SuaraPantura.com - Seringkali kita mendapati anak-ank kecil yang sedang beribadah di masjid dengan riuh dan canda.
Selayaknya anak, maka dunia mereka adalah dunia permainan.
Jika jamaah orang tua tak memahami ini, maka seringkali mereka marah dan menggertak anak yang riuh bermain di masjid.
Hal ini bisa menjadikan trauma bagi anak, di kemudian hari si anak jadi enggan dan tak mau mendekati masjid.
Di Turki setelah teraweh anak anak di ajak main sama Imam nya. Supaya mereka senang ke mesjid.
Malahan beberapa masjid baru di Turki seperti masjid Hamdi Cami di Ankara disiapkan tempat bermain dalam masjid di sudut kanan di bawah tangga. Bila masjid tak ada tempat bermain di dalam, disiapkan diluar masjid seperti taman taman. Masjid menjadi Pusat orang berbahagia.
Mereka nampaknya meyakini Apa yang ditititahkan oleh pendahulu mereka, Sultan AlFatih bahwa, “ Khawatir lah oleh mu bila masjid masjid mu sudah tak lagi terdengar suara anak kecil”.
Di Indonesia sendiri masih jarang adanya masjid yang ramah anak. Bahkan penghuninya saja tak segan menggertak jika ada anak yang bermain dan berisik di masjid.
Walhasil, kita berlomba-lomba membangun masjid dengan megah namun isinya jarang anak-anak muda yang betah berada disana.
Masjid dibuat elitis dan seolah hanya berfungsi untuk peribadatan saja.
Anak anak muda kita lebih asik nongkrong di cafe, main game dan rebahan di kamar daripada bernyaman di masjid.
Yang punya anak kecil pun kadang enggan membawa anaknya ke masjid. Sebab penghuninya masih kurang ramah dan tak segan marah jika ada anak yang berisik di dalam masjid.
Kita yang sering memarahi anak-anak di masjid ketika mereka ramai, mungkin lupa dengan apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Beliau pernah turun dari mimbar untuk mendekati cucunya yang tengah berlarian di area masjid lantas menggendongnya dan kembali melanjutkan khutbah.
Dalam hadist lain diceritakan bahwa saat Rasulullah sujud dalam sholat, Hasan dan Husein bermain menaiki punggung Rasulullah.
Jika ada sahabat yang ingin melarang Hasan-Husein, maka Rasulullah memberi isyarat untuk membiarkannya.
Apabila shalat telah selesai, Rasulullah memangku kedua cucunya itu (HR: Ibnu Khuzaimah).
Kemarahan kita bahkan semakin memuncak saat kita merasa paling khusyuk. Lalu celoteh anak-anak dan tawa kecil mereka seolah menjadi alasan terbuyarkannya kekhusyukan yang kita upayakan dengan susah payah.
Alhasil, kita dengan segera menyalahkan anak-anak itu dan berusaha untuk segera mengenyahkannya dengan segenap kemampuan yang kita miliki sebagai orang tua.
Mungkin kita lupa bahwa kemarahan yang kita tumpahkan amat besar peluangnya untuk menyingkirkan anak-anak dari masjid-masjid.
Dan kita perlu menyadari pula, bahwa masjid tanpa suara anak-anak adalah bencana.
***