Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Cerita Horor Sopir Truk Pantura: Masuk Alam Ghaib, Tegal ke Kudus Ditempuh 2 Hari

Andri Susanto•
Jateng Pantura

SuaraPantura.com - Banyak cerita horor sopir truk Pantura yang dialami sopir pada perjalanan malam hari.

Meski banyak cerita horor sopir truk Pantura yang terjadi di malam hari, namun tetap saja sopir truk banyak memilih perjalanan malam dengan berbagai alasan.

Sebagian cerita horor sopir truk Pantura ini memang tak banyak diekspos, jadi hanya diceritakan dari mulut ke mulut, dari warung kopi ke warung kopi.

Masuk ke alam ghaib
Seperti biasa, malam itu seorang sopir truk Pantura bernama Baran dan kernetnya Kawel melakukan perjalanan malam hari.

Baran memang lebih suka berkendara pada malam hari, di samping karena jalan yang lebih lengang juga karena bisa mampir di....ya kalian tahulah biasanya sopir mampir kemana. Iya betul, warung kopi.

Tuban adalah tujuan Baran malam ini. Setelah memeriksa muatan bersama Kawel, Baran segera menghabiskan kopi dan rokoknya sambil ngobrol.

"Wel, ini malam jumat apa ya? kliwon bukan?," tanya Baran ke Kawel yang masih memutari bak truk memastikan muatannya aman.

"Waduh...ga tau Om, coba saya cek di kalender," jawab Kawel sambil bergegas menuju ruang tempat biasa sopir dan kernet berkumpul menunggu muatan.

Sejurus kemudian Kawel kembali "Iya Om, jumat kliwon. Kenapa memangnya Om?," ujar Kawel sambil bertanya.

"Ga papa, pengin tahu aja," jawab Baran singkat.

Setelah kopi dan rokoknya habis, Baran segera bergegas ke ruang kemudi dan menghidupkan mesin. Truk gandeng yang nampak tua dengan muatan yang nampak berat itu pun sekarang nampak sangar dengan suara mesinnya yang meraung saat Baran menginjak pedal gas.

Kawel yang sedang berada di kamar mandi tak jauh dari lokasi parkir truknya segera berlari dan naik sambil menyambar kertas berisi nama-nama toko yang akan mereka drop barangnya esok pagi.

"Surat jalan aman?," tanya Baran singkat saat truk keluar gerbang.

"Aman om, ada 5 toko," jawab Kawel sambil menghitung surat jalan yang ia terima dari kepala kendaraan sore tadi.

Truk gandeng tua ituun mulai menyusuri gelapnya malam di jalur Pantura yang mulai sepi.

Baran melirik jam tangannya, persis jam satu dini hari. Truk gandeng berjalan pelan membelah Pantura yang dingin.

Keanehan terjadi saat Baran dan Kawel memasuki jalan lingkar Pemalang. Tiba-tiba jalan diselimuti kabut tipis yang lama kelamaan semakin tebal.

"Tumben ada kabut," kata Kawel memecah kesunyian.

"Iya nih, aneh. Hampir ga keliatan jalannya," jawab Baran.

Baran terus menginjak pedal gas dengan kecepatan konstan sambil memperhatikan sekeliling. Ia merasa aneh karena tak melihat bangunan di pinggir jalan.

Memang jalan lingkar Pemalang ini tak banyak rumah di kanan dan kirinya, tapi seharusnya tidak kosong seperti yang dilihat Baran.

Dorong Swasembada Susu, Magelang Dibidik Jadi Sentra Sapi Perah Baru di Jateng
Baca Juga · Jateng Pantura
Dorong Swasembada Susu, Magelang Dibidik Jadi Sentra Sapi Perah Baru di Jateng

Makin lama kabut mulai tipis dan hanya menyisakan sedikit seperti situasi kalau ada yang membakar sampah di pinggir jalan.

Baran dan Kawel sedikit lega. Truk masih berjalan konstan, namun kali ini agak lebih cepat dari sebelumnya setelah berada di tengah kabut tebal.

Setelah sekian lama berjalan, Kawel yang sedari tadi memperhatikan kanan dan kiri jalan mulai merasakan keanehan, sedangkan Baran yang fokus ke arah depan sepertinya tidak memperhatikan keanehan di sekitarnya.

Kawel melihat kanan dan kiri mereka kini hutan dengan pohon besar dan tinggi. Sedangkan seharusnya jalur setelah jalan lingkar Pemalang itu terbuka dan banyak rumah.

"Ini kita di mana ya Om, kok suasananya aneh begini," ujar Kawel sambil menghidupkan kipas angin kecil di pojok dasboard. Ya, malam itu terasa panas dan angin sangat kecil padahal kaca pintu terbuka.

Baran yang mulai sadar kemudian melihat sekeliling. Benar saja, kanan kiri mereka kini hutan dengan pohon-pohon yang besar dan tinggi.

