SuaraPantura.com - Setelah lima tahun absen, Teater RSPD Tegal kembali mendulang kesuksesannya pada produksinya ke 73 yang menampilkan lakon "Amangkurat - Amangkurat" naskah Goenawan Muhamad dengan sutradara Yono Daryono.
Pementasan berlangsung di teater arena Taman Budaya Tegal (TBT), pada Sabtu 27 Juli 2024. Ada dua sesi dalam pementasan Amangkurat - Amangkurat, yakni pada pukul 16.00 WIB dan pukul 20.00 WIB.
Setidaknya pementasan Amangkurat - Amangkurat ini untuk mengobati kecintaan masyarakat terhadap teater rspd tegal yang selama lima tahun absen.
Menurut salah satu penonton, dari kapasitas 700 orang di teater arena Taman Budaya Tegal, selama dua sesi hampir penuh dengan penonton.
"Ini pertunjukan teater yang spektakuler," ujar salah satu penonton.
Pementasan Amangkurat sangat kental menonjolkan idiom-idiom Jawa, seperti pada penggarapan artistik dan musiknya.
Disisi lain sang produser Tetuko, mengajak penonton saat memasuki ke gedung pertunjukan dibawanya pada suasana hening dengan aroma melati menyebar di setiap sudut dan bau asap kemenyan menembus setiap penonton sehingga pementasan Amangkurat terkesan sangat magis.

Keluarnya tokoh Amangkurat Sepuh dalam kondisi sakit parah di gotong oleh empat prajurit nampak seperti menggotong keranda jenazah yang sebelumnya diawali adegan peperangan prajurit Mataram, sampai terjadinya pergolakan antara Amangkurat dengan Ki Juru Taman, yang di perankan oleh Marjo Klengkam.
Naskah Amangkurat yang di tulis Gunawan Muhamad menceritakan sisi kelam sejarah Jawa dan intrik kekuasaan Mataram pasca Sultan Agung (1613-1645 ).

Wijanarto seorang sejarawan mengungkapkan bahwa peristiwa itupun telah ditulis oleh sejarawan Hermanus Johannes de Graaf dan catatan pegawai VOC Rijk van Goens.
"Dalam historiografi tradisional Mataram, Ki Juru Taman adalah abdi dalem berupa sosok makhluk halus semasa Sultan Agung. Ia pelindung dan futurolog Mataram," jelas Wijanarto.
Ketakutan pada masa lalu menjadikan Amangkurat Sepuh seperti didera traumatik. Kehilangan dan tersingkir dari keraton serta pengkhianatan Adipati Anom (diperankan Rudi Iteng) sang putra mahkota yang bersekutu dengan Trunajaya dan Panembahan Kajoran menambah derita jiwa Amangkurat Sepuh, yang diperankan oleh Bontot Sukandar.
Lakon Amangkurat - Amangkurat dimainkan oleh Bontot Sukandar, Marjo Klengkam, Nowi Sumardi, Rudi Iteng, Ubaedillah, Abiet Sabariang, Agus Purnomo, Ida Fitriyanti, Muhamad Ali, skenografi Wowok Legowo, Penata Koreo Panji Pramaya, Lighting dan artistik Ricky Rifsanjani, Penata musik Ki Haryo Susilo, Ki Sunardi, Bambang Subandriyo dan Priyo Utomo. Kostum Sri Damayanti dan Priyambodo serta di dukung oleh sejumlah penari.***
