SuaraPantura.com - Mungkin anda pernah mendengar pepatah "Kuman diseberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak?"
Mari bersama-sama kita sindir diri kita sendiri dengan pepatah tersebut. Tapi.. Kalau belum juga tersindir, hati-hati saja, jangan-jangan memang kita tergolong orang yang suka mencari kesalahan oranglain serta pandai menutupi kesalahan diri kita sendiri.
Nah, termasuk juga ketika berurusan dengan pasangan hidup kita. Bisa jadi sebagai seorang suami barangkali kita sering menuntut tidak boleh ada kesalahan sedikitpun terhadap istri kita. Sedikit saja kesalahan istri kita, sudah seperti kotoran gajah yang ada didepan mata kita.
Sadar atau tidak dan ini juga bukan tuduhan, kita sebagai laki-laki memiliki rasa superioritas yang terkadang menjadi mahaguru yang dikedepankan untuk menyudahi problem rumahtangga. Jika sikap seperti ini terus dipertahankan, niscaya keutuhan rumahtangga akan sulit dipertahankan. Kalau tidak bisa dikatakan perceraian, kemungkinan terkecilnya adalah istri akan merasa menjadi mahluk kecil yang selalu duduk dibangku pesakitan.
Bisa jadi pada saat sebelum menikah, kita mungkin saja membayangkan akan duduk di singgasana ibarat seorang raja atau ratu yang akan dilayani dengan manis oleh pasangan kita. Minta apa saja, tinggal menyuruh sana-sini semuanya terpenuhi.
Kemudian yang terjadi, seusai akad nikah digelar dengan begitu mewah, ditambah bulan madu yang tidak terlupakan. Perlahan kondisinya mulai berubah, kemanisan, kemanjaan dan kenikmatan bercinta perlahan mulai meninggalkan kehidupan rumah tangga.
Ketika masa seperti itulah kita tersadar, dan kita mengetahui kalau kita bukan raja atau ratu lagi, kondisinya mulai berubah.
Setiap kesalahan, kekeliruan serta kekhilafan istri seakan menjadi noktah hitam yang senantiasa kita simpan dalam memori otak kita.
Dalam perjalanannya "Kuman diseberang lautan tampak" tapi karena kita sering mengoreksi orang atau mengumpulkan kesalahan oranglain, maka "Gajah dipelupuk mata tidak tampak".
Maka, didalam suatu hubungan suami istri yang harmonis itu adalah hubungan yang saling mengisi satu-sama lain. Masing-masing pihak tidak egois dengan sikapnya selama itu tidak melanggar syariat. Dari situlah benih cinta akan senantiasa terpupuk dengan baik sehingga melahirkan kesetiaan dan kesempurnaan.
***
Kutipan : Buku Merajut Kebersamaan Dalam Pernikahan, Lucky Rouf. Dengan sedikit penyesuaian.