Suarapantura.com - Mantan gelandang AS Roma dan Inter Milan, Radja Nainggolan, mengaku menyesal tidak pernah memperkuat Timnas Indonesia sepanjang karier internasionalnya. Pengakuan itu ia sampaikan dalam wawancara dengan media Belgia, Het Nieuwsblad, yang diberitakan pada 11 dan 12 Oktober 2026.
Nainggolan menyebut pandangannya terhadap Indonesia berubah seiring bertambahnya usia. Di usia 38 tahun, ia menilai keputusannya membela Belgia pada masa lalu membuat karier internasionalnya berakhir lebih cepat dari yang seharusnya bisa ia jalani bersama skuad Garuda.
Alasan utama di balik pilihan tersebut berkaitan dengan masa kecilnya. Ayah Nainggolan yang berasal dari Indonesia meninggalkan keluarga ketika ia baru berusia sekitar lima tahun. Sejak itu, ia mengaku kehilangan kontak dengan sang ayah dan tumbuh tanpa kedekatan dengan budaya maupun kehidupan di Indonesia.
Situasi itu membuat Indonesia terasa asing baginya saat memulai karier internasional. Ia mengaku tidak memiliki pemahaman apa pun tentang negara asal ayahnya hingga akhirnya pertama kali berkunjung ke Indonesia pada 2013 dalam sebuah tur selama dua pekan. Dalam kunjungan itu, ia berkeliling ke sejumlah pulau, memberikan pelatihan kepada anak-anak, dan bertemu suporter sepak bola Tanah Air.
Pengalaman tersebut mulai mengubah cara pandangnya. Ia kemudian semakin mengenal atmosfer sepak bola Indonesia ketika memperkuat Bhayangkara FC pada putaran kedua kompetisi 2023-2024. Dari situ, ia melihat langsung besarnya antusiasme masyarakat terhadap tim nasional.
Nainggolan menggambarkan antusiasme itu dengan menyebut pertandingan Timnas Indonesia melawan lawan seperti Vietnam atau Irak dapat dihadiri puluhan ribu penonton. Menurutnya, pemain tim nasional di Indonesia diperlakukan layaknya bintang, termasuk dari sisi popularitas dan peluang kerja sama sponsor.
Di sisi lain, kariernya bersama Belgia berakhir lebih cepat. Nainggolan menjalani debut bersama tim nasional Belgia pada 2009 dan mencatatkan sekitar 30 penampilan. Ia tidak lagi mendapat panggilan sejak 2018 dan tidak dibawa ke Piala Dunia pada tahun tersebut. Ia menilai akhir karier internasionalnya di bawah pelatih Roberto Martinez menjadi salah satu hal yang membuatnya melihat ke belakang dengan perasaan berbeda.
Dalam wawancara tersebut, Nainggolan membayangkan andai dahulu memilih Indonesia, karier internasionalnya bisa berlangsung jauh lebih lama, hingga sekitar 15 tahun. Ia juga menilai popularitas yang diperoleh lewat tim nasional dapat menjadi bekal setelah seorang pemain pensiun.
Kini, Nainggolan yang bermain untuk Patro Eisden di Belgia tidak lagi memiliki peluang untuk berganti tim nasional. Ia sudah tampil resmi bersama Belgia sehingga kesempatan membela skuad Garuda telah tertutup. Meski begitu, pengakuannya menjadi pengingat bahwa ikatan emosional dan kedekatan dengan sebuah negara dapat memengaruhi keputusan besar dalam karier seorang pemain.
Sumber: Football5Star, Rajaskor, Terkini24.