Suarapantura.com - Hujan mulai turun di wilayah Brebes dan Tegal, Jawa Tengah, pada Jumat, 30 Oktober 2026. Setelah beberapa pekan dilanda cuaca kering dan panas, datangnya hujan ini disambut harapan warga agar kondisi kekeringan, risiko kebakaran lahan, dan udara yang berdebu bisa segera membaik.
Berdasarkan laporan yang beredar pada Jumat siang, hujan yang turun di kedua daerah itu berupa hujan ringan disertai petir. Suhu udara saat itu tercatat sekitar 30 derajat Celsius, dengan suhu tertinggi harian diprakirakan mencapai 32,6 derajat Celsius di Brebes dan 32,1 derajat Celsius di Tegal. Peluang hujan pada hari itu diperkirakan sekitar 45 persen di Brebes dan 50 persen di Tegal.
Harapan itu mudah dipahami. Selama berminggu-minggu, cuaca kering membuat warga di sejumlah wilayah harus berhemat air dan mewaspadai lahan yang mudah terbakar. Hujan, meski baru turun secara terbatas, memberi jeda dari panas yang berkepanjangan dan menjadi penanda bahwa masa peralihan musim mulai bergerak.
Namun, hujan yang datang belum bisa dianggap sebagai tanda berakhirnya musim kering. Prakiraan untuk akhir pekan hingga pekan depan menunjukkan peluang hujan menurun ke kisaran 10 hingga 25 persen, sementara suhu siang hari masih berada di sekitar 32 hingga 34 derajat Celsius. Artinya, peralihan menuju musim hujan belum sepenuhnya tuntas dan hujan belum diperkirakan turun merata.
Konteks kekeringan ini sejalan dengan pemetaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada periode 11 hingga 20 Oktober 2026, BMKG menetapkan tujuh kabupaten di Jawa Tengah berstatus awas kekeringan meteorologis, termasuk Brebes dan Tegal. Status awas merupakan tingkat peringatan tertinggi dalam pemetaan dini kekeringan meteorologis tersebut.
BMKG juga memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 di Jawa Tengah berlangsung bertahap, terutama pada November hingga Desember 2026. Sebagian kecil wilayah Brebes termasuk daerah yang diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada awal November. Secara umum, awal musim hujan tahun ini mengalami kemunduran, antara lain karena pengaruh El Nino yang sangat kuat dan Dipole Mode Samudra Hindia (IOD) yang positif.
Di tengah masa peralihan ini, warga diimbau tetap waspada. Hujan yang datang tiba-tiba dapat disertai angin kencang dan petir, sementara lahan yang masih kering tetap rentan terbakar bila terpapar api. Warga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membakar sampah atau lahan, serta terus memantau pembaruan prakiraan cuaca dari BMKG.
Hingga laporan ini disusun, belum ada data resmi mengenai kualitas udara terkini di Brebes dan Tegal. Karena itu, dampak hujan terhadap kualitas udara di kedua daerah tersebut belum dapat dipastikan, meski secara umum hujan dapat membantu menurunkan debu di udara. Sumber: Mercuswara, BMKG, dan data prakiraan cuaca.