Suara Pantura – TEGAL, Kepedulian terhadap kelestarian gajah justru melahirkan sebuah inovasi unik dari Tegal. Seorang pria asli daerah ini, Supardi Kerta Bayu, menghadirkan pipa rokok berbahan gading KW yang secara tampilan nyaris tak bisa dibedakan dari gading asli, namun ramah lingkungan dan bebas dari eksploitasi satwa.
Jika dilihat sekilas, pipa-pipa yang tersusun rapi di etalase kecil milik Supardi tampak identik dengan pipa gading asli. Mulai dari motif, serat, warna, hingga bobotnya, hampir 99% menyerupai gading yang selama ini beredar luas di pasaran.
Ditemui di kediamannya di Jalan Kemambang, Desa Pecangakan RT/06 RW/02, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Supardi menuturkan bahwa ide ini berangkat dari kegelisahan pribadinya melihat maraknya perburuan gading gajah.
Ia mengaku tak ingin generasi mendatang hanya mengenal gajah lewat gambar atau tayangan dokumenter. Di sisi lain, tingginya nilai estetika dan historis gading membuat benda tersebut terus diburu, termasuk untuk kerajinan pipa rokok bernilai jual tinggi.
“Awalnya saya sering melihat perokok pakai pipa dari gading, tulang ikan, atau tulang sapi. Dari situ muncul keinginan bikin alternatif yang lebih murah dan tidak merusak alam,” ujar Supardi kepada Suara Pantura, Minggu (8/2/2026).
Pada tahap awal, Supardi sempat menggunakan serbuk gading. Namun seiring berjalannya waktu dan pertimbangan etis, bahan tersebut benar-benar ditinggalkan. Kini, ia memilih limbah cangkang telur sebagai bahan utama.
“Cangkang telur saya ambil dari warteg, pedagang nasi goreng, dan tempat makan lainnya. Limbah itu saya olah, dihancurkan jadi serbuk, lalu diproses,” jelasnya.
Proses pembuatan satu batang pipa gading KW ini memerlukan waktu sekitar tiga hari hingga satu minggu, tergantung kondisi cuaca. Produk tersebut ia beri nama Darling, singkatan dari daur ulang gading, meski sama sekali tidak lagi menggunakan serbuk gading asli.
“Soal rasa, saya berani jamin. Silakan dibuktikan sendiri,” katanya mantap.
Supardi, pemilik merek Diva Darling, mulai menekuni kerajinan ini sejak tahun 2022. Di masa awal, karyanya sempat diremehkan dan dipandang sebelah mata. Namun perlahan, produk tersebut mulai mendapat tempat di hati para penikmat pipa rokok.
“Kalau pipa gading KW yang rasanya enak, ya Darling. Saya yakin ini satu-satunya di Indonesia, asli produk Tegal,” ucapnya dengan bangga.
Berbeda dari produk serupa yang umumnya menggunakan resin, pipa buatan Supardi justru memakai lem gigi medis yang biasa digunakan dokter untuk tambal gigi, dipadukan dengan bahan aman lainnya seperti pewarna makanan, garam, dan material natural lain.
Ia bahkan berani memberikan garansi rasa kepada konsumennya. Mulai dari servis ulang sesuai permintaan, hingga penukaran produk baru jika pembeli merasa kurang puas.
“Saya belajar terus supaya rasanya bisa sama, bahkan kalau bisa lebih enak dari pipa gading asli,” jelasnya.
Dalam satu bulan, Supardi mampu memproduksi lebih dari 150 batang pipa, dengan ukuran beragam sesuai pesanan. Panjang pipa berkisar antara 10 hingga 25 sentimeter, dengan harga mulai Rp200 ribu hingga Rp1 juta, serta harga khusus untuk pembelian di atas 10 unit.
Soal keamanan, Supardi memastikan produknya bebas zat kimia berbahaya. Ia bahkan menggunakan metode sederhana namun unik—mengamati reaksi serangga.
“Kalau semut saja mau mendekat dan mengerubungi saat proses pembuatan, berarti bahannya aman. Kalau ada zat kimia berbahaya, semut pasti menjauh,” ujarnya.
Ia menambahkan, merek Darling telah mengantongi sertifikat hak paten, sehingga tidak bisa ditiru. Hingga kini, pipa gading KW Darling disebut-sebut sebagai satu-satunya produk sejenis yang benar-benar lahir dari Tegal.
“Ini murni bahan natural, bukan resin. Darling hanya ada satu, dan itu dari Tegal,” pungkas Supardi.