WondrZ BNI Sasar Gen Z, Literasi Keuangan atau Justru Membentuk Anak Konsumtif Sejak Dini?
Sabila JP•
Gaya Hidup
Ilustrasi pelayanan Bank BNI. (Sumber: portalbalikpapan)
Suarapantura.com - Ribuan anak dan remaja mulai menggunakan wondrZ, produk BNI yang ditujukan untuk mengenalkan pengelolaan keuangan sejak dini. Namun di balik jargon literasi finansial, muncul sejumlah risiko yang patut dipertanyakan: apakah anak benar-benar belajar mengelola uang, atau justru sedang dibiasakan menjadi konsumen digital sejak usia muda?
BNI mencatat sebanyak 2.196 pengguna wondrZ melakukan transaksi sejak produk tersebut diluncurkan pada pekan keempat Agustus hingga 30 September 2026 di wilayah kerja BNI Kantor Wilayah 18 Malang, yang mencakup wilayah Pacitan hingga Banyuwangi.
Produk ini ditujukan bagi anak dan remaja berusia 12 tahun ke atas. Rekening anak terhubung dengan rekening orang tua sehingga aktivitas transaksi dapat dipantau secara real time.
Regional Business Support Head BNI Kantor Wilayah 18 Malang, Arif Setiyono, menyebut wondrZ sebagai sarana bagi anak untuk belajar mengelola keuangan secara mandiri.
Namun, pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak anak yang sudah memakai wondrZ, melainkan kebiasaan finansial seperti apa yang sedang dibentuk melalui produk tersebut?
Anak Belajar Menabung atau Belajar Belanja Digital?
BNI menyebut wondrZ dapat membiasakan anak menabung dan bertransaksi tanpa uang tunai.
Di sinilah persoalan menarik muncul.
Ketika anak sejak usia 12 tahun sudah memiliki akses terhadap transaksi digital, pengalaman finansial yang mereka dapatkan bukan hanya tentang menabung. Mereka juga belajar membeli barang, melakukan pembayaran dan menggunakan uang secara instan melalui perangkat digital.
Kemudahan tersebut memang dapat menjadi bagian dari pendidikan finansial.
Tetapi tanpa pendampingan yang memadai, kemudahan transaksi juga berpotensi membuat anak semakin mudah membelanjakan uang tanpa merasakan secara langsung proses “kehilangan” uang seperti ketika menggunakan uang tunai.
Uang digital hanya beberapa kali klik.
Tidak ada uang fisik yang berpindah tangan.
Tidak ada dompet yang terlihat semakin tipis.
Bagi anak yang belum memiliki pemahaman kuat mengenai kebutuhan dan keinginan, kondisi tersebut berpotensi membuat pengeluaran terasa lebih mudah.
Batas Rp500 Ribu, Apakah Benar-Benar Kecil?
BNI menyebut transaksi wondrZ dibatasi maksimal Rp500 ribu per hari dan orang tua dapat memantau transaksi anak secara real time.
Bagi orang dewasa, angka tersebut mungkin terlihat sebagai pembatasan.
Namun bagi anak usia 12 tahun ke atas, Rp500 ribu per hari bukan angka yang kecil.
Jika batas maksimal tersebut digunakan setiap hari, secara matematis nilainya bisa mencapai Rp15 juta dalam 30 hari.
Memang, batas transaksi bukan berarti anak akan menghabiskan uang sebesar itu.
Tetapi angka tersebut menunjukkan bahwa isu utama bukan hanya soal ada atau tidaknya batas transaksi.
Yang lebih penting adalah seberapa kuat kemampuan anak memahami nilai uang sebelum diberikan akses transaksi digital.
Orang Tua Bisa Memantau, Tapi Apakah Selalu Mengawasi?
BNI menonjolkan fitur pemantauan orang tua sebagai salah satu keunggulan wondrZ.
Setiap transaksi dapat diketahui dan akun anak disebut dapat diblokir apabila penggunaannya dianggap berlebihan.
Namun fitur pengawasan tidak otomatis berarti pengawasan benar-benar dilakukan.
Orang tua yang sibuk belum tentu memeriksa setiap notifikasi transaksi.
Bisa saja notifikasi masuk berkali-kali dan akhirnya hanya menjadi informasi yang dilewati.
Artinya, teknologi dapat menyediakan alat pengawasan, tetapi pendidikan finansial tetap membutuhkan keterlibatan manusia.
Anak tidak cukup hanya diberi rekening dan batas transaksi.
Mereka perlu memahami mengapa harus menabung, bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan, bagaimana membuat anggaran, serta apa konsekuensi ketika uang dihabiskan.
Risiko Lain: Anak Terlalu Dini Terpapar Budaya Konsumsi Digital
Digitalisasi keuangan membawa banyak manfaat, tetapi juga memiliki sisi lain.
Anak yang sejak dini terbiasa melakukan transaksi melalui aplikasi berpotensi semakin dekat dengan pola konsumsi digital: melihat barang, tertarik, lalu membeli hanya dalam beberapa langkah.
Jika literasi finansial tidak berjalan seimbang, teknologi pembayaran dapat berubah fungsi.
Dari alat pendidikan keuangan menjadi alat yang membuat aktivitas belanja terasa semakin mudah.
Risikonya bukan hanya pengeluaran berlebihan.
Ada pula potensi anak kurang memahami keamanan akun, pentingnya menjaga PIN dan kredensial, risiko penipuan digital, manipulasi sosial, hingga bahaya membagikan informasi pribadi.
Semakin dini seseorang masuk ke ekosistem keuangan digital, semakin dini pula kebutuhan edukasi mengenai keamanan digital harus diberikan.
Jangan Sampai “Melek Finansial” Hanya Berarti Bisa Transaksi
BNI menyebut wondrZ sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan generasi muda.
Namun ukuran keberhasilan literasi keuangan seharusnya tidak berhenti pada jumlah pengguna, jumlah transaksi atau kemampuan anak melakukan pembayaran secara digital.
Anak disebut melek finansial bukan karena bisa bertransaksi, melainkan karena mampu mengambil keputusan keuangan secara rasional.
Dan yang paling penting, memahami bahwa uang yang tersedia bukan berarti uang tersebut harus dihabiskan.
Pertanyaan Besarnya: Siapa yang Paling Diuntungkan?
Dengan 2.196 pengguna hanya dalam waktu sekitar satu bulan di wilayah kerja BNI Wilayah 18 Malang, produk tersebut menunjukkan adanya minat dari masyarakat.
Tetapi angka pengguna juga membuka pertanyaan lain.
Apakah pertumbuhan pengguna akan selalu identik dengan meningkatnya literasi finansial anak?
Atau justru terbentuk generasi yang sejak dini semakin terbiasa menggunakan layanan keuangan digital untuk bertransaksi?
BNI tentu memiliki kepentingan bisnis dalam memperluas ekosistem digital dan membangun hubungan dengan nasabah sejak usia muda.
Itu merupakan bagian yang wajar dalam industri perbankan.
Namun dari perspektif pendidikan, perlu ada batas yang jelas antara mendidik anak mengelola uang dan membiasakan anak menggunakan produk keuangan.
Keduanya tidak selalu sama.
Pada akhirnya, wondrZ bukan sekadar soal aplikasi, rekening atau batas transaksi Rp500 ribu.
Produk semacam ini menyentuh kelompok pengguna yang masih berada pada tahap pembentukan kebiasaan.
Karena itu, tantangannya bukan hanya bagaimana membuat anak mudah bertransaksi.
Tantangan sebenarnya adalah memastikan kemudahan tersebut tidak membuat anak semakin mudah menghabiskan uang.
Jangan sampai atas nama literasi keuangan, anak justru belajar satu hal yang paling mudah dari teknologi digital: cara berbelanja hanya dengan beberapa kali klik.