SuaraPantura.com - Film Kukira Kau Rumah menjadi trending beberapa waktu yang lalu. Film tersebut tayang di bioskop dengan durasi 1 jam 30 menit. Film yang di sutradarai oleh Umay Shahab menduduki angka 1 juta lebih penonton Indonesia.
Film Kukira Kau Rumah dibintangi oleh Prilly Latuconsina yang berperan sebagai Nisakala dan Jourdy Pranata sebagai Pram.
Film Kukira Kau Rumah mengangkat isu tentang kesehatan mental, khususnya bipolar disorder. Film ini diiringi dengan backsound lagu Kukira Kau Rumah, dari musisi ternama Amigdala.
Cerita berawal dari sosok Pram. Ia ditinggal Ayahnya sementara Ibunya sibuk bekerja sehingga ia merasa kesepian karena hanya seorang diri di rumah. Atas dassr itu, Pram menekuni hobinya dengan bermain musik.
Ia suka menyanyi, mendengarkan musik, sampai memainkan alat musik gitar dan piano. Pram masih saja merasa kesepian, hingga ia memutuskan bekerja di cafe sebagai barista untuk mengisi kesehariannya.
Berbicara sosok Niskala, ia gadis yang selalu ceria. Namun ia berada dalam satu keluarga yang bisa dikatakan "Strict Parents". Ia sering mendapat tuntutan atau kekangan yang menjadikan ia merasa tidak bebas memilih jalan hidupnya.
Di perkuliahannya, ia memiliki dua teman karib, Dinda (Sheinna Cinnamon) dan Oktavianus (Raim Laode). Kedua temannya itu sangat menyayangi Niskala, juga mengetahui apa aja mengenai Niskala. Termasuk, gangguan mental (Bipolar) yang ia alami.
Di kampusnya, Niskala bertemu dengan Pram. Pada awalnya mereka bertemu tanpa ketidaksengajaan, namun Niskala dan Pram akhirnya sering bertemu dan berinteraksi bersama.
Hari berganti hari, Niskala dan Pram memiliki hubungan yang dekat, ia sampai berkunjung ke rumah Pram, melihat barang-barang serta alat musik yang Pram miliki.
Suatu hari, Niskala dan Pram tampil bernyanyi di sebuah cafe. Ia menampilkan lagu Kukira Kau Rumah secara duet song. Niskala dan Pram menikmati bait demi bait. Dari tampil di panggung pertama, mereka akhirnya tampil di panggung-panggung berikutnya.
Hal tersebut menjadikan dua temannya merasa terganggu karena mereka. Dinda dan Oktavianus yang biasa dipanggil Anus itu terpaksa harus berbicara dengan Ibu Niskala mengenai kedekatan Niskala dengan Pram, yang tentunya akan membuat geram orang tua Niskala.
Saat Pram mengantarkan Niskala pulang, ia bertemu dengan Oktavianus. Saat itu pula Pram dihajar Oktavianus, ia memukul dan memarahi Pram karena ia menganggap kehadiran Pram merusak diri Niskala.
Mengingat Niskala memiliki sisi Bipolar, ia sontak kambuh, ia mengamuk, menangis, tremor, dan sulit dikendalikan. Dinda dan Ibu Niskala mencoba untuk memberikan obat penenang dan memberi kendali untuk Niskala.
Setelah beberapa hari, Niskala kembali pulih dari traumanya. Ia akhirnya menghabiskan hari lagi bersama Pram. Pram meyakini bahwa ia mampu membersamai Niskala apapun kekurangannya. Ia tidak akan menyakiti, namun ia ingin melindungi.
Niskala dan Pram mendapat tawaran untuk duet di cafe ternama. Ia mempersiapkan diri sebaik mungkin. Niskala tampil cantik dan elegan di hari itu. Namun, hal buruk justru hadir di hari itu pula. Ayah dan Ibunya mendatangi cafe tersebut dengan ketidaksengajaan. Mereka hanya ingin melepas rindu di cafe tersebut. Namun, mereka justru melihat anaknya, Niskala sedang tampil di atas panggung bersama Pram.
Ayahnya mengamuk, memarahi dan membentak Niskala di depan umum. Ayahnya juga menghajar Pram sampai luka di bagian wajah dan tangannya. Niskala pergi dan menangis, ia naik tangga dan nyaris bunuh diri.
Di moment itu, Niskala marah terhadap Ayah dan Ibunya. Ia mengeluarkan semua apa yang ia rasakan, bahwa orang tuanya tidak pernah merasa bangga dan memberi ruang untuk Niskala berbahagia. Mereka selalu mengatur dan menuntut tanpa memberi jalan yang baik, bahkan Niskala hanya diberi obat penenang ketika ia sedang kambuh.
Di situlah Pram membujuk Niskala agar ia tidak melakukan bunuh diri, Niskala harus tetap ada dan berjuang untuk menjalani hari-harinya. Namun yang banyak disayangkan penonton, Pram justru yang pergi meninggalkan Niskala. Niskala berteriak saat melihat Pram nekad meninggalkannya, dan Ia benar-benar merasa kehilangan.
Film Kukira Kau Rumah ini menunjukkan bahwa pentingnya belajar untuk menghargai dan tidak menghakimi hidup orang lain.
Kukira kau rumah juga memberikan tamparan keras bagi masyarakat yang masih meremehkan kesehatan mental.
Film ini dapat meningkatkan kesadaran terkait isu kesehatan mental yang masih dipandang sebelah mata.*** (AS)