SuaraPantura.com - Kaya adalah dambaan hampir setiap manusia. Bahkan kadangkala banyak yang menggunakan cara cara yang kurang baik dalam pencapaiannya.
Mereka yang ber Tuhan kemudian menjalankan ritual agama, berdoa minta kaya raya tanpa usaha yang pasti dan tak diberi kekayaan lantas kecewa.
Hal ini banyak terjadi pada kalangan yang paling pandai berdiskusi tentang Tuhan namun lemah dalam pemahaman dan kemampuan atas ilmu dan aktifitas ekonomi.
Nah, lantas bagaimana menempatkan pemahaman yang baik dan seimbang? Berikut penjelasannya
Perlu kita ketahui bahwa rezeki itu ada tiga macam yang menjadi ketetapan bagi manusia.
Pertama, rezeki yang sudah dijamin. Kedua, rezeki yang dibagikan dan. Ketiga, rezeki yang dijanjikan.
Sebagai hamba Allah, kita tidak boleh hanya berpangku pada rezeki yang pertama. Kita harus mengupayakan jenis rezeki yang kedua dengan kesungguhan, usaha, dan kerja keras.
Dalam rangka memperoleh jenis rezeki yang kedua ini menjadi tantangan bagi kalangan penganut ajaran Islam konservatif.
Islam adalah agama wasathiyah (pertengahan) yang menyerukan kerja dan usaha produktif untuk kemakmuran bumi serta demi kebaikan dan kebahagiaan hidup manusia bersinarkan iman, kesucian jiwa, dan kemuliaan akhlak.
Islam bukan agama yang akan menyulitkan pemeluknya dengan iming-iming rezeki yang dijamin oleh Allah Swt. Tetapi mengajarkan umat Islam agar bekerja dan berusaha mencari kerunia Tuhan.
Sebagaimana firman-Nya:
“Apabila telah ditunaikan salat, bertebaranlah di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS. al-Bawarah:77).
Selain rezeki bisa ditempuh dengan jalan takwa juga bisa ditempuh dengan memperbanyak istighfar (minta ampun menyesali dosa dan tidak mengulanignya), tawakal (pasrah setelah adanya usaha), dan berinfak.
Sebagaimana firman Allah Swt.: “Maka kukatakan kepada mereka, “Mohon ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memberikan kepadamu harta dan anak-anak, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengalirkan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”
***