SuaraPantura.com - Arti thrift adalah barang bekas atau second import yang diperjual-belikan. Sedangkan thrifting merupakan aktivitas jual belinya..
Beberapa waktu belakangan ini, thrift dan aktivitas thrifting atau berbelanja produk-produk bekas sedang menjadi tren terutama di kalangan remaja.
Fenomena thrift atau thrifting ini sebenarnya sudah ada sejak lama, namun kian moncer karena pengaruh media sosial dalam berbagai platform.
Di toko thrift kita bisa menemukan barang yang masih bagus dan berkualitas. Meski barang bekas pakai, bukan berati kualitasnya buruk.
Di awal 2021, masyarakat umum khususnya remaja banyak yang mulai tertarik untuk mengulik kembali barang thrift.
Adapun jenis barang thrifting beraneka macam, mulai dari pakaian, sepatu, topi, dan lain-lain.
Biasanya konsumen thrifting banyak mencari barang-barang yang memiliki merek ternama. Misal saja Uniqlo, H&M, Crocodile, Carhatt, dan brand lain yang cukup terkenal.
Mereka cenderung menjadi kolektor atau sekadar penikmat thrift tersebut. Tentunya, thrifting memiliki kelebihan juga kekurangan.
Kelebihan thrifting
1. Barang masih dalam kondisi bagus (Good Condition)
2. Kebanyakan barang adalah produk import (Korea, Jepang, China, Myanmar, dan negara lainnya).
3. Harga murah
4. Banyak barang bermerek ternama
5. Limited editon, karena kebanyakan hanya 1 jenis barang saja
6. Bagi sebagian orang, memiliki barang thrift atau berburu thrift di pasar adalah kepuasan pribadi.
Kekurangan thrifting
1. Susah mencari size yang sesuai
2. Kerusakan/defect
3. Susah mencari model atau jenis barang yang diminati.
Sebelum fenomena thrifting ini gencar di masyarakat, banyak anggapan yang sesliweran bahwa thrift dianggap sebagai pakaian bekas, rongsok, murahan, dan tidak layak pakai.
Stigma tersebut banyak berdatangan karena masyarakat belum faham betul mengenai dunia thrifting, mereka hanya sebatas tahu barang second atau barang bekas saja, tanpa mengetahui banyak hal lebih di dalamnya.
Namun seiring berjalannya waktu, edukasi tentang thrift semakin meluas, hingga banyak dari mereka, khususnya anak-anak muda yang membuka dan merintis usaha Thrifting.
Kalau saja dilakukan survei, di Tegal sendiri dari Kabupaten maupun Kota kurang lebih 30 seller yang menjual barang thrifting. Lama kelamaan hal tersebut membentuk pasar tersendiri, dan jika kita mengamatinya setiap seller memiliki ciri khas barang yang dijualnya masing-masing.
Misalnya, si A ingin mencari jaket dengan merek Uniqlo, maka si A sudah tahu seller atau toko thrift mana yang menyediakan barang tersebut.
Kemungkinan fenomena thrift dan thrifting akan berlangsung lama, karena banyak yang tertarik baik untuk berbisnis atau menjadi konsumennya.
Namun alangkah baiknya kita juga perlu untuk memilah dan memilih untuk melakukan sesuatu, termasuk membuka usaha thrift atau sebagai konsumennya.
Untuk membuka bisnis thrift ini, tentu kita harus mempelajari brand atau jenis apa yang paling dibutuhkan. Dan yang paling penting adalah daya beli konsumen yang akan kita targetkan sebagai pembeli.*** (AS)