Suarapantura.com - Harga garam di tingkat petani Kabupaten Brebes kembali melemah pada awal November 2026. Petani garam di Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, menyebut harga jual saat ini hanya sekitar Rp560 per kilogram, atau setara Rp28.000 untuk satu kantong berisi 50 kilogram.
Petani garam setempat, Hasan Firdaus, menyampaikan angka tersebut pada Senin (2/11/2026). Ia mengatakan harga itu lebih rendah dibanding akhir Oktober lalu. Pada 22 Oktober 2026, harga garam di wilayahnya masih sekitar Rp30.000 per karung, atau kurang lebih Rp600 per kilogram. Dalam waktu sepekan lebih, harga turun Rp2.000 per karung.
Menurut Hasan, penurunan yang terus berlanjut itu menekan pendapatan petani. Hasil panen, kata dia, seharusnya memberi nilai ekonomi yang sepadan dengan biaya dan tenaga selama proses produksi. Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan solusi agar harga garam di Brebes kembali stabil.
Keluhan serupa bukan kali pertama muncul dalam beberapa bulan terakhir. Pada akhir Juli 2026, Hasan menyebut harga garam di Sawojajar sempat merosot dari Rp70.000 menjadi Rp40.000 per karung berisi 55 kilogram, bahkan disebut turun hampir setiap hari. Saat itu, petani menilai penurunan tersebut tidak wajar karena gudang penyimpanan masih kosong dan sebagian besar petani baru memasuki panen raya pada pertengahan Agustus.
Di wilayah lain, kelompok petani garam Desa Krakahan, Kecamatan Tanjung, juga pernah melaporkan harga sempat jatuh ke Rp900 per kilogram, dari kisaran Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram. Para petani di sana menduga penurunan itu dipengaruhi masuknya pasokan garam dari daerah lain, seperti Madura, Rembang, Pati, dan Cirebon. Dugaan tersebut belum dapat dipastikan, karena setiap daerah memiliki kondisi pasokan dan pasar yang berbeda.
Perlu dicatat, satuan harga dalam berbagai laporan itu tidak selalu sama. Ada laporan yang memakai harga per kilogram, ada pula yang memakai harga per karung 50 kilogram atau 55 kilogram, sehingga angka-angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa menyamakan satuannya terlebih dahulu.
Dari sisi pemerintah daerah, upaya menjaga stabilitas harga disebut terus dilakukan. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Brebes, Eko Supriyanto, sebelumnya mengatakan pihaknya memperbaiki rantai pasok garam. Ia menyebut kehadiran pabrik garam berkapasitas lima ton per hari diharapkan membantu menyerap hasil produksi dan menstabilkan harga.
Eko juga menyebut garam asli Brebes memiliki kadar natrium klorida sekitar 97 persen, yang dinilai lebih tinggi dibanding garam dari daerah lain sehingga memiliki prospek yang baik. Brebes sendiri merupakan salah satu sentra produksi garam rakyat di Jawa Tengah, dengan tambak-tambak di wilayah pesisir utara seperti Wanasari, Brebes, dan Tanjung.
Fluktuasi harga di tingkat petani dari tahun ke tahun kerap berkaitan dengan musim produksi, stok, serta pasokan dari daerah lain dan impor. Karena itu, petani mendesak adanya perlindungan harga yang lebih kuat agar usaha garam rakyat tetap berkelanjutan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan terbaru dari Dinas Perikanan Kabupaten Brebes maupun instansi terkait mengenai penurunan harga pada awal November ini.
Sumber: MercuSwaraNews, BeritaKota