Bak Layangan Putus, Ini Kisah Rifa Handayani Dengan Menteri Airlangga Hartarto Yang Viral
Tim Suara Pantura 01•
Gaya Hidup
SuaraPantura.com - Kisah seorang perempuan bernama Rifa Handayani yang mengaku menjadi selingkuhan Menteri yang disebut sebut sebagai Arlangga Hartarto kini semakin viral.
Rifa Handayani bahkan melaporkan kasusnya bersama menteri Airlangga hartarto ini ke polisi.
Entah akan ada drama apalagi nantinya, yang jelas banyak orang yang mulai mengaitkan kisah ini seperti serial Layangan Putus.
Yang terbaru, Sejumlah ruas jalan di Jakarta, Kamis pagi 6 Januari 2022, dihiasi dengan spanduk Selamatkan Rifa Handayani. Publik tentu bertanya-tanya, apa apa gerangan?
Spanduk selamatkan Rifa Handayani sendiri setidaknya terpantau redaksi di Jembatan Penyebrangan Orang (JPO), di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Begitu pula dengan pemandangan senada di sejumlah ruas jalan lain seperti di JPO Dewan Perwakilan Rakyat, Polda Metro, sampai Casablanca.
Menariknya, pada spanduk selamatkan Rifa Handayani itu, ditulis pula bahwa pembuat spanduk merupakan pihak yang mencintai webseries Layangan Putus. Dalam narasinya mereka berharap agar ada tindakan penyelamatan untuk Rifa Handayani.
Selidik punya selidik pembuat spanduk menganggap kisah Rifa Handayani ibarat webseries Layangan Putus. Sehingga dia dianggap perlu untuk diselamatkan.
Rifa sendiri belakangan dikait-kaitkan dengan isu selingkuh dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto. Dia juga dikenal sebagai ketua umum Partai Golkar.
Diketahui, belakangan Rifa Handayani memang tengah memperkarakan Menteri Airlangga Hartarto. Ini karena dia difitnah bersama suami memeras Airlangga lewat isu skandal selingkuh pada 2012 silam.
Rifa sendiri sudah membeberkan kisah skandal ini. Dia juga sudah melaporkan ke Polisi, untuk mengadukan apa yang bisa disebut sebagai dugaan pelanggaran hukum yang sangat mungkin dilakukan Airlangga dan istri.
Di mana, Rifa dan suami terus mendapat ancaman dan tudingan buruk sejak beberapa tahun.
Dalam video 'CINTA, RAHASIA, DAN POLITIK INDONESIA' yang dibahas pegiat media sosial Ade Armando di Cokro TV, kisah ini dibahas lengkap. Adapun sumber pembahasan Ade Armando, didapat dari pengakuan Rifa Handayani yang beredar luas di kalangan publik.
Dalam narasi yang disampaikan, kisah 'Layangan Putus' Rifa Handayani dan Airlangga Hartarto dimulai dari skandal percintaan pada 2012. Rifa Handayani selama ini tinggal di Jepang bersama suami. Mereka menikah pada 2009.
Pada 2012, sebulan sekali Rifa datang ke Jakarta. Dia berangkat sendiri karena suami tak begitu suka dengan keadaan di Indonesia. Pada 2012 itulah, Rifa Handayani kemudian berkenalan dengan Airlanga, pada momen sebuah konser Jennifer Lopez di Ancol.
"Selepas perkenalan Airlangga berinisiatif menghubungi Rifa. Dalam percakapan, Airlangga sering cerita ketidakbahagiaannya dengan istri. Dari sana akhirnya mereka tumbuh cinta, dan mereka selingkuh," kata Ade Armando dalam cerita yang diungkap Rifa ke publik.
Rifa mengaku mereka menjalani hubungan layaknya orang dewasa selama enam bulan. Namun, untuk pertemuan fisik, hanya ketika Rifa berada di Jakarta. Perselingkuhan itu kemudian terendus.
Pada 2013, Rifa mulai menerima teror dari nomor WhatsApp Airlangga Hartarto. Dia dimaki-maki, dituduh mengejar-ngejar Airlangga sampai ada kalimat ancaman 'Gue tunggu mayat lu'. Ancaman itu bukan datang dari dirinya. Airlangga menyebut yang mengancam adalah tetangga.
"Yang dimaksud tetangga adalah istrinya," kata Ade.
Suami ikut kesal Usai mendapat serangan bertubi, Rifa ingin agar hubungan itu putus. Dia berharap dirinya dan Airlangga dapat hidup normal dengan keluarga masing-masing. Namun serangan tetap saja diterima.
Bahkan Rifa diancam akan disiram air keras agar mirip dalam film Conjuring. Rifa Handayani yang takut lantas mengaku berselingkuh kepada suaminya. Ketika itu, sang suami marah besar.
Namun di kesempatan itu, dia ingin melindungi istrinya yang diancam. Singkat cerita suami Rifa langsung mengontak Airlangga. Dia meminta digelar pertemuan empat mata termasuk Rifa dan suami, serta Airlangga berserta istri.
"Permintaan suami Rifa dalam pertemuan itu, Rifa harus minta maaf pada istri Airlangga, begitu juga Airlangga harus minta maaf pada suami Rifa."
Namun, Airlangga menolak permintaan itu. Kuasa hukum Airlangga Hartarto jusru mensomasi suami Rifa dan dituduh mengancam. Suami Rifa Handayani dituduh memiliki agenda tertentu, dan hendak memeras Airlangga Hartarto.
Suami Rifa lantas melaporkan tindakan Airlanga ke Badan Kehormatan DPR akhir 2013. Dan sudah bisa ditebak, mereka cuek dan tak respons sampai sekarang. Ketika itu, mereka berniat untuk memperpanjang ke jalur hukum, namun dicegah Rifa karena kerumitan proses.
Diancam lagi Pada 2017, Rifa kembali mendapat fitnah. Disebutkan, bahwa ada sejumlah pihak yang menyebarkan tuduhan dia pernah memeras Airlangga Hartarto. Rifa juga disebut diam karena sudah mendapat uang sebesar Rp5 miliar.
Kali ini Rifa naik pitam dan marah. Sampai akhirnya 5 bulan lalu, salah satu kerabatnya kembali menyinggung hal itu. Dan sang suami Rifa memutuskan untuk mengakhiri fitnah tersebut.
"Mereka lalu siapkan strategi hukum dengan Pasal ITE. Rifa lalu datang ke Jakarta ke Komnas HAM, Polda, dengan menyebut dia dihina, diancam lewat WhatsApp dan di media sosial. Dia juga membawa semua barang bukti, tangkapan layar ancaman, dan pembicaraan dengan Airlangga."
Bagi Ade, bisa saja Rifa mengarang cerita, tapi publik juga tak juga bisa mengabaikan keberanian Rifa dengan segala bukti-buktinya.
Walau ditengarai bisa saja Rifa dimanfaatkan oleh kelompok yang kontra dengan Airlangga, namun pertimbangan hukum bagi Ade tetap perlu dikedepankan.
"Apakah AH memang selingkuh ini penting, dia pejabat yang punya peranan penting. Apakah AH tahu Rifa diteror, kenapa AH menolak pertemuan empat pihak, kenapa kuasa hukum AH malah mensomasi Rifa dan suami," kata Ade.
"Apakah Airlangga Hartarto memang terlibat penyebaran fitnah bahwa Rifa Handayani dibayar Rp5 miliar."
Bagi Ade, semua harus diklarifikasi oleh Airlangga, walau akan mengguncang politik di Indonesia, dan pasti merugikan Partai Golkar, Presiden Jokowi, dan mengganggu keluarga Airlangga sendiri.