Tak ingin lebih jauh melajukan truk gandengnya, Baran menyuruh Kawel membuka Google Maps untuk memastikan.

"Nggak ada sinyal Om, HP Om juga sama ga ada sinyalnya," kata Kawel sambil melirik HP Baran yang berada di antara kursi mereka.

Tak jauh dari posisi kendaraan, sekitar 100 meter di depan mereka ada cahaya seperti sebuah warung di pinggir jalan. Baran pun bermaksud bertanya kepada pemilik warung.

Benar saja, ada pedagang buah dengan penerangan lampu petromax. Baran pun menghentikan kendaraannya kemudian mengajak Kawel turun.

Pedagang buah yang nampak seperti perempuan dengan rambut panjang mengenakan baju berwarna merah duduk membelakangi mereka.

"Aneh ini orang jualan kok duduknya menghadap ke belakang," gumam Baran dalam hati sambil memberi kode ke Kawel untuk bertanya.

"Maaf Mba, eh Bu, mau nanya ini daerah mana ya?," kata Kawel sambil pura-pura memilih semangka.

Pedagang buah itu tiba-tiba berputar dan menghadap mereka. Benar saja itu perempuan berumur sekitar 40 tahun.

Baran melihat keanehan saat perempuan itu berbalik, ia berputar menggunakan kursi kantor karyawan tempatnya bekerja. Padahal kursi perempuan itu dari kayu, harusnya tidak bisa ia membuat gerakan seperti itu, kecuali....ya kecuali perempuan itu melayang.

"Kamu mau beli buah atau mau nanya jalan?," tanya perempuan itu datar.

Kawel yang ditanya pun agak gugup dan menjawab membeli buah sekalian bertanya arah jalan ke Semarang.

"Mau beli apa?," tanya perempuan itu datar.

"Eh...ini semangka, iya semangka aja," jawab Kawel gugup.

"Dua puluh ribu, nggak ada plastiknya, bawa aja," kata penjual buah.

KPK Taksir Kerugian Negara Kasus Cukai Kudus Capai Triliunan Rupiah
Baca Juga · Jateng Pantura
KPK Taksir Kerugian Negara Kasus Cukai Kudus Capai Triliunan Rupiah

Kawel segera merogoh sakunya dan mengambil uang dua puluh ribu. Saat ia menyerahkan uang itulah Kawel melihat tangan perempuan itu keriput dan sangat pucat. Kuku perempuan itu juga panjang, kotor dan berwarna hitam.

"Kalau mau ke Semarang lurus aja," kata penjual buah mengagetkan Kawel yang pikirannya mulai kacau.

Kawel yang menyadari keanehan segera menarik Baran yang sepertinya juga merasakannya. Mereka langsung tancap gas. Sesaat Kawel melirik ke arah spion, benar saja warung buah itu sudah tidak ada.

Ia melirik ke arah semangka yang ia letakan di belakang kursi, masih ada. Kawel memegangnya dan memastikan itu benar-benar semangka. Nyatanya itu memang semangka. Aneh, gumamnya.

Hampir setengah jam mereka membelah jalan yang sepi dengan suasana hutan tanpa ada kendaraan dari arah berlawanan maupun yang mendahului mereka.

Dari kejauhan Kawel melihat ada cahaya yang sepertinya sebuah warung. Makin lama makin dekat. Benar tebakan kalian, itu warung buah yang tadi. Tapi kali ini tak ada yang menungguinya.

"Om itu warung yang tadi," kata Kawel lirih sambil menutup kaca pintu mobil karena mulai merasa takut.

"Iya, sama kayaknya. Udah berdoa aja, jangan dihiraukan," kata Baran coba menenangkan.

Tak seberapa lama, mereka kembali melewati warung buah yang sama. Kali ini juga tanpa penjualnya. Baran tak mampu lagi menyembunyikan ketakutannya. Ia juga menutup kaca mobilnya, menyisakan sedikit untuk ventilasi.

"Kalau nanti ketemu warung buah lagi, kamu buang semangkanya ya," ujar Baran.

Kawel yang sudah ketakutan dari tadi ingin menolak tapi tak kuasa. Ia pun mengambil semangka di belakang kursinya dan bersiap membuang semangka tersebut bila melewati warung buah yang sama.

Benar saja, 15 menit kemudian dari kejauhan nampak cahaya seperti warung yang sudah tiga kali mereka lewati. Tapi ada yang aneh, di depan warung ada sesuatu yang tergantung seperti tubuh manusia.

Iya, itu adalah tubuh wanita penjual buah berbaju merah. Saat kendaraan makin dekat terlihat jelas tubuh wanita itu tergantung di lehernya. Matanya melotot dengan lidah menjulur hampir menyentuh tanah.

Kawel yang sudah bersiap sedari tadi membuang semangka itu tak kuasa menggerakkan tangannya.

