BNI Membidik Anak Sejak Usia 12 Tahun: Literasi Keuangan atau Regenerasi Nasabah?
Sabila JP•
Gaya Hidup
ilustrasi logo BNI. Foto:ist
Suarapantura.com - BNI menyebut wondrZ sebagai sarana literasi keuangan bagi anak dan remaja. Namun di balik narasi mendidik anak mengelola uang sejak dini, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah ini murni pendidikan finansial, atau sekaligus strategi bank membangun basis nasabah sejak usia 12 tahun?
Produk wondrZ memang dikemas dengan narasi yang menarik.
Anak diperkenalkan dengan rekening, transaksi digital dan kebiasaan menabung. Orang tua diberikan fasilitas untuk memantau transaksi secara real time.
BNI mencatat 2.196 pengguna wondrZ melakukan transaksi sejak produk tersebut diluncurkan pada pekan keempat Agustus hingga 30 September 2026 di wilayah kerja BNI Kantor Wilayah 18 Malang, mulai Pacitan hingga Banyuwangi.
Angka tersebut kemudian dipromosikan sebagai bagian dari respons positif masyarakat.
Tetapi ada pertanyaan yang layak diajukan:
Ketika bank mulai masuk ke kehidupan finansial anak sejak usia 12 tahun, siapa sebenarnya yang sedang dibentuk—anak yang semakin melek finansial atau calon nasabah yang mulai dibangun loyalitasnya sejak dini?
Usia 12 Tahun Sudah Masuk Ekosistem Perbankan
BNI menyebut wondrZ ditujukan bagi anak berusia 12 tahun ke atas.
Pada usia tersebut, seorang anak mulai memiliki kebutuhan finansial sendiri. Uang saku, pembayaran digital, belanja kebutuhan sekolah hingga transaksi online mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masuknya perbankan ke fase tersebut tentu dapat memberikan manfaat pendidikan.
Tetapi dari sisi bisnis, ada keuntungan lain yang tidak bisa diabaikan.
Ketika seorang anak mulai mengenal satu bank, menggunakan aplikasinya, memiliki rekening dan terbiasa dengan sistem transaksinya, maka hubungan dengan institusi keuangan tersebut juga mulai terbentuk.
Inilah yang membuat program semacam ini tidak hanya menarik dilihat dari sisi literasi, tetapi juga dari sisi strategi akuisisi nasabah jangka panjang.
Anak hari ini adalah pengguna produk.
Beberapa tahun kemudian mereka menjadi mahasiswa.
Setelah itu menjadi pekerja.
Kemudian membutuhkan rekening payroll, kartu debit, kartu kredit, pinjaman, investasi hingga produk keuangan lainnya.
Maka pertanyaannya menjadi sederhana:
Apakah bank sedang mendidik nasabah, atau sekaligus sedang menyiapkan nasabah untuk masa depan?
2.196 Pengguna, Bukan Sekadar Angka Literasi
BNI mencatat 2.196 pengguna dalam kurun sekitar satu bulan di wilayah kerja BNI Wilayah 18 Malang.
Angka tersebut memang menunjukkan adanya penggunaan produk.
Tetapi jumlah pengguna belum otomatis menunjukkan keberhasilan literasi keuangan.
Sebab anak bisa saja memiliki rekening dan mampu melakukan transaksi, tetapi belum tentu memahami cara mengelola uang.
Bisa menggunakan aplikasi tidak sama dengan paham keuangan.
Anak yang bisa melakukan pembayaran digital belum tentu mampu membedakan kebutuhan dan keinginan.
Anak yang bisa menabung belum tentu memahami tujuan menabung.
Anak yang bisa melihat saldo belum tentu memahami risiko menghabiskan uang.
Karena itu, ukuran keberhasilan program semestinya tidak berhenti pada berapa banyak anak membuka rekening atau melakukan transaksi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah setelah menggunakan wondrZ, perilaku keuangan mereka benar-benar menjadi lebih sehat?
Batas Rp500 Ribu Per Hari, Cukup untuk Siapa?
BNI menyebut transaksi wondrZ dibatasi maksimal Rp500 ribu per hari.
Orang tua juga dapat mengetahui transaksi anak dan melakukan pemblokiran jika dianggap berlebihan.
Namun batas Rp500 ribu per hari tetap perlu dilihat dalam konteks usia penggunanya.
Jika batas maksimal tersebut digunakan setiap hari, nominalnya secara matematis dapat mencapai sekitar Rp15 juta dalam 30 hari.
Tentu angka itu bukan berarti setiap anak akan menghabiskan Rp15 juta.
Namun pembatasan transaksi tidak otomatis menjawab persoalan literasi.
Sebab persoalan utamanya bukan hanya berapa banyak uang yang boleh dibelanjakan, melainkan apakah anak memahami kapan uang harus digunakan dan kapan harus disimpan.
Jangan Sampai Anak Belajar Konsumsi Lebih Cepat daripada Menabung
Ada sisi lain dari transaksi digital yang patut diperhatikan.
Uang tunai memberikan pengalaman psikologis yang berbeda.
Ketika uang fisik berpindah dari tangan, anak dapat melihat jumlah uangnya berkurang.
Dalam transaksi digital, pengalaman tersebut menjadi jauh lebih abstrak.
Beberapa kali menekan layar, transaksi selesai.
Tidak ada dompet yang terlihat kosong.
Tidak ada lembaran uang yang berpindah tangan.
Karena itu, tanpa pendidikan yang kuat, kemudahan transaksi berpotensi membuat aktivitas konsumsi terasa semakin sederhana.
Apalagi anak hidup di tengah ekosistem digital yang setiap hari dipenuhi iklan, marketplace, promosi, diskon dan berbagai bentuk ajakan belanja.
Di sinilah pendidikan finansial seharusnya tidak kalah agresif dibanding teknologi transaksinya.
Setiap transaksi anak dapat diketahui melalui notifikasi.
Fitur ini tentu membantu.
Tetapi jangan sampai fungsi orang tua akhirnya hanya berubah menjadi pengawas saldo.
Yang lebih penting adalah dialog.
Mengapa anak membeli sesuatu?
Apakah barang tersebut memang dibutuhkan?
Berapa uang yang harus ditabung?
Berapa yang boleh digunakan?
Apa target keuangannya?
Dan apa konsekuensi jika seluruh uang saku dihabiskan?
Tanpa proses tersebut, aplikasi hanya menjadi alat transaksi.
Bukan alat pendidikan.
Ada Kepentingan Bisnis yang Wajar, Tapi Harus Transparan
Sebagai perusahaan perbankan, BNI tentu memiliki kepentingan untuk memperluas basis nasabah dan mengembangkan ekosistem digitalnya.
Itu merupakan konsekuensi normal dari bisnis perbankan.
Namun ketika produk menyasar anak dan remaja, kepentingan bisnis tersebut perlu berjalan beriringan dengan perlindungan konsumen dan pendidikan finansial.
Sebab anak bukan konsumen dewasa dalam ukuran yang lebih kecil.
Mereka masih berada dalam tahap pembentukan kebiasaan.
Apa yang menjadi kebiasaan pada usia 12, 13 atau 14 tahun dapat memengaruhi cara mereka memandang uang pada usia berikutnya.
Karena itu, semakin dini produk keuangan diperkenalkan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan anak memahami konsekuensinya.
Siapa yang Diuntungkan dalam Jangka Panjang?
Jika anak tumbuh dengan satu aplikasi perbankan, satu rekening dan satu ekosistem finansial, hubungan tersebut berpotensi berlanjut ketika mereka dewasa.
Dari rekening anak bisa berkembang menjadi rekening pribadi.
Dari transaksi sederhana bisa berkembang menjadi berbagai produk keuangan lainnya.
Di sinilah istilah “regenerasi nasabah” menjadi relevan sebagai sebuah pertanyaan bisnis, meskipun bukan istilah yang digunakan BNI dalam promosi produknya.
BNI menyebut wondrZ sebagai sarana membangun kebiasaan finansial sehat.
Namun masyarakat juga berhak melihat sisi lainnya.
Berapa besar porsi pendidikan dibandingkan fungsi transaksi?
Bagaimana bank memastikan anak tidak terdorong menjadi konsumtif?
Bagaimana data dan aktivitas finansial anak dilindungi?
Seberapa aktif orang tua benar-benar terlibat?
Dan apakah keberhasilan program nantinya diukur dari jumlah pengguna atau perubahan perilaku finansial anak?
Jangan Sampai Literasi Hanya Jadi Label
WondrZ bisa saja menjadi sarana belajar finansial.
Tetapi produk perbankan bukan otomatis menjadi pendidikan finansial hanya karena digunakan oleh anak.
Literasi keuangan bukan kemampuan menekan tombol “bayar”.
Literasi keuangan adalah kemampuan memahami nilai uang, mengendalikan keinginan, menyusun prioritas, menabung, menghindari risiko dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Kalau semua itu berjalan, teknologi perbankan memang bisa menjadi alat pendidikan.
Tetapi jika yang tumbuh hanya kebiasaan bertransaksi, maka ada pertanyaan yang jauh lebih serius.
Jangan sampai anak diperkenalkan kepada bank bukan karena sudah memahami uang, tetapi justru agar sejak dini terbiasa menggunakan produk bank.
Pada akhirnya, masyarakat perlu melihat wondrZ dari dua sisi.
Di satu sisi ada narasi literasi keuangan.
Di sisi lain ada kepentingan bisnis membangun ekosistem dan basis nasabah.
Keduanya tidak harus bertentangan.
Tetapi justru karena menyasar anak-anak, transparansi mengenai tujuan, perlindungan, edukasi dan dampak penggunaan produk menjadi jauh lebih penting.
Sebab anak yang hari ini belajar menggunakan rekening, suatu hari akan menjadi orang dewasa yang menentukan ke mana uangnya mengalir.
Dan pertanyaan besarnya bukan lagi berapa banyak anak yang sudah memakai wondrZ, tetapi:
kebiasaan finansial seperti apa yang sedang dibentuk sejak mereka pertama kali mengenal bank?