SuaraPantura.com - Kebiri kimia adalah tindakan memberikan zat kimia untuk kemudian disuntikan untuk mengurangi hasrat seksual pada pelaku kriminal pelecehan seksual.
Orang yang pertama kali memperoleh hukuman kebiri kimia adalah Aris (20), pemuda asal Mojokerto yang terbukti melakukan pemerkosaan terhadap 30 orang anak pada tahun 2019.
Dasar hukum di Indonesia tentang penerapan kebiri kimia adalah PP No. 70 tahun 2020 tentang tata cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.
Peraturan itu merupakan turunan dari Pasal 81A ayat 4 dan Pasal 82A ayat 3 Undang-Undang No. 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.
Hukuman kebiri kimia adalah hukuman yang juga dijadikan salah satu tuntutan jaksa kepada Herry Wirawan, terdakwa kasus pemerkosa 13 santri di Bandung.
Cara Kerja Kebiri Kimia di Tubuh Pelaku Kejahatan Seksual
Kebiri kimia bekerja dengan cara mengurangi kadar testosteron di tubuh pria yang merupakan hormon utama penghasil hasrat dan fungsi seksual.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa para pria pelaku pelecehan seksual memiliki hormon seks (androgen) atau testosteron yang lebih tinggi, sehingga mereka sulit mengendalikan nafsu seksualnya.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa kebiri kimia diberlakukan sebagai salah satu hukuman bagi pelaku kekerasan seksual anak.
Selain dengan pemberian obat-obatan untuk menurunkan jumlah hormon testosteron, para pelaku kekerasan seksual anak juga akan menjalani psikoterapi guna mengendalikan hasrat seksualnya.
Dampak Jangka Panjang Kebiri Kimiawi pada Pria
Kebiri kimia umumnya dilakukan dengan cara menyuntikkan obat secara bertahap Beberapa jenis obat-obatan yang dapat digunakan untuk kebiri kimia adalah:
- Medroxyprogesterone acetate
- Cyproterone acetate
- Agonis Lutenizing Hormone Releasing Hormone (LHRH)
Ketiga jenis obat-obatan tersebut diketahui dapat menurunkan kadar testosteron dan estradiol. Estradiol sendiri adalah hormon estrogen yang dapat memengaruhi kekuatan tulang, kesehatan jantung, dan fungsi otak.
Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara kebiri kimia dengan beberapa penyakit, seperti osteoporosis, penyakit jantung, dan diabetes. Tak hanya itu, kebiri kimia juga dapat memberikan dampak lain, seperti:
- Ketidaksuburan
- Sensasi rasa panas, berkeringat, dan jantung berdebar (hot flashes)
- Anemia
- Depresi
Selain itu, kebiri kimia juga dapat meningkatkan risiko pembesaran payudara pada pria yang disebut dengan ginekomastia. Semakin lama kebiri kimia dilakukan, risiko munculnya efek samping juga akan meningkat.
Selain melalui kebiri kimia, psikoterapi juga perlu dilakukan terhadap pelaku kejahatan seksual terhadap anak guna mencegah terulangnya tindakan pelaku.
Kejahatan seksual menjadi persoalan sosial yang sedang ditangani secara serius ini perlu kita dorong agar kejadian serupa tak lagi terjadi.
Maka peran berbagai pihak harus dimaksimalkan demi menjaga lingkungan dari perilaku seksual yang negatif.
***