"Buang Wel buang," teriak Baran menirukan 'To ganjel To' yang viral di sosmed.

Setengah kaget Kawel pun membuang semangka tersebut dan segera menutup mata sambil menaikan kaca pintu mobilnya.

Tak seberapa lama tiba-tiba kabut pekat kembali menyelimuti jalanan. Baran pun memperlambat laju kendaraannya. Tiba-tiba jalan yang tadinya halus menjadi bergelombang dan sepertinya banyak lubang.

Kawel pun merasakan seperti melewati jalan berbatu. Hampir 20 menit mereka merasakan situasi tersebut. Sampi tiba-tiba kabut itu hilang perlahan.

Baran dan Kawel mulai melihat rumah di kanan kiri jalan. Dan aneh, hari sudah pagi padahal mereka merasa seperti baru jalan beberapa jam.

Tiba-tiba Kawel mendadak mengerem truk gandengnya."Air Terjun Watu Gompeng" papan penunjuk arah itu yang membuat Kawel meninjak pedal rem.

Fathan Subchi Dimakamkan di Girikusumo Demak, Ratusan Pelayat Iringi Prosesi
Baca Juga · Jateng Pantura
Fathan Subchi Dimakamkan di Girikusumo Demak, Ratusan Pelayat Iringi Prosesi

Ia pun meminggirkan kendaraannya karena jalan yang ia lalui cukup sempit untuk ukuran truk gandengnya.

"Coab cek ini dimana, masa ada air terjun," kata Baran.

Belum sempat kawel menjawab, tiba-tiba HP mereka berbunyi tanda notifikasi. Bayak sekali pesan WhatsApp dan panggilan telepon yang tidak mereka angkat.

Baran dan Kawel kaget karena notifikasi yang mereka terima adalah panggilan sehari yang lalu.

Baran pun mengecek hari dan tanggal, sedangkan Kawel mengecek lokasi melalui Google Maps.

Ternyata itu adalah hari Minggu, sedangkan mereka dari Tegal hari Jumat dini hari. dan posisi mereka berada di sekitaran objek wisata Air Terjun Watu Gompeng Kudus. Baran dan Kawel sama-sama kaget dan bengong seperti orang yang sangat bingung.

"Selamat pagi Pak, bapak ini mau kemana kok bawa truk gandeng sampai ke daerah sini," kata seorang pria mengagetkan Baran dan Kawel yang sedang shock di dalam mobil.

"Kita mau ke Kudus kota Pak, cuma nggak tau kok tiba-tiba ada di sini," kata Baran coba menjelaskan.

"Kalo melihat posisi kendaraannya dari arah utara, berarti kalian dari arah Gunung Muria. Kalau mau ke Kudus kota tinggal lurus aja sampai mentok pertigaan Gardu Induk PLN Jekulo, ambil kanan. Kok bisa sampean dari arah Gunung Muria sih?," jelas bapak tersebut sambil bertanya.

Akhirnya Baran dan Kawel turun dari kendaraan. Kemudian mengikuti si bapak menuju warung kopi.

Di situlah Baran dan Kawel menceritakan dari awal hingga truk gandeng mereka sampai di tempat tersebut.

Kawel yang sedari tadi duduk bengong memperhatikan HP ternyata sedang membuka Google Maps. Ia tidak habispikir bagaimana caranya dari jalan lingkar Pemalang bisa sampai Gunung Muria.

Kalau ditarik garis lurus karena mereka seperti berjalan lurus, harusnya mereka sepertinya melewati laut.

Pemilik warung kopi yang mengikuti obrolan mereka tiba-tiba datang memberikan air putih dua gelas untuk Baran dan Kawel.

"Ini diminum, soalnya masih ada yang ngikutin kalian," katanya singkat.

Setelah meminum air pemberian pemilik warung, Baran dan Kawel melanjutkan perjalanan.

Mereka berdua bengong dalam kendaraan, masih memikirkan hal yang telah mereka lalui. Kawel pun segera menelpon kantor tempat ia bekerja menjelaskan semuanya. Tak lupa ia menelpon toko-toko tempat mereka seharusnya mengirimkan barang sejak Sabtu pagi kemarin.

Awalnya kepala kendaraan tak mempercayai keterangan Kawel dan Baran, namun saat dikirimkan foto dan Kawel membagikan lokasi mereka, kepala kendaraan pun hanya meminta Baran dan Kawel lebih hati-hati saat pulang.

Demikian sedikit cerita horor sopir truk Pantura dengan tokoh cerita Baran dan Kawel.

Cerita horor bukan untik menakut-nakuti atau menjadikan kita takut, namun bisa diambil pelajaran dari ceritanya.

Lebih berhati-hati dan waspada di jalan serta tidak lupa berdoa adalah keniscayaan bagi siapa saja yang berkendara baik menjadi sopir maupun penumpang.***

Tags:
#pantura#tegal#kudus#sopir truk#cerita horor#alam ghaib
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…