SuaraPantura.com - Terkenal dengan pemegang budaya yang kuat, Jepang terkenal memiliki budaya harakiri atau bunuh diri karena menanggung rasa malu yang teramat besar atau untuk mengembalikan harga diri dan nama baik.
Kini ada kebiasaan baru di jepang, orang sudah tidak lagi melakukan bunuh diri namun lebih memilih menghilang tanpa jejak untuk kemudian mengasingkan diri mauoun pindah ke tempat baru dengan identitas dan kebiasaan baru. Kebiasaan ini disebut jouhatsu.
Orang menjadi jouhatsu karena beberapa alasan, termasuk depresi , kecanduan , ketidakpantasan seksual, dan keinginan untuk terisolasi. Jebiasaan baru ini bahkan sudah menjadi lahan bisnis baru bagi penyedia jasa Jouhatsu.
Kadang-kadang, itu digunakan untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga , hutang judi , pemujaan agama , penguntit , majikan , dan situasi keluarga yang sulit.
Rasa malu karena kehilangan pekerjaan, perceraian, dan bahkan gagal dalam ujian juga dapat memotivasi orang untuk menghilang.
Dalam beberapa kasus, menjadi jouhatsu adalah cara untuk memulai awal yang baru.
Ketika mereka menghilang, mereka dapat meninggalkan tempat tinggal, pekerjaan, keluarga, nama, dan bahkan penampilan mereka sebelumnya.
Istilah johatsu mulai digunakan pada tahun 1960-an. Pada saat itu, itu digunakan dalam konteks orang-orang yang memutuskan untuk melarikan diri dari pernikahan yang tidak bahagia daripada menjalani proses perceraian formal .
Selama tahun 1990-an, ekonomi Jepang jatuh , menyebabkan lonjakan johatsu dan bunuh diri karena banyak pegawai kehilangan pekerjaan dan/atau akumulasi utang.
Bisnis yang membantu jouhatsu disebut yonige-ya , yang berarti "toko yang buka di malam hari". Tempat -tempat ini relatif mudah diakses dan memiliki situs web sendiri.
Gimana Gaess,,, mau tertarik untuk ber- jouhatsu atau menghilang tanpa jejak?
Hihi...
***