Kisah Air Mata Siti Khadijah yang Jatuh ke Pipi Rasulullah, Mengenang Perjuangan Seorang Wanita Nan Mulia
Desky Danuaji•
Seputar Bregas
SuaraPantura.com - Berikut ini Kisah Air Mata Siti Khadijah yang Jatuh ke Pipi Rasulullah.
Kisah Air Mata Siti Khadijah yang Jatuh ke Pipi Rasulullah ini sekaligus Mengenang Perjuangan Mulia Seorang Wanita yang sangat dicintai Rasulullah.
Adapun Kisah Air Mata Siti Khadijah yang Jatuh ke Pipi Rasulullah adalah sebagai berikut :
Mari kita mengingat sejenak tentang kisah istri Rasulullah, Siti Khadijah radliyallahu anha.
Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliky al-Hasani, mengisahkan betapa pengorbanan Siti Khadijah r.a. isteri tercinta Rasulullah SAW dalam mendukung perjuangan dakwah beliau.
Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah SAW pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda, "Wahai Khadijah tetaplah kamu di tempatmu."
Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.
Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.
Kemudian, Rasulullah Saw mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah.
Beliau pun terjaga. "Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?" tanya Rasulullah dengan lembut.
"Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.
"Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan." jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya.
"Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.
"Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.
"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.
Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat.
Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.
"Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijah al Kubra, Al-Fatihah."
Demikian dikisahkan dalam Kitab Al-Busyra, karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani.
Cerita di atas menggambarkan betapa besar pengorbanan yang dilakukan seorang istri yang bernama Khadijah untuk suaminya seorang utusan Allah yang kala itu sedang memperjuangkan agama Allah. Maka pantaslah jika pengorbanan yang dilakukan oleh Khadijah membuahkan hasil. Kita dapat melihat bagaimana hasil dari jerih payah beliau untuk memuliakan Islam, menjadikan Islam rahmatan lil'aalamiin. Kita juga dapat melihat kealiman dzurriyah Nabi.
Di sinilah peran seorang Khadijah sebagai istri dan sebagai ibu dipertaruhkan. Istri adalah kunci semangat untuk suami dan ibu adalah kunci semangat untuk anak- anaknya. Dan yang pasti wanita adalah kunci dari peradaban dunia ini. Itulah pengorbanan yang merupakan bagian dari "tirakat".Pengorbanan wanita yang luar biasa. Teramat pantas jika beliau mendapatkan gelar Ummul mukminin .
Wanita mulia yang tidak "kedunyan", yang menjadikan dunia ini sebagai washilah untuk berjuang di jalan Allah, washilah untuk meninggikan agama Allah. Wanita yang mencintai dengan segenap pengorbanan demi yang dicintai, demi mendukung perjuangan suaminya untuk memperjuangkan agama yang benar, demi menjaga kealiman dzurriyyahnya, beliau rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya.
Dan balasan Allah kepada Khadijah tak perlu diragukan lagi. "Surga telah menanti".Setiap hasil tak akan mengingkari usaha. Dan Allah adalah dzat yang selalu menepati janjiNya. ***