Suarapantura.com - Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya dua atlet muda dalam rangkaian Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026. Ketua Umum NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari menegaskan tidak ada prestasi atau medali yang sebanding dengan nyawa seorang atlet, dan meminta peristiwa tersebut menjadi momentum evaluasi nyata atas keselamatan atlet.
Dua atlet yang dimaksud adalah Syabilla Rizkia Putri Raharja, atlet selam asal Kabupaten Jepara, dan Ayudiah Rivana Tridiandinita, atlet pencak silat asal Kota Semarang. Keduanya meninggal dunia dalam rangkaian penyelenggaraan ajang olahraga tingkat provinsi tersebut, melalui peristiwa yang berbeda.
Syabilla mengalami insiden saat mengikuti nomor open water finswimming sejauh 3.000 meter di perairan Awann Costa, Semarang, pada Minggu, 25 Oktober 2026. Sehari berselang, pada Senin, 26 Oktober 2026, Ayudiah mengalami cedera pada babak perempat final pencak silat setelah jari tengahnya terkena tendangan lawan hingga mengalami luka dan pergeseran ruas. Setelah menjalani operasi akibat cedera tersebut, kondisi Ayudiah berujung pada kepergiannya.
Dalam keterangan tertulis pada Selasa, 3 November 2026, Okto menyampaikan belasungkawa kepada keluarga kedua almarhumah serta seluruh insan olahraga Indonesia. Ia mengenang keduanya sebagai atlet muda yang memiliki semangat dan cita-cita besar, sekaligus harapan dan masa depan besar di dunia olahraga.
“Tidak ada medali yang sebanding dengan hilangnya nyawa seorang atlet,” ujar Okto. “Keberhasilan kompetisi bukan hanya diukur dari prestasi, tetapi juga dari kemampuan kita memastikan setiap atlet bertanding dalam lingkungan yang aman, nyaman, terlindungi, dan menjunjung tinggi nilai sportivitas.”
NOC Indonesia menegaskan keselamatan, perlindungan, dan kesejahteraan atlet harus menjadi bagian mendasar dalam membangun ekosistem olahraga yang sehat, bukan sekadar komitmen di atas kertas. Melalui pendekatan Safeguarding, NOC Indonesia mendorong terciptanya lingkungan olahraga yang aman, inklusif, dan bermartabat, dengan memastikan setiap atlet terlindungi dari segala bentuk kekerasan, pelecehan, eksploitasi, maupun diskriminasi, serta melalui edukasi dan pendampingan.
Okto meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan olahraga menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi bersama, agar perlindungan atlet benar-benar menjadi prioritas dalam setiap pelaksanaan kompetisi berikutnya. “Duka ini harus menjadi momentum evaluasi dan perbaikan nyata. Keselamatan atlet tidak boleh hanya menjadi komitmen di atas kertas,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar kepergian Syabilla dan Ayudiah tidak berlalu tanpa makna. Menurut Okto, tugas olahraga bukan semata-mata mencetak juara, tetapi juga menjaga, melindungi, dan menghargai setiap kehidupan atlet.
Sumber: ANTARA dan Detik Sport.