Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Studi: Mengapa Ibu Hamil Harus Bebas dari Stres? Ada Hubungannya terhadap Perkembangan Otak Janin

Tim Suara Pantura 02•
Gaya Hidup

 

SuaraPantura.com - Sebagian besar calon orang tua mengutarakan keinginannya agar sang anak lahir ke dunia dalam keadaan sehat.

Saat hamil, para ibu berusaha menjaga pola makan, mengkonsumsi vitamin, serta menghindari obat-obatan berbahaya. Namun, terdapat faktor lain yang sering terabaikan, yaitu stres selama kehamilan.

Meski kata "stres" sering kita dengar, namun ternyata definisinya cukup kompleks.

Dokter sekaligus penulis Explorations of the Mind, Thomas R. Verny, M.D., menyebut, stres pada ibu hamil ternyata dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan otak janin.

Polemik Ijazah Jokowi-Gibran Memanas, Peneliti BRIN Ingatkan Publik Jangan Lupakan Karhutla
Baca Juga · Gaya Hidup
Polemik Ijazah Jokowi-Gibran Memanas, Peneliti BRIN Ingatkan Publik Jangan Lupakan Karhutla

"Stres dapat diartikan sebagai tuntutan internal dan eksternal yang memerlukan penyesuaian. Stres menjadi berbahaya ketika mekanisme adaptasi tubuh gagal," tutur Verny sebagaimana dilansir dari Psychology Today, pada Rabu, 6 Agustus 2025.

Saat tubuh merasakan stres, kelenjar adrenal melepaskan hormon adrenalin dan noradrenalin ke dalam darah. Ini memicu respons “fight or flight” yang meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan gula darah, serta mengalihkan aliran darah dari organ dalam ke otot-otot besar.

Selain itu, stres memicu kerja sistem saraf simpatik dan menekan sistem parasimpatik yang berperan dalam istirahat, tidur, dan pencernaan.

"Pada ibu hamil, kondisi ini berarti janin akan menerima lebih sedikit oksigen dan nutrisi,” kata Verny.

Suarakan Karhutla, Viewers Tasya Farasya Anjlok hingga Akun Ustaz Adi Hidayat Kena Banned
Baca Juga · Gaya Hidup
Suarakan Karhutla, Viewers Tasya Farasya Anjlok hingga Akun Ustaz Adi Hidayat Kena Banned

"Respons ini baik jika seseorang sedang menghadapi bahaya, tapi tidak ideal bagi ibu yang mengandung," jelasnya.

Hasilnya, ibu hamil bisa mengalami gangguan tidur dan penyerapan nutrisi yang buruk, yang tentu berdampak pada janin.

Stres dalam waktu singkat biasanya tidak berbahaya karena tubuh memiliki mekanisme pemulihan alami. Namun, stres berat atau berkepanjangan, misalnya karena kehilangan pekerjaan atau tekanan hidup sebagai ibu tunggal dapat membuat tubuh terus memproduksi hormon stres seperti kortisol, adrenalin, dan noradrenalin.

"Tubuh ibu akan terendam hormon stres dalam waktu lama, dan janin ikut terkena dampaknya," ujar Verny.

Top Up DANA Rp10 Juta dari BCA Tak Masuk, Uang Sudah Terpotong: Nasabah Menunggu Kejelasan
Baca Juga · Gaya Hidup
Top Up DANA Rp10 Juta dari BCA Tak Masuk, Uang Sudah Terpotong: Nasabah Menunggu Kejelasan

Kadar hormon stres yang tinggi dan berlangsung lama ini terbukti berbahaya bagi perkembangan janin, khususnya otaknya. Otak janin yang sedang terbentuk memiliki susunan sel saraf yang harus mencapai lokasi tertentu sesuai peta genetiknya.

"Jika kortisol terlalu tinggi, jalur migrasi sel otak bisa salah arah dan koneksi menjadi tidak normal," tukas Verny menambahkan.

Hal tersebut menegaskan pentingnya dukungan bagi ibu hamil agar tidak mengalami stres berat. Menjaga kehamilan bebas stres bukan hanya soal kesehatan ibu, tetapi juga menyangkut masa depan anak.

Dengan perhatian yang tepat, risiko gangguan perkembangan otak janin dapat ditekan, sehingga anak lahir sehat dan siap tumbuh optimal.***

Tags:
#anak#stres#janin#ibu hamil
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…