadi korban. Pada 1659, Amangkurat I memerintahkan Pangeran Pekik, ayah mertuanya, beserta keluarganya dibunuh.

Hal ini disebabkan karena Pangeran Pekik berani mengambil seorang gadis yang bernama Rara Oyi, yang hendak dijadikan sebagai selirnya, untuk dinikahkan pada Raden Mas Rahmat.Pangeran Purbaya, pamannya, hampir menjadi korban pembunuhan ketika ia diselamatkan oleh ibunya Amangkurat I.

Pada pertengahan 1670-an, ketidakpuasan para pejabat Mataram terhadap raja berubah menjadi pemberontakan terbuka, dimulai dari Jawa Timur.

Raden Mas Rahmat bersekongkol dengan Panembahan Rama dari Klaten, yang mengusulkan siasat di mana putra mahkota membiayai menantu Rama, Trunajaya, untuk memulai pemberontakan di Jawa Timur.

Raden Trunajaya, seorang pangeran dari Madura, memimpin pemberontakan yang didukung oleh para pejuang dari Kesultanan Gowa, dipimpin oleh Karaeng Galesong (salah satu putra Sultan Hasanuddin), yang merebut Keraton Plered pada pertengahan 1677.

Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru
Baca Juga · Sejarah
Fakta Unik Ollantaytambo, Kota Inka Bersejarah di Peru

Dalam pertempuran, pasukan Trunajaya mengalahkan pasukan kerajaan di Gegodog (1676), lalu berhasil menduduki hampir seluruh pantai utara Jawa dan merebut keraton Mataram di Keraton Plered (1677).

Raja Amangkurat I meninggal ketika melarikan diri dari keraton. Amangkurat I meninggal di Wanayasa (suatu desa di Banyumas utara) ketika dalam pelarian, dan berwasiat agar ia dimakamkan di dekat gurunya.

Lokasinya kini ada di Pesarean, Adiwerna, Tegal. Karena tanahnya berbau harum, daerah tempat Amangkurat I dimakamkan dijuluki "Tegalarum" atau "Tegalwangi". Dengan demikian, Amangkurat I dijuluki dengan nama anumertanya, Sunan Tegalarum atau Sunan Tegalwangi.

Ia digantikan oleh anaknya, Amangkurat II yang meminta bantuan kepada VOC dan Bupati Ponorogo serta menjanjikan pembayaran dalam bentuk uang dan wilayah. Keterlibatan VOC berhasil membalikkan situasi. Pasukan VOC dan Mataram merebut kembali daerah Mataram yang diduduki, dan merebut ibu kota Trunajaya di Kediri (1678).

Pemberontakan terus berlangsung hingga dekat keraton yang dijaga pasukan Ponorogo hingga Trunajaya ditangkap VOC pada akhir 1679, dan juga kekalahan, kematian atau menyerahnya pemimpin pemberontakan lain (1679–1680). Trunajaya menjadi tawanan VOC, tetapi dibunuh oleh Amangkurat II saat kunjungan raja pada 1680.
***

Tags:
#ulama#tegal#membunuh#amangkurat i
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…