SuaraPantura.com - Kematian menjadikan manusia sebagai pengingat dan nasehat, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Rasulullah pernah bersabda: “Wa kafa bil mawti wa idzho”, yang artinya “Cukuplah kematian itu sebagai pengingat”.
Artinya bahwa kematian sebenarnya sudahlah cukup menjadi nasehat agar manusia selalu ingat dan beribadah kepada Allah SWT, agar manusia selalu ingat dan beribadah pada Allah SWT, agar manusia menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan, aparat-aparat pemerintah tidak korupsi, hakim tidak lagi menerima suap yang membuat kasus hukum tambah buram.
Allah SWT pun berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ.
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. ali-Imran [3]: 185).
Maka kita sebagai manusia diwajibkan untuk mempersiapkan diri sebelum kematian datang.
Allah memberikan dua syarat bagi siapa pun yang berharap bertemu dengan-Nya di surga, yaitu beramal saleh dan meninggalkan kesyirikan.
Dalam sebuah firman-Nya, Allah subhanahu wata’ala menegaskan:
فَمَنْ كانَ يَرْجُوا لِقاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Barang siapa yang mengharapkan bertemu Tuhannya maka hendaklah melakukan amal shalih dan janganlah menyekutukan ibadah terhadap Tuhannya dengan suatu apapun.” (QS al-Kahfi: 110).
***