Lima Adab yang Wajib Kamu Tahu Ketika Puasa, Nomor 3 Kadang Kita Sering Lupa
Adi Purnomo Attsani•
Rahmah
Suarapantura.com - Sahabat muslimin rahimakumullah, bulan Ramadhan adalah bulan kemuliaan yang di dalamnya terdapat berbagai keutamaan selain kewajiban puasa tentunya.
Perintah untuk berpuasa Allah sampaikan dalam Surah Al-Baqarah ayat : 183, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.."
Kewajiban untuk melaksanakan ibadah puasa bertujuan untuk menghasilkan pribadi yang bertaqwa sebagaimana Allah sampaikan pada ayat diatas, sehingga banyak yang mengatakan kalau bulan Ramadhan adalah 'Kawah Chandradimuka' bagi orang-orang yang beriman untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaannya melalui puasa.
Menjalankan ibadah puasa tentu kita menginginkan pahala yang berlipat ganda, sebab pada bulan Ramadhan Allah telah menyediakannya bagi umat Rasulullah Saw sebagai ladang pahala yang sangat sayang bisa kita sia-siakan begitu saja.
Setiap amalan ibadah tentu memiliki tata cara dan adab yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw, sebab segala amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi maka hal itu akan tertolak.
Adab-adab yang dilakukan Rasulullah Saw ketika berpuasa sebagaimana dikutip dari buku Risalah Puasa Nabi karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid (judul asli : Sab'un Mas'alah fi ash-Shiyam wa Kaifa Na'isyu Ramadhan). Diantaranya adalah :
1. Berupaya sekuat mungkin untuk sahur dan menundanya hingga di penghujung waktunya.
Rasululullah Saw bersabda : تسحروا فان فى السحور بركة
"Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam makan sahur itu terdapat berkah.." (HR. Bukhori 4/139)
Jadi, sahur adalah makanan yang penuh berkah dan sekaligus menyalahi kebiasaan ahlul kitab. Dan sebaik-baik makan sahur adalah kurma.
Ketika sahur, biasanya kita cenderung malas dan tidak berselera untuk makan. Bagaimana tidak, sebab mata yang masih mengantuk ditambah tubuh yang letih setelah aktifitas seharian hingga malam hari tidak ketinggalan shalat tarawih cukup menyita energi tubuh. Alhasil, ketika bangun sahur terasa malas untuk bangun.
Nah, justru diwaktu inilah Allah telah berikan ganjaran yang besar bagi hambanya yang berikhtiar untuk bangun dan melaksanakan sahur. Bahkan, makan sahur adalah makanan yang penuh berkah.
2. Segera berbuka bila telah datang waktunya.
Rasulullah Saw bersabda : لا تزال النس بخير ما عجلوا الفطر
"Orang-orang senantiasa tetap dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka.." (HR. Bukhori 4/198).
Dan ifthar (berbuka) dengan memakan beberapa buah ruthab (kurma mengkel) sebagaimana disebutkan dalam hadist Anas r.a., ia menuturkan, "Rasulullah Saw itu biasanya berbuka sebelum melakukan shalat dengan makan beberapa biji kurma mengkel, jika tidak ada kurma mengkel, maka kurma matang, jika tidak ada kurma matang, maka beliau meneguk beberapa teguk air minum.." (HR. Tirmidzi 3/79 dan lainnya).
Rasulullah Saw bersabda : ...اذا كان يوم صوم احدكم فلا يرفث...
"...Pada hari seseorang diantara kalian berpuasa, maka janganlah ia berbicara seronok..." (HR. Abu Dawud 2/765)
Dan makna kata Rafats (رفث) pada hadist diatas juga bisa bermakna jatuh dalam perbuatan maksiat. Dan hendaklah orang yang berpuasa meninggalkan semua perbuatan haram, seperti menggunjing, perkataan jorok dan dusta, karena perbuatan-perbuatan haram tersebut dapat menghapus seluruh pahala puasanya. Dalam hal ini Rasulullah Saw juga bersabda : رب صاءم ليس له من صيامه الا الجوع
"Betapa banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali rasa lapar belaka.." (HR. Ibnu Majah 1/539).
Dari hadist diatas dapat disimpulkan bahwa bila kita berpuasa namun masih berbicara yang kotor dan seronok apalagi menggunjing, maka hal itu dapat menggugurkan pahala puasa kita. Adalah perbuatan yang sia-sia manakala kita telah seharian berpuasa menahan lapar dan dahaga namun tidak mendapatkan pahala sedikitpun lantaran kita tidak menjaga adab dalam berbicara.
4. Tidak terlalu banyak makan. Rasululullah Saw bersabda : ما ملاء ابن ادم وعاء شرا من بطنه
"Tidak ada bejana yang dipenuhi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya.." (HR. Tirmidzi No. 2380).
Maksud hadist diatas adalah jika seseorang yang ketika berpuasa kemudian ia makan sahur ataupun berbuka secara berlebihan maka hal itu kurang baik.
Orang yang berakal makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan, dan sebaik-baik makanan adalah yang membantu dan seburuk-buruknya adalah yang membuatnya tenggelam di dalamnya.
Maksudnya jika seseorang makan secara berlebihan ketika sahur maupun berbuka maka ia akan mengantuk dan kondisi fisiknya justru tidak prima untuk beribadah seperti shalat tarawih, dan tilawah misalnya.
Bahkan seseorang disibukan dengan aktifitas pembuatan berbagai makanan, hingga menyita banyak waktu kaum ibu di rumah hingga membuat mereka lalai beribadah, bahkan uang yang digunakan untuk belanja lebih banyak dari hari-hari biasanya maka dengan demikian bulan puasa yang seharusnya menjadi ladang melatih diri untuk hidup sederhana dan bersahaja justru menjadi sebaliknya.
5. Sabar dengan tidak gaduh dan berteriak-teriak ketika ada yang membuatnya marah.
Rasulullah Saw bersabda :
"Dan jika seseorang menyerangnya atau memakinya, maka hendaklah ia (orang yang sedang berpuasa) mengatakan, 'Aku sedang berpuasa'.." (HR. Bukhari No. 1894).
Maksudnya ketika seseorang sedang berpuasa, maka hal itu dapat menjadi perisai bagi dirinya untuk menahan amarah ketika ada seseorang yang membuatnya marah.
Yang pertama (ungkapan: Aku sedang berpuasa) sebagai teguran bagi dirinya sendiri dan yang kedua sebagai teguran bagi lawannya.
Demikianlah sedikit cuplikan tentang adab-adab berpuasa yang disarikan dari buku Risalah Puasa Nabi karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid. Semoga bermanfaat.***