SuaraPantura.com - Pada akhir abad ke-19, ada kejadian luar biasa yang membuat geger dan takjub para penduduk Arab.
Pasalnya, saat itu terjadi kemarau panjang dan sudah sangat lama tak kunjung hujan.
Semua solusi dicari oleh raja Hijaz pada waktu itu, termasuk mengumpulkan seluruh ulama dari Mekah dan Madinah untuk berdoa meminta hujan.
Namun setelah para ulama berdoa, cuaca di dadataran Hijaz justru lebih panas dari biasanya.
Hal ini berlangsung selama beberapa bulan sehingga membuat masyarakat panik.
Tak terkecuali sang Raja Hijaz waktu itu yang juga mengalami kepanikan yang luar biasa.
Saat itulah sang Raja kemudian teringat ada satu ulama yang luput dari undangan berdoa.
Ulama dengan penampilan mungil dan berkulit sawo matang dari tanah Jawa bernama Syeikh Nawawi Al Bantani.
Bawahan raja pun segera memanggil Syeikh Nawawi.
Ulama asal tanah Jawa tersebut kemudian berdoa di depan Ka'bah.
Uniknya, meskipun Syeikh Nawawi sangat fasih berbahasa arab, namun beliau berdoa dengan cara yang tak biasa yakni menggunakan bahasa Jawa.
"Ya Allah, sampun dangu mboten jawoh, kaulo nyuwun jawoh, (Ya Allah, sudah lama tidak hujan, Saya minta hujan,)" ucapnya.
Tak lama kemudian hujan pun turun, orang kemudian heran dan penasaran, bahasa apa yang digunakan untuk berdoa.
Karena sebelumnya ulama lain fasih berbahasa arab namun tak dikabulkan.***