SuaraPantura.com - Poligami menjadi pembahasan yg hangat belakangan ini. Sebenarnya Bukan hal yang baru. Diskusi & debat poligami sudah berlangsung ratusan Tahun yg lalu di Bumi Nusantara ini.
Pada zaman kerajaan, poligami menjadi hal yg lazim dilakukan oleh para raja, bahkan juga dilakukan oleh masyarakat umum. Jarang atau bahkan Tak ada yang berani menentang Raja, sebab biasanya kata-kata raja juga setara dengan Undang-undang, jadi Kritikus lebih hati-hati.
Adalah Kartini, Gadis Rembang yang gagasannya melebihi zamannya, sekitar tahun 1900-an melakukan gebrakan gebrakan pemikirannya melalui berbagai tulisan yg bahkan sampai bisa diterbitkan di Surat Kabar Eropa.
Salah satu gagasannya yaitu penolakan terhadap Poligami. Walaupun akhirnya dia dinikahkan dengan seorang pria beristri di kemudian hari atas tuntutan adat.
Begini kata Kartini, Agama menjauhkan kita dari dosa, tapi betapa banyak dosa dosa yang dilakukan atasnama AGAMA?. Hukum Islam memperbolehkan laki laki memperistri 4 orang, tapi aku selama-lamanya mengatakan bahwa perbuatan itu dosa! Segala perbuatan yang menyakiti sesamanya, maka dosalah di mataku. Bagaimana aku bisa hormat pada laki-laki yang sudah menikah namun membawa perempuan lagi ke dalam rumahnya?.
Kartini menganggap semua perbuatan yg menyakiti orang lain adalah berdosa.
Pada masa pra-kemerdekaan, Diskusi hangat dan alot pernah terjadi pula antara Bung Karno dengan H. Agus Salim. Bung Karno ngotot menentang Poligami, H. Agus Salim bersikeras memperbolehkan Poligami karena Islam membolehkan.
Keduanya bersikeras sehingga tak ada titik temu. Namun waktu yang kemudian menjawab. H. Agus Salim yg Pro poligami hingga akhir hayatnya tak melakukan Poligami. Sedangkan Bung Karno yang tegas menolak Poligami justru melakukan Poligami.
Sampai Disini, Jalian ikut yg mana Gaes?
Hihihi
***