Penulis: Tim KKN Posko 19
Mahasiswa UIN Walisongo Semarang
SuaraPantura.com - Mahasiswa KKN RDR Angkatan 79 Posko 19 UIN Walisogo Semarang melakukan Podcast dengan Tema Moderasi Beragama bersama Romo Aloysius Budi Purnomo di Gereja Santo Ignatius Loyola Banjardowo, Senin 31 Oktober 2022.
Kedatangan mahasiswa KKN UIN disambut baik. Kegiatan dilakukan pada jam 19.00 hingga pukul 20.00 WIB. Narasumber dalam podcast ini adalah Romo Budi selaku Pendeta di Gereja Santo Ignatius Loyola Banjardowo.
Mengapa moderasi beragama penting dalam konteks persatuan di Indonesia? Tetapi sebelum melihat pentingnya moderasi beragama dalam konteks persatuan di Indonesia, maka ada baiknya penting memahami lebih dahulu pengertian moderasi beragama itu sendiri.
Dalam KBBI, kata “moderasi” berarti penghindaran kekerasan atau penghindaran keekstreman. Kata ini adalah serapan dari kata “moderat”, yang berarti sikap selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem, dan kecenderungan ke arah jalan tengah.
Jadi, ketika kata “moderasi” disandingkan dengan kata “beragama”, menjadi “moderasi beragama”, maka istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam praktik beragama.
Gabungan kedua kata itu menunjuk kepada sikap dan upaya menjadikan agama sebagai dasar dan prinsip untuk selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem (radikalisme) dan selalu mencari jalan tengah yang menyatukan dan membersamakan semua elemen dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa Indonesia.
Dalam Podcast Romo Aloysius Budi Purnomo selaku Pendeta di Gereja tersebut menjelaskan cara pandang dan sikap dalam kehidupan beragama.
"Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan bernegara," katanya.
"Tuhan mengajarkan juga bahwa, kita sebagai pengikutnya harus selalu pembawa kedamaian di lingkungan bermasyarakat,” tambahnya.
Romo Budi juga mengungkapkan bila ada kebencian dalam perbedaan beragama maka doakan orang-orang yang membenci.
"Jika ada kebencian terhadap perbedaan kepercayaan, berikan kasih sayang dan doakan yang membencimu agar diberikan petunjuk karena apa yang telah ia lakukan itu salah," ucap Romo Budi.
Terdapat banyak tantangan besar yang harus kita hadapi demi mewujudkan bangsa yang menjunjung moderasi beragama.
"Tantangan moderasi beragam adalah berkembangnya ekstremisme dalam beragama, berkembangnya tafsir keagamaan yang bersifat subjektif dan diskriminatif, dan berkembangnya paham keagamaan yang tidak sejalan dengan paham berbangsa dan bernegara," ujar Pendeta Gereja Santo Ignatius Loyola.
Muhammad Okthoriyan Surya selaku mahasiswa KKN UIN Waliosongo Semarang yang melakukan podcast Bersama Romo Budi menyinggug soal kebhinekaan.
“Indonesia adalah Negara Bhinneka Tunggal Ika yang dimana Berbeda-beda tetap satu juga. Walaupun memiliki banyak perbedaan dari segi Suku, Agama, Ras dan Antargolongan. Indonesia sejak dulu sudah memiliki sifat kerukunan antar sesama masyarakat," ujarnya.***