SuaraPantura.com - Kisah ini cukup familiar ditelinga… kisah tentang seorang pemuda pencari ilmu berabad-abad yang lalu dari era Tabi’in, Tsabit bin Marzaban namanya.
Al kisah… Seorang pemuda yang sedang berjalan di Kota Kufah, Irak, hendak menuntut ilmu. Saat di tengah jalan, ia merasa lapar karena bekal yang telah habis. Semakin lama tenaganya semakin lemas.
Tak satupun makanan masuk ke perutnya sejak pagi hari.. tidak begitu lama kemudian, kebetulan ia menemukan sebuah kebun buah-buahan yang sangat luas dipenuhi buah apel yang telah ranum menggodanya seakan meledek untuk segera digigit bibir yang telah mengering dahaga itu.
Tanpa disadari, Tsabit memetik sebuah apel dari pohonnya lalu memakannya dengan lahap. Sudah separuh apel ia makan, tiba-tiba hatinya tersentak dan ia berhenti makan. Ia merasa bersalah karena sudah memakan apel itu tanpa seizin pemiliknya. Tanpa berpikir panjang… Tsabit kemudian pergi mencari tahu siapa pemilik kebun tersebut.
Singkat cerita… Sampailah ia dan berhasil menemui pemilik kebun. Diluar dugaan ternyata pemilik kebun sangat baik kepada Tsabit meskipun saat itu ia belum mengemukakan maksud kedatangannya. Ia disuguhi minuman dan buah-buahan. Namun Tsabit menolaknya.
_“Sebenarnya ini mengapa aku kemari. Aku memakan sebuah apel dari kebunmu. Aku datang ke sini untuk meminta maaf atas perbuatanku,”_ ucap Tsabit. Ia pun menceritakan kejadian yang baru saja ia alami hingga akhirnya ia datang menemui pemilik kebun tersebut.
_“Baiklah aku akan memaafkanmu dengan satu syarat..”,_ kata pemilik kebun. _“Yaitu jika kamu mau menikahi putriku.. Tapi kau harus tahu, dia buta, tuli, bisu, dan lumpuh,”_ kata pemilik kebun.
Setelah berpikir dan merenung semalaman, dengan berat hati demi mendapat ridha sang pemilik kebun atas perbuatannya, akhirnya Tsabit bersedia untuk menikahi putri dari pemilik kebun itu.
Kisah pun berlanjut, hingga pernikahan keduanya.
Usai ijab qabul, Tsabit memasuki kamar sang istri untuk menemuinya. Betapa terkejutnya Tsabit saat melihat istrinya tidak seperti yang dikatakan oleh ayahnya. Istrinya ternyata adalah seorang wanita solehah, cantik jelita, dan cerdas.
Ternyata, yang dimaksud oleh ayah si gadis itu memang benar putrinya adalah gadis yang buta, sebab ia tak pernah melihat yang bukan haknya. Ia juga gadis tuli, sebab tak pernah mendengar kecuali kebaikan. Ia juga gadis yang bisu, sebab ia tak berkata kecuali yang baik. Ia juga gadis yang lumpuh, sebab ia tak pernah melangkah kecuali untuk kebaikan.
Kedua pasangan itu hidup bahagia. Mereka kemudian dikaruniai anak yang tak lain merupakan seorang ulama besar, Imam Abu Hanifah. Kisah tersebut dikutip dari Cordova Media.
Dari kisah ini banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil, salah satunya adalah kejujuran… betapa Tsabit sangat menjaga kejujuran. Bahkan hanya demi sepotong buah apel.
Karena kejujurannya itulah ia bukan hanya mendapatklan ke halalan dari apel yang ia makan, namun ia mendapatkan pohon beserta pemiliknya sekaligus. Tentu hal ini terjadi atas izin Allah SWT. Dan sebagai buah dari keimanan kepada Allah SWT.
***