Oleh: Asyfa Suryani
Pegiat LPM Tanpa Titik IBN Tegal
SuaraPantura.com - Kesetaraan gender semakin berkembang pesat di era sekarang ini. Kesetaraan gender merujuk pada banyak hal, dimana antara laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan dalam memperoleh haknya baik dalam bersosial, berpolitik, berpendidikan, berdaya saing, termasuk hak untuk menikmati hasilnya.
Budaya memegang peran penting terhadap pandangan tentang perempuan yang bekerja. Dalam budaya Jawa, ada pepatah yang mengatakan bahwa perempuan hanya miliki tugas 3M (Macak, Masak, Manak).
Pepatah tersebut lambat laun membentuk opini bahwa tugas seorang perempuan hanyalah berdandan, melahirkan dan mengurus anak, serta memasak.
Meskipun telah dipaparkan dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (HAM) Pasal 49 ayat 1 bahwa perempuan berhak untuk memilih, dipilih, diangkat dalam
pekerjaan, jabatan, dan profesi sesuai dengan persyaratan dan
peraturan perundang-undangan, hal tersebut tidak merubah konsep bahwa pekerjaan perempuan hanya berputar pada urus mengurus rumah.
Selain itu, dalam budaya Jawa hak memperoleh pendidikan tinggi banyak diberikan kepada laki-laki dibandingkan perempuan. Bahkan ketika seorang perempuan sudah memiliki pendidikan tinggi pun hanya dipandang sebelah mata dan ditempatkan di posisi rumah.
Mereka memandang, menjadi ibu rumah tangga lebih baik daripada menjadi wanita karier. Adapun stigma yang menyatakan bahwa wanita karier tidak mementingkan jodoh maupun rumah tangganya hanya membuat kiprah perempuan menurun. Mungkin ada beberapa fakta, namun hal tersebut tidak menjadi alasan dominasi kuat bahwa menjadi wanita karier adalah hal yang salah.
Menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki dan menganggapnya tidak berhak untuk berkecimpung dalam dunia publik merupakan salah satu bentuk kungkungan terhadap
perempuan. Pandangan-pandangan terkait perempuan yang timpang saat ini masih banyak sekali dijumpai, terutama dalam masyarakat Jawa Budayaonal.
Mereka sangat memegang teguh keyakinan terhadap nenek moyang. Namun, sebagian dari mereka telah menerapkan teori kesetaraan gender dalam mendidik anak-anak mereka.
Menjadi career woman adalah impian yang didambakan oleh kaum perempuan sekarang ini. Hal mendasar yang memotivasi seorang wanita untuk menjadi wanita karier adalah potensi finansial yang akan didapatkan.
Mereka akan mendapatkan penghasilan sendiri dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang wanita. Selain itu, menjadi wanita karir dapat melatih skill dan kemandirian seorang wanita.
Menjadi wanita karier bukanlah hal yang buruk. Semestinya, banyak hal baik yang diperoleh. Di bawah dijelaskan beberapa hal yang mendukung wanita karier.
1. Membantu pendapatan dan ekonomi keluarga
Setiap wanita pasti menginginkan hidup mandiri. Termasuk mandiri dalam finansial. Nah dari karier inilah mereka dapat membantu ekonomi keluarganya dengan kecukupan finansial yang didapatkan.
Dengan begitu, maka tidak hanya mengandalkan satu sumber saja untuk mendapatkan penghasilan. Perempuan atau istri juga bisa membantu perekonomian tersebut.
2. Tidak ingin gelar sarjananya hanya berujung sia-sia, atau hanya sebatas title saja
Berpendidikan tinggi adalah sebuah kebanggan tersendiri. Orang tua berjuang dengan keras agar anak-anaknya bisa memperoleh pendidikan tinggi. Tak jarang, anak-anak perempuannya juga disekolahkan di perguruan tinggi bahkan hingga keluar negeri.
Seorang wanita lulusan dari perguruan tinggi, biasanya akan lebih memilih untuk bekerja ketimbang “di dapur”. Konsepnya sederhana saja. Mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk kuliah, sehingga setelah lulus dari perguruan tinggi, mereka ingin menerapkan apa yang telah dipelajari selama kuliah. Wanita tidak ingin perjuangan mereka untuk mendapatkan gelar saat kuliah selesai begitu saja.
3. Lebih percaya diri
Kemampuannya dalam bekerja dan merintis karier nya menjadikan perempuan lebih percaya diri dan memaksimalkan penampilan dirinya. Mereka lebih mampu untuk menciptakan rasa percaya dirinya karena terpengaruh dari karier yang dimilikinya.
4. Memiliki kemandirian
Tidak hanya mandiri finansial, namun mandiri dalam hidupnya di kesehariannya. Mereka tidak mau merepotkan orang lain, selalu berusaha menghadapinya sendiri, dan berdiri kokoh dengan kakinya sendiri.
5. Bisa membagi waktu
Karier dan bagian kehidupan lainnya adalah keseluruhan bagi dirinya. Umumnya seorang wanita karier sudah memiliki jadwal harian untuk membagi waktu antara waktu bekerja dan waktu untuk keluarga.
Pagi hari sebelum berangkat bekerja adalah waktu untuk mengurus rumah tangga. Setelah itu, para wanita karir akan berangkat bekerja. Sepulang bekerja di malam hari adalah waktu untuk quality time dengan keluarga. Ini adalah salah satu sisi positif seorang wanita karir. Bekerja memang penting, tetapi keluarga juga tak kalah penting.
Selain hal-hal yang sudah disebutkan di atas, masih banyak pula sisi positif yang bisa didapat dari wanita karier. Oleh karena itu, perlu disadari bahwa mindset yang modern juga diperlukan di era sekarang.
Tidak perlu lagi adanya stigma yang menjadi polemik maupun problematika bagi perempuan, antara karier dan rumah tangganya***.