SuaraPantura.com - Buntut pencemaran sungai Kali Comal akibat aktifitas pertambangan pasir di wilayah Bantarbolang, Pemalang yang diadukan warga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pemalang melakukan langkah tindak lanjut.
Hal ini disampaikan oleh Plt.Kepala DLH Kabupaten Pemalang, Dian Ika Siswanti.
Dalam keterangan tertulisnya kepada Suara Pantura, Dian menyebut telah menindaklanjuti aduan warga tersebut dengan turun ke lapangan dan sempat menemui pihak pemerintahan Desa Pabuaran Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang.
"Berdasarkan keterangan Pemerintah Desa Pabuaran, pihak desa telah melakukan koordinasi dengan pengelola Pertambangan a.n. Sukim yang berlokasi di Dusun Semilir, Desa Bantarbolang, Kecamatan Bantarbolang" ungkap Dian.
Dijelaskan bahwa dari hasil koordinasi tersebut pihak Desa dan pengusaha menyepakati beberapa hal.
Diantaranya aktifitas cuci pasir dilaksanakan pada malam hari.
Selanjutnya pihak DLH Kabupaten Pemalang segera melakukan tindak lanjut yakni akan berkoordinasi dengan melakukan koordinasi dengan Cabang Dinas ESDM Wilayah Slamet Utara.
"Selanjutnya Dinas Lingkungan Hidup Kab. Pemalang akan melakukan koordinasi dengan Cabang Dinas ESDM Wilayah Slamet Utara," terangnya.
Diberitakan sebelumnya, Saat banyak sumur warga yang kering dan mengandalkan sumber air di Kali Comal saat kemarau, kini warga Desa Pabuaran Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang justru mengeluhkan kondisi Kali Comal Pemalang yang keruh dan tercemar.
Hal ini membuat banyak warga kehilangan sumber air untuk minum dan keperluan lainnya.
Tercemarnya Kali Comal Pemalang ini disinyalir akibat aktifitas pembuangan limbah cair oleh salah satu pertambangan yang ada di Desa Bantarbolang Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang.
Hal ini disampaikan oleh salah satu warga, Trisno(43).
Warga Desa Pabuaran Kecamatan Bantarbolang ini menyebut kondisi air sungai Kali Comal yang notabene menjadi sumber air warga saat kemarau justru saat ini tercemar dan keruh.
"Air sungai Kali Comal di Desa Pabuaran Kecamatan Bantarbolang ini menjadi salah satu sumber air bagi warga saat kemarau, tapi kini keruh dan tercemar akibat limbah salah satu pertambangan di Desa Bantarbolang," ungkapnya.
Trisno menyebut dirinya sempat menemui pemilik pertambangan untuk mencari solusi.
Menurut Trisno, pihak pemilik mengakui bahwa penyebab keruhnya sungai tersebut akibat aktifitas pertambangannya karena embung limbah tidak mencukupi sehingga meluber ke saluran sungai.
Pemilik juga menyampaikan bahwa pernah memberi kompensasi untuk pembuatan sumur warga melalui pihak perangkat desa.
Tidak disebutkan siapa saja pihak perangkat Desa yang dimaksud.
"Saya bersama warga yang lain sudah pernah bertemu dengan pihak pemilik, beliau menyampaikan pernah memberi kompensasi kepada perangkat desa untuk pembuatan sumur, tapi kami sebagai warga tidak mengetahui sumur mana yang dimaksud, yang jelas kami masih kesulitan air dan belum menemukan solusi," ungkap Trisno.***