Suarapantura.com - Hujan yang turun selama sepekan terakhir di Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, belum mampu memulihkan cadangan air bersih warga. Sumur-sumur gali yang selama ini menjadi andalan rumah tangga masih kering kerontang, sehingga warga tetap harus membeli air dan mengandalkan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut dirasakan warga Desa Jatinegara, Kecamatan Jatinegara. Sejak musim kemarau melanda beberapa bulan lalu, sumur warga tidak lagi mengeluarkan air meski hujan sudah mengguyur beberapa kali dengan intensitas rendah.
Salah satu warga, Wati (45), mengaku sudah berbulan-bulan kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak, keluarganya terpaksa membeli air dari tangki.
"Kami sudah berharap hujan bisa mengisi sumur. Tapi ternyata airnya masih belum keluar. Sumur di rumah saya tetap kering," ujar Wati.
Menurut Wati, harga air tangki ikut naik karena permintaan meningkat. Dalam sehari, keluarganya bisa menghabiskan Rp20.000 hingga Rp30.000 hanya untuk membeli air. "Kalau tidak ada bantuan, kami kesulitan," tambahnya.
Pengalaman serupa dialami Sumyati, warga Desa Jatinegara lainnya. Sumurnya sudah kering sejak Agustus lalu, sehingga setiap hari ia membeli dua sampai tiga jeriken air dengan harga Rp3.000 hingga Rp5.000 per jeriken, tergantung jarak dan sumber penjual.
"Setiap hari saya beli dua sampai tiga jeriken. Kalau tidak beli, kami tidak bisa masak atau minum," kata Sumyati.
Kepala Desa Jatinegara, Slamet Riyadi, membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan hujan yang turun belum cukup untuk memulihkan muka air tanah yang sudah sangat rendah setelah kemarau panjang.
"Hujan baru turun beberapa kali dan intensitasnya rendah. Air tanah belum pulih, sumur warga masih kering," kata Slamet.
Ia menambahkan, pemerintah desa telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal untuk penyaluran bantuan air bersih. Selain itu, warga juga bergotong royong membuat sumur bor di beberapa titik.
Slamet berharap ada solusi jangka panjang agar masalah ini tidak terus berulang setiap musim kemarau, seperti pembangunan jaringan air bersih atau sumur bor dalam.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Tegal mencatat puluhan desa di wilayahnya masih mengalami kekeringan. Bantuan air bersih terus disalurkan secara bergiliran dengan memprioritaskan desa-desa yang paling parah, termasuk Jatinegara.
Bantuan juga datang dari Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pemalang yang menyalurkan air bersih kepada warga Desa Tamansari, Kecamatan Jatinegara, pada Selasa (4/11/2026). Administratur KPH Pemalang, Heri Nur Afandi, mengatakan bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap masyarakat di sekitar kawasan hutan yang terdampak kekeringan.
Selain menyalurkan air bersih, Perhutani juga berkomitmen melakukan pelestarian lingkungan, antara lain dengan menanam kembali pohon di kawasan hutan dan sempadan sungai untuk menjaga ketersediaan air tanah di masa depan.
Warga berharap hujan yang lebih deras segera datang agar sumur mereka kembali terisi. Namun, mereka juga meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan hujan, tetapi menyiapkan infrastruktur air bersih yang berkelanjutan.
Sumber: Disway Jateng, Radartegal.com