Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Jejak R.A. Kardinah di Batik Tegal Dibahas Bincang Budaya

M teguh•
Seputar Bregas

Foto: Liputan6

Suarapantura.com - Bakul Budaya Nusantara (BBN) menggelar bincang-bincang budaya bertajuk "Jejak R.A. Kardinah di Batik Tegal" di Auditorium Benny H. Hoed, Gedung X Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Depok, Jawa Barat, pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026.

Acara tersebut terselenggara melalui kerja sama BBN dengan FIB UI, serta didukung Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan. Kegiatan ini menelusuri jejak R.A. Kardinah dalam perkembangan batik Tegal, Jawa Tengah.

R.A. Kardinah lahir di Jepara pada 1 Maret 1881. Ia merupakan putri R.M. Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara, sekaligus salah seorang adik Pahlawan Nasional R.A. Kartini. Bersama Kartini dan Rukmini, Kardinah dikenal sebagai bagian dari Tiga Saudara yang menaruh kepedulian besar terhadap pendidikan dan hak-hak perempuan.

Kardinah tidak hanya dikenal melalui kiprahnya dalam pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Ia juga mengajarkan keterampilan membatik, yang kemudian turut mewarnai perjalanan batik Tegal. Di Tegal, kepeduliannya diwujudkan melalui pendirian Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranawa untuk pendidikan perempuan serta Kardinah Ziekenhuis sebagai balai pengobatan bagi masyarakat miskin.

Bupati Tegal Ajak Ulama Perangi Stigma TBC dan HIV/AIDS di Slawi
Baca Juga · Seputar Bregas
Bupati Tegal Ajak Ulama Perangi Stigma TBC dan HIV/AIDS di Slawi

Bincang-bincang budaya ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Dwi Mulyatari, dosen Departemen Ilmu Sejarah FIB UI, serta Notty J. Mahdi, antropolog lulusan Universitas Indonesia sekaligus periset batik. Diskusi dipandu perancang busana Wanda Alifya Tejomoyo.

Sejumlah tamu undangan turut hadir, di antaranya Ketua Umum Yayasan Bakul Budaya Nusantara Dewi Fajar Marhaeni, Dekan FIB UI Untung Yuwono, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Judi Wahjudin.

Sebelum memasuki ruang diskusi, peserta dapat singgah di Pojok Literasi R.A. Kardinah. Di sudut ini, perjalanan hidup Kardinah disajikan melalui biografi singkat, linimasa dari kelahiran hingga wafat, silsilah keluarga, serta arsip foto. Sejumlah literatur turut melengkapi, termasuk buku "Tiga Saudara" karya Kardinah Reksonegoro dan "Kardinah: Sebuah Biografi Pejuang Kemanusiaan (1881-1971)" karya budayawan asal Tegal, Yono Daryono.

RSUD Ir Soekarno Sambangi Warga Ciduwet Penderita Luka Kronis Lewat Nakes Door to Door
Baca Juga · Seputar Bregas
RSUD Ir Soekarno Sambangi Warga Ciduwet Penderita Luka Kronis Lewat Nakes Door to Door

Bersisian dengan Pojok Literasi, tersedia gerai kain batik Tegal yang memamerkan batik tulis, batik cap, dan caplis atau kombinasi cap dan tulis dengan beragam corak dan warna. Lewat gerai ini, BBN mempertemukan karya perajin lokal dengan masyarakat yang ingin mengenal batik Tegal lebih dekat.

Dewi Fajar Marhaeni mengatakan batik Tegal menyimpan kekayaan budaya lokal yang perlu dipopulerkan agar masyarakat semakin mengenal keragaman batik Indonesia. "Merawat budaya dan kebanggaan terhadap batik berawal dari mengenalnya, karena di balik selembar kain terdapat sejarah, pengetahuan, cerita, lambang, dan penggambaran suatu daerah," tutur Dewi.

Dalam sesi diskusi, Notty J. Mahdi menunjukkan kain batik bermotif kupu-kupu khas Lasem yang dikenakannya. Kain dari tahun 1970-an itu dibeli ibunya langsung dari Kardinah, beberapa bulan sebelum Kardinah wafat. Menurut Notty, pengaruh Lasem terlihat pada ragam batik yang dibawa Kardinah ke Tegal, mulai dari warna merah darah dan sogan hingga motif bunga dan Burung Hong.

Baca Juga · Seputar Bregas
Satlantas Brebes Jenguk Korban Kecelakaan di RSUD, Ajak Warga Tertib Berlalu Lintas

Notty juga menjelaskan filosofi di balik sejumlah motif batik Tegal, seperti motif watu pecah yang dimaknai sebagai ungkapan protes atas penderitaan rakyat saat kerja paksa pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, serta motif Sekar Jagad yang mengingatkan pemakainya pada berbagai sisi kehidupan.

Rangkaian acara ditutup dengan Parade Kain Batik bertajuk "Tak Tegal, maka Tak Sayang" yang memperagakan enam helai kain, yakni Batik Parang, Udan Liris Gurdo, Kawung Jenggot, Kawung, Gribig Irengan, dan Jo Ijo. Parade ini mencerminkan kekayaan batik Tegal yang tumbuh dari perjumpaan beragam kebudayaan, dari pakem Mataraman hingga corak pesisiran dan sentuhan Peranakan Tionghoa.

Sumber: Liputan6, RM.ID

Tags:
#tegal#batik tegal#r.a. kardinah#hari batik nasional#budaya#fib ui
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…