SuaraPantura.com - Pakaian adalah mahkota bagi pemakainya, pakaian akan membuat sipemakai menjadi lebih berwibawa dan bermartabat dimata manusia.
Dalam istilah jawa bahkan dikenal pepatah, "Ajining diri ono ing lathi ajining raga ono ing busana..". Maksudnya adalah, mantabat seseorang itu terletak pada ucapannya, sedangkan kemuliaan fisik seseorang itu ada pada pakaiannya.
Jaman Rasulullah Saw dulu, hidup seorang sahabat bernama Tsa'labah ibnu Hatib al Anshori. Dari namanya saja kita bisa mengetahui kalau sahabat ini berasal dari suku Anshor madinah.
Sebelum menjadi orang yang kaya raya, Tsa'labah hidup dalam kemiskinan. Bahkan, dalam banyak riwayat diceritakan kondisi keluarga Tsa'labah yang miskin, hingga kain untuk salat harus dipakai bergantian dengan istrinya karena tidak ada pakaian lagi yang dimiliki.
Sehingga setiap kali melaksanakan shalat, ia harus bergantian sarung dengan istrinya.Ketika shalat di masjid bersama Rasulullah Saw, Tsa'labah terburu-buru ingin segera pulang kerumah, tidak seperti sahabat yang lainnya menyempatkan diri berdzikir ataupun bermajelis bersama beliau Saw.
Suatu ketika, Tsa'labah yang sudah bosan hidup miskin dan kesusahan menemui Rasulullah SAW dan minta didoakan supaya menjadi orang kaya.
"Doakanlah kepada Allah, semoga Dia memberiku rezeki harta benda." tuturnya kepada Rasulullah Saw.
Namun, Rasulullah Saw adalah seorang Nabi. Beliau mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh umatnya. karena Rasulullah Saw mengetahui yang terbaik bagi Tsa'labah ia menolak permintaan Tsa'labah.
Meski kerap ditolak, Tsa'labah memohon sekali lagi. Namun, kali ini pun Rasulullah menolak kembali. "Apakah kamu tidak senang menjadi manusia seperti Nabi Allah? Demi Zat yang menguasai diriku, andaikan aku ingin agar gunung itu berjalan di sampingku sebagai emas dan perak, niscaya ia melakukannya," tutur Rasulullah Saw.
Dengan bujuk rayu, Tsa'labah tidak henti meminta kepada Rasulullah Saw agar beliau mendoakannya. Bahkan Tsa'labah sampai bersumpah. Ia mengatakan, "Demi Zat yang telah mengutusmu dengan hak. Jika engkau memohon kepada Allah, lalu Dia memberiku harta kekayaan, niscaya aku akan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya.."
Dan akhirnya Rasulullah Saw pun mendo'akan beliau. Beliau memegang janji yang diucapkan Tsa'labah. Allah memenuhi doa Rasulullah, sehingga akhirnya Tsa'labah mendapatkan seekor unta dan domba.
Berkat do'a Rasulullah Saw, unta dan domba milik Tsa'labah hidup sehat dan gemuk, semakin hari semakin berkembang biak dengan cepat dan bagus sehingga menjadikan pundi-pundi kekayaan bagi Tsa'labah.
Namun, di akhir kisah hidupnya Tsa'labah tidaklah baik, ia kemudian menjadidi kikir. Bahkan Allah Swt sampai menurunkan ayat tentang perilakunya itu.
Dari kisah diatas kita dapat mengambil pelajaran bahwa para shahabat Nabi mereka begitu istiqomahnya melaksanakan syariat. Meskipun dalam keadaan penuh keterbatasan tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap bisa shalat lima waktu.
Hanya saja, di akhir kisah dapat pula ditarik ibroh bahwa istiqomah itu sangatlah penting. Sebagaimana Tsa'labah yang tidak bisa istiqomah memegang janjinya.
Semoga kita semua Allah Swt berikan taufik untuk bisa istiqomah melaksanakan syariat, aamiin.
Demikian sekelumit kisah tentang Tsa'labah, semoga bermanfaat.***