SuaraPantura.com – Afasia merupakan Gangguan berkomunikasi akibat adanya kerusakan pada otak. Dikutip dari Everyday Health, gangguan afasia ini bisa mempengaruhi kemampuan berbicara, menulis serta kemampuan mendengar.
Selain itu, penderita Afasia akan kesulitan untuk memahami perkataan orang lain bahkan dirinya sendiri.
Gangguan ini menyebabkan penderitanya kesulitan menggunakan dan memahami kata-kata.
Penderita Afasia akan mempunyai masalah untuk memahami dan membaca kata-kata tertulis, memahami percakapan, menulis kata, serta menggunakan angka.
Gangguan Afasia dapat terjadi secara tiba-tiba setelah penderita mengalami cedera kepala atau stroke.
Akan tetapi, afasia juga dapat terjadi secara bertahap jika disebabkan oleh demensia atau tumor otak.
Seseorang dapat mengalami Afasia ringan, seperti mempengaruhi satu aspek komunikasi, misalnya sulit menggabungkan kata-kata menjadi kalimat, sulit menyebut nama suatu objek, atau kemampuan untuk membaca.
Ada juga kondisi dimana Afasia sangat parah, sampai tidak dapat berkomunikasi dengan si penderita tersebut.
Tingkat gangguan Afasia tergantung pada sejumlah faktor, seperti seberapa parah kerusakan pada otak sang penderita.
Oleh karena itu, dokter perlu mencari penyebabnya. Lalu melanjutkan terapi dan pengobatan secara bersinambungan.
Dukungan dari keluarga pun sangat diperlukan penderita afasia selama proses penyembuhan.
Penyebab Afasia
Afasia bisa terjadi saat bagian otak yang mengatur kemampuan berbahasa, mengalami kerusakan akibat penyakit atau cedera.
Kerusakan tersebut termasuk tumor otak, stroke, atau cedera otak traumatik.
Afasia berkembang secara bertahap pada penderita gangguan saraf progresif.
Pengobatan awal Afasia berfokus untuk mengobati penyakit yang mendasarinya. Misal pada pasien stroke, dengan tujuan melancarkan aliran darah yang menuju otak untuk mengobatinya.
Terapi bahasa dan wicara dapat dilakukan tepat setelah produser pengobatan tersebut.
Gejala yang bisa dikenali pada pasien afasia kemungkinan sulit untuk:
• Membaca secara benar
• Menulis secara benar
• Memakai kata-kata yang tepat, penderita afasia seringkali mengucapkan kata-kata yang salah
• Mengungkap kalimat lengkap, sebagian besar penderita afasia hanya memakai kata kerja dan kata benda
• Mengingat kata-kata tertentu
• Mengartikan bahasa abstrak
• Mengenali dan mengatasi masalah
• Memahami isyarat non-verbal
• Memproses informasi visual
• Mempelajari informasi baru
• Fokus pada apa yang dia katakan
• Tetap berada pada satu topik dalam suatu percakapan
• Memberi petunjuk
• Mengikuti petunjuk
• Mengingat kenangan
• Menceritakan peristiwa secara berurutan
• Menggunakan ekspresi yang tepat
Gangguan Afasia dapat berdampak buruk pada kualitas hidup seseorang. Bahkan tak jarang yang memilih untuk memisahkan diri dari keluarga dan teman-temannya.
Sebagian dari mereka juga menderita kecemasan dan depresi akibat gangguan Afasia ini.
Akan tetapi, ada terapi yang dapat membantu untuk mengembalikan keterampilan berbahasa bagi penderita afasia ini.